1 Timotius 4:7-8  Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

Dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada Timotius, sebagai seorang bapa rohani, rasul Paulus banyak memberikan nasihat kepada anak didiknya yang ditugaskan sebagai seorang gembala di kota Efesus. Nasihat-nasihat yang diberikannya ini mencakup kehidupan pribadi dan pelayanan Timotius, arahan-arahan mengenai berbagai urusan dan persoalan penggembalaan di gereja, dan dorongan untuk tetap mempertahankan kemurnian Injil dengan standarnya yang kudus, bebas dari berbagai pencemaran. Surat di atas adalah salah satu surat yang sengaja dikirimkan kepada Timotius berkaitan dengan banyaknya pengerja dan pelayan Tuhan yang awalnya memiliki komitmen yang tinggi kepada Tuhan disertai dengan karunia rohani yang luar biasa, namun kemudian murtad dari iman mereka dan beralih menjadi penyesat dengan ajaran-ajarannya yang palsu (ay. 1).

Salah satu penyebab terjadinya kemunduran iman yang demikian luar biasa adalah derasnya arus dunia yang sulit untuk dibendung. Dunia datang dengan segala keinginannya, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, bahkan dunia tidak segan-segan merangsek masuk ke dalam gereja Tuhan dengan menawarkan segala bentuk kenikmatannya. Nasihat rasul Paulus ini ditujukan kepada gereja Tuhan yang ada di kota Efesus. Efesus merupakan sebuah kota yang besar di wilayah Roma dengan daya tarik duniawinya yang sangat luar biasa. Kota perdagangan yang dipenuhi kuil-kuil penyembahan, baik kepada kaisar maupun dewi Artemis ini juga sarat dengan berbagai hiburan penuh kebejatan. Berbagai tawaran dan fasilitas yang tersedia menjadikan Efesus sebagai salah satu daerah tujuan yang menarik, baik bagi para pedagang maupun wisatawan, termasuk juga para penyesat dengan segala pengajaran dan filsafat-filsafatnya yang kosong, yang bertujuan untuk mengelabui umat Tuhan.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan, melalui suratnya ini, rasul Paulus menasihatkan agar umat Tuhan sungguh-sungguh melatih diri mereka untuk beribadah. “Melatih diri” yang dimaksud di sini bukanlah sekedar bisa melakukan saja, melainkan  terus-menerus mengerjakannya hingga menjadi terampil dan berhasil mencapai maksud dan tujuan dari apa yang dikerjakannya tersebut. Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita memasuki minggu terakhir di bulan Juli ini. Setiap kita, gereja Tuhan, diperhadapkan dengan kenyataan yang sedang terjadi di dunia ini. Arus dunia dan penyesatan begitu deras mengalir dan masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan rohani. Kita sudah tidak bisa berpuas diri dengan sekedar memiliki status sebagai orang Kristen atau seorang yang suka beribadah saja, melainkan apakah kita juga sudah menjadi seorang yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, yaitu menjadi orang-orang yang terlatih dalam Kristus.

Apa yang dimaksud dengan melatih diri beribadah?

(1). Memiliki tujuan yang jelas

1 Kor. 9:26  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

Apakah perbedaan antara pemain sepak bola profesional dengan seorang yang sekedar bisa atau gemar bermain sepak bola? Sekilas pandang nampak tidak ada bedanya, keduanya sama-sama bisa memakai baju kesebelasan yang sama, bisa berlari membawa bola di lapangan berumput hijau dan bisa memasukkan bola ke dalam gawang. Perbedaan nyata akan terlihat jelas ketika mereka benar-benar diterjunkan ke dalam sebuah pertandingan sepak bola yang sesungguhnya. Ada perbedaan mencolok antara pemain sepak bola profesional yang sejati dengan orang yang hanya sekedar bisa bermain. Setiap orang mungkin bisa memainkan bola, tetapi untuk bisa bermain layaknya seorang pemain sepak bola profesional terkenal dibutuhkan tujuan yang jelas, kedisiplinan serta kemauan yang serius. Belum lagi berbicara soal jumlah waktu yang harus dikorbankan untuk berhasil menjadi seorang pemain yang terampil.

