Yakobus 1:18-25 (19) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

Kebanyakan orang umumnya memiliki kecenderungan lebih besar untuk berbicara daripada mendengar, karena dengan berbicara orang dapat mengutarakan isi hatinya, sedangkan saat mendengar orang hanya menerima informasi dari lawan bicaranya. Salah satu mata pelajaran penting yang diajarkan di sekolah kepribadian adalah seni berkomunikasi, dimana siswa diajar memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk menyampaikan sesuatu pesan sedangkan ia sendiri harus memberikan perhatian untuk mendengarkannya, demikian pula sebaliknya. Namun, pada kenyataannya, tanpa disadari kita seringkali memotong atau menginterupsi pembicaraan lawan bicara kita, karena tidak cukup sabar untuk mendengarkan hingga orang itu menyelesaikan seluruh perkataannya.

Melalui ayat di atas Yakobus sedang mengajarkan orang-orang percaya bukan hanya sekedar mengenai seni berkomunikasi, mendengar dan berbicara, melainkan mengajarkan umat Tuhan perihal penundukan yang benar terhadap perkataan firman Tuhan yang berkuasa. Bukan hanya sekedar menyediakan telinga untuk mendengar (to hear) firman Tuhan yang sedang disampaikan, namun menyediakan telinga dan hati yang bersih untuk mendengarkan (to listen) firman Tuhan tersebut untuk kemudian melakukannya. Dengan kata lain, Yakobus sedang mengajarkan suatu sikap penundukan yang benar dari seseorang terhadap perkataan Tuhan (teachable spirit).

Lagi-lagi Tuhan menyampaikan sebuah pesan dalam konteks yang sama selama beberapa minggu terakhir ini kepada kita. Artinya, Tuhan sedang menitikberatkan suatu pelajaran penting untuk kita pahami dengan baik. Kali ini Tuhan mau kita lebih banyak mendengarkan perkataan-Nya daripada mengumbar perkataan-perkataan tidak penting yang keluar dari mulut kita. Cobalah untuk mengingat, berapa banyak perkataan sia-sia yang keluar dari mulut kita, dibandingkan dengan menyediakan hati dan telinga untuk merenungkan, mendengarkan arahan dan petunjuk Tuhan dalam keseharian kita.

Di tengah ketidakmengertiannya dalam memenuhi panggilan Tuhan untuk pergi ke negeri yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya, Abraham memilih untuk terus “memasang telinga” agar menangkap arahan demi arahan dari Tuhan yang terus menuntunnya. Dan Tuhan tidak hanya berbicara melalui mezbah-mezbah yang didirikan Abraham bagi Tuhan, namun juga melalui langkah demi langkah sepanjang perjalanan Abraham. Yang diperlukan adalah kesiapan dan kerelaan hati untuk mau senantiasa mendengarkan.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:

(1). Tanggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pendengaran kita

Yakobus 1:21  Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Menurut makna aslinya, yang dimaksud dengan membuang segala sesuatu yang kotor adalah kesediaan untuk mengeluarkan kotoran lilin (wax) dari telinga. Lubang telinga yang jarang dibersihkan akan menghasilkan sejenis zat menyerupai lilin yang dapat menghalangi telinga untuk berfungsi dengan baik sebagai indera pendengaran. Makna rohani dari ayat tersebut adalah kerelaan membuang segala ‘sampah’ dan ‘kotoran’ yang tersimpan di dalam hati kita untuk kemudian menggantinya dengan menerima dan memasukkan dengan lemah lembut firman Tuhan yang berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita.

Seringkali, entah disadari atau tidak, seseorang membuka lebar-lebar pintu hatinya tanpa filter dan memasukkan segala hal yang tidak perlu, bahkan membiarkan segala hal yang jahat dan kotor masuk dan bertumpuk menjadi sampah di dalam hatinya. Asupan yang salah tersebut kemudian dikeluarkan kembali melalui perkataan-perkataan yang keluar dari mulut, yang tentu saja sama buruknya dengan apa yang ada dalam hatinya (input menghasilkan output). Seperti kata firman Tuhan, yaitu bahwa perkataan yang jahat keluar dari perbendaharaan yang jahat pula, demikian pula sebaliknya. Hal-hal inilah yang acapkali menghalangi kemampuan seseorang untuk dapat mendengarkan setiap perkataan yang ingin Tuhan sampaikan, dengan baik dan akurat. Oleh sebab itu, mari kita belajar menutup pintu untuk segala hal yang tidak berguna dan yang jahat dan mulail mengisi bejana hati kita dengan perkara-perkara ilahi.