Seorang atlet dapat berlatih sedemikian keras dan serius hanya untuk suatu tujuan yang tidak kekal. Sehebat-hebatnya prestasi seseorang, suatu hari akan berkurang juga kekuatannya. Tubuh jasmani kita dapat menurun seiring dengan bertambahnya usia. Inilah saatnya kita melatih dii untuk sesuatu yang dapat bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Kebugaran jasmani memiliki kegunaannya sendiri, namun kebugaran rohani dapat membawa kita kepada garis akhir di kekekalan sorgawi.

Rasul Paulus dalam surat-suratnya, berulang kali menganalogikan perjalanan kerohanian seseorang seperti seorang atlet peserta lari yang berada di sebuah gelanggang pertandingan, dimana sang atlet harus melatih dirinya (NKJV: mendisiplinkan dirinya) sedemikian rupa dan berlari ke arah tujuan untuk menerima mahkota yang abadi. Rasul Paulus bukanlah seorang motivator yang hanya bisa memotivasi orang lain saja, namun ia pun menunjukkan keteladanannya dengan cara melatih dirinya sendiri sedemikian rupa dalam mengejar pengenalan akan Allah dan sungguh-sungguh menjalin hubungan dengan Tuhan, sehingga ia mengenal tujuan ilahi dan panggilan sorgawi atas dirinya.

(2). Hindari makanan yang tidak bergizi

1 Tim. 4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

Seorang atlet yang baik bukan hanya tahu tujuan profesinya dan bagaimana harus berlatih dengan benar, namun juga harus tahu asupan makanan yang baik bagi tubuhnya. Atlet profesional yang menerima pembayaran yang tinggi atas prestasinya, ternyata juga harus berani membayar mahal seorang ahli gizi yang dapat memberikan masukan yang benar mengenai apa yang harus ia makan bagi kebugaran tubuhnya.

Rasul Paulus menasihatkan Timotius bahwa salah satu penyebab jatuhnya iman orang-orang percaya adalah ketika mereka membiarkan dirinya menerima segala macam kecemaran, sebagai misal, masih digunakannya prinsip-prinsip kepercayaan nenek moyang yang pernah mereka anut sebelum mengenal Kristus, masih mempercayai mitologi-mitologi atau mitos-mitos yang  beredar di masyarakat luas ketika itu, mengingat Efesus adalah kota yang sarat dengan penyembahan kepada segala jenis dewa maupun dewi. Firman Tuhan berkata dengan tegas dalam 1 Tim. 4:7 (AMP):  “Tolaklah dan hindari segala macam legenda-legenda, kisah-kisah yang bukan dari Tuhan yang mencemari dan yang tidak murni, dongeng-dongeng nenek moyang, mitologi-mitologi yang bodoh. Ekspresikan ketidaksetujuanmu akan semua itu. Latihlah dirimu beribadah, dan jaga rohanimu agar tetap bugar.”

Semua prinsip itu bukan hanya tidak sesuai dengan prinsip kekristenan, namun lebih tegas lagi, bertolak belakang dengan kekudusan Tuhan dan bertentangan dengan perkataan firman Tuhan, yang pada akhirnya hanya akan meruntuhkan iman percaya seseorang. Ingatlah, jangan menghabiskan waktu kita dengan memasukkan segala jenis sampah. Itu tidak akan memberikan keuntungan apa-apa sama sekali.

Umat Tuhan, sebagai “atlet-atlet” rohani, milikilah tujuan yang jelas, yaitu menyelesaikan pertandingan dengan baik, ada iman yang harus kita pelihara. Ada garis akhir yang harus kita capai untuk menerima mahkota kekal. Oleh sebab itu, latihlah diri kita dan berlarilah sedemikian rupa. Ada makanan bergizi yang menjadikan kita kuat, yaitu perkataan yang keluar dari mulut Allah yang didapat melalui sebuah kedisiplinan dan keintiman hubungan.

Tuhan Yesus memberkati!

28 Juli 2013 – Latihlah Dirimu Beribadah (Membuat Pilihan Yang Benar Bag. 5)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>