(2). Menyediakan waktu bagi Tuhan

Yesaya 30:15  . . . “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, . . .  .

Perkataan yang disampaikan Tuhan melalui nabi Yesaya kepada bangsa Israel ini berawal dari niat bangsa itu untuk mencari pertolongan kembali kepada Mesir, saat mereka sedang berada di tengah kesesakan. Padahal, bukankah Israel mempunyai pengalaman masa lalu yang buruk dengan Mesir. Bahkan sepertinya bangsa Israel lupa bahwa kekuatan Mesir sudah dilumpuhkan oleh kekuatan Tuhan. Bangsa Israel bersikeras mencari persekutuan dengan Mesir meski Tuhan sudah memperingatkan bahwa itu merupakan tindakan yang sia-sia. Bukannya mencari Tuhan, Israel malah kian mengumbar keluhan dan kata-kata ketidakmengertian atas apa yang mereka alami. Sesungguhnya, Tuhan sangat tahu apa yang sedang dialami umat-Nya, oleh karena itu, melalui Yesaya, Tuhan sudah memberikan tuntunan, yaitu agar mereka berdiam diri dan tinggal tenang di hadirat Tuhan, karena di sanalah Tuhan mau memberi arahan dan kekuatan bagi mereka, tetapi mereka enggan memberikan hati dan telinganya kepada Tuhan.

Seringkali apa yang dilakukan umat Israel ini tidak jauh berbeda dengan sebagian umat Tuhan di masa sekarang yang cenderung memilih untuk mengobral dan menceritakan masalahnya ke sana sini, mengeluh kepada banyak orang atas ketidakadilan yang ia rasakan, lebih mengadukan perkaranya kepada banyak pihak, daripada datang kepada Tuhan, duduk diam di kaki-Nya dan mendengarkan setiap perkataan-Nya. Dalam banyak hal, Tuhan sesungguhnya sudah banyak memberikan jawaban, namun seringkali umat-Nya terlalu sibuk berbicara dan mencari pertolongan dari manusia.

(3). Diam dan bertindaklah

Keluaran 14:15-16  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah . . .  .

Menanggapi bangsa Israel yang terus-menerus berseru meminta pertolongan Tuhan dan kepada Musa yang kepadanya Tuhan telah banyak berbicara, maka kini saatnya Tuhan memerintahkan mereka semua untuk berhenti berbicara dan mulai bertindak sesuai perkataan Tuhan. Tuhan menyuruh Musa mengulurkan tongkat yang ada di tangannya yang seringkali digunakan untuk menyatakan kuasa Tuhan ke arah bentangan laut Teberau. Dan hari itu seluruh bangsa Israel menyaksikan bagaimana laut yang sedemikian luas itu terbelah mengikuti perkataan Tuhan melalui perantaraan Musa.

Ada waktunya kita berbicara dan menyatakan permohonan kita kepada Tuhan, ada waktunya kita berdiam diri di kaki Tuhan untuk mendengarkan tuntunan dan arahan-Nya, namun jangan lupa bahwa ada waktunya kita juga harus bertindak dan melakukan setiap perkataan yang kita dengar dari-Nya. Bangsa Israel lupa bahwa hanya terus berseru-seru saja tidaklah cukup, diperlukan tindakan nyata berdasarkan apa yang sudah Tuhan katakan.

Umat Tuhan, sudah begitu banyak Tuhan berbicara kepada kita minggu demi minggu, bahkan hari lepas hari Ia memberikan jawaban atas segala hal yang kita hadapi, namun seringkali kita tidak memerhatikannya bahkan terus berkata-kata tentang banyak hal. Tetapi saat ini Tuhan berpesan agar kita mengurangi perkataan-perkataan hampa yang keluar dari mulut kita, dan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendengar suara-Nya, dan kemudian bertindak sesuai tuntunan-Nya.  Yak. 1: 25  . . . jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Tuhan Yesus memberkati!

24 Februari 2013 – Sedikit Bicara, Banyak Mendengar (Teachable Spirit Bag. 6)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>