Roma 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Surat Roma merupakan sebuah surat yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Roma yang sarat dengan muatan teologis dibandingkan dengan surat-suratnya yang lain. Setelah pembeberan teologis yang begitu padat di sebelas pasal pertama dari surat Roma, rasul Paulus kemudian menekankan bahwa semua pengetahuan akan kebenaran itu akan menjadi sia-sia apabila tidak dilanjutkan dengan pengaplikasian kebenaran itu di dalam kehidupan sehari-hari. Rasul Paulus berpendapat  bahwa kita belum bisa disebut sebagai seorang yang mengerti kebenaran sampai kita sendiri melakukan kebenaran yang kita peroleh itu. Dan melalui pembaharuan di dalam pikiranlah umat Tuhan dapat menuangkan pengetahuan yang mereka miliki menjadi suatu kehidupan yang berdampak nyata bagi sesama. Pembaharuan di dalam pikiran bahkan membuat orang percaya dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan kehendak Allah.

Kalimat “Jangan menjadi serupa dengan dunia” merupakan suatu kalimat perintah yang sangat ditekankan oleh rasul Paulus kepada jemaat Tuhan, karena makna kata “serupa” (Ing. Conform, to be molded, atau Yun. Suschematizo) memiliki arti yang pasif, yaitu apabila orang percaya memilih untuk diam dan tidak mau secara aktif mengubah atau mentransformasi pikirannya dengan pikiran Tuhan, maka segala pemikiran dunia beserta dengan prinsip-prinsipnya akan segera tercetak secara otomatis di dalam pikiran orang percaya. Hal inilah yang membuat orang percaya sulit untuk menjadi pelaku firman, karena untuk bisa mempraktekkan firman harus terlebih dulu diawali dengan perubahan pikiran. Dan hal ini pulalah yang pada akhirnya akan mengakibatkan “kebutaan” orang percaya dalam memahami kehendak Tuhan.

Pesan inilah yang disampaikan Tuhan kepada kita minggu ini, bahwa betapa pentingnya semua orang percaya mengalami pembaharuan pikiran secara aktif. Keengganan orang percaya untuk mentransformasikan pikirannya dengan pikiran Tuhan akan membuat hal-hal yang dari dunia secara otomatis akan segera menjadi perbendaharaan pikirannya, dan ini akan membuatnya sulit untuk menangkap hal-hal yang ilahi dari Tuhan, pikiran dunia tidak dapat menerima hal-hal yang dari Tuhan. Inilah yang membuat banyak orang percaya yang meskipun sama-sama menerima pesan dan kebenaran firman Tuhan, namun akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud dan rencana Tuhan.

Hari-hari ini, Tuhan sedang terus menerus menyampaikan pesan-Nya kepada kita bahwa Ia memiliki rencana yang besar dalam hidup kita. Akan tetapi, apabila hal itu diresponi dengan pikiran yang belum dibaharui maka hal itu hanya menjadi sesuatu hal yang sulit dimengerti dan sulit untuk dijalani. Seandainya pikiran Nuh belum diperbaharui dan kemudian ia menerima perintah dari Tuhan untuk membangun sebuah bahtera dengan ukuran yang demikian besar, maka respon yang dilakukan Nuh mungkin hanyalah berdiam diri sambil berpikir bahwa ia baru saja mendengarkan sebuah kebohongan besar yang disampaikan Tuhan.

Oleh sebab itu, hal-hal yang perlu kita perhatikan agar pikiran kita tidak menjadi serupa dengan dunia, sehingga dengan mudah dapat menangkap perkara ilahi dari Tuhan di antaranya adalah:
(1). Mentransformasi pikiran dengan kebenaran

1 Pet. 2:1-2  Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,

Kata “berubah” (Ing. Transform, Yun. Metamorpoo/metamorfosa) dalam kalimat “berubahlah oleh pembaharuan budimu” memiliki arti mengalami perubahan dengan mengganti sosok pribadi yang lama dan mengenakan sosok pribadi yang telah dibaharui, seperti layaknya proses perubahan metamorfosa seekor kecebong menjadi seekor katak, dimana katak sudah tidak bisa kembali menjadi kecebong lagi. Kata ‘metamorfosa’ di atas merupakan kalimat aktif masa sekarang (present continuous tense) yang artinya perubahan itu terjadi hari lepas hari tanpa henti, dimana pemeran perubahan itu adalah kita sendiri dengan pertolongan Tuhan.

Hukum perubahan pikiran mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita masukkan adalah sama dengan apa yang nantinya dikeluarkan. Adalah sesuatu yang mustahil apabila kita mengharapkan sesuatu yang ilahi lahir dari pemikiran kita, padahal hal-hal yang dimasukkan sebelumnya bersifat duniawi (garbage in – garbage out/masuk sampah – keluar sampah). Jika pemikiran kita selama ini kerap diisi dengan hal-hal yang duniawi, kedagingan, hawa nafsu, kenajisan atau hal-hal yang tidak ilahi lainnya, maka perlu dilakukan suatu tindakan pertobatan dengan memperbaharui pikiran dengan mulai mengisinya dengan pikiran Tuhan. Melalui ayat di atas rasul Petrus mengajarkan bahwa setiap orang percaya harus membuang segala kejahatan dan tipu muslihat, dan mulai mengisi dirinya dengan “air susu yang murni dan ilahi” yaitu kebenaran firman Tuhan. Menaburkan kebenaran firman Tuhan masuk ke dalam hati kita, maka akan menghasilkan kekuatan spiritual yang sanggup mentransformasikan hidup kita menjadi ciptaan yang baru. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula.

(2). Memercayai dengan konsisten apa yang telah Tuhan katakan

Kej. 37:10  Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?”

Setelah menerima mimpi yang dari Tuhan dan menceritakannya kepada seluruh anggota keluarganya bahwa ia suatu hari akan menjadi seorang penguasa dimana ayah dan ibunya serta kesebelas saudara-saudaranya akan sujud menyembah kepadanya, Yusuf mengalami tegoran keras dari ayahnya dan juga serangkaian cemoohan dari saudara-saudaranya. Mereka semua tidak ada yang memercayai pesan ilahi yang diterima Yusuf dari Tuhan. Menurut pemikiran mereka sangatlah tidak mungkin seorang seperti Yusuf akan mengalami peninggian yang demikian luar biasa hingga mereka semua harus sujud menyembah kepadanya.

Ketika suatu hari Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya kepada pedagang Ismael yang kemudian menjualnya kembali kepada Potifar di Mesir, sesungguhnya sangatlah beralasan bagi Yusuf untuk membuang semua mimpinya dan merenungi nasib sialnya saat itu. Dari seorang anak kesayangan orangtuanya menjadi seorang budak belian bahkan pernah pula menjadi seorang narapidana di sebuah penjara tanpa sebab. Namun ternyata keadaan seburuk apapun tidak membuat Yusuf menjadi putus asa, ia tetap bersikap sesuai visi yang ia terima dari Tuhan, yaitu bahwa ia akan menjadi seorang penguasa yang takut akan Tuhan. Hal inilah yang membuat Yusuf menutup telinganya untuk mendengar segala hal-hal negatif yang hanya akan melemahkan kepercayaannya kepada Tuhan dan janji-Nya.

Mari umat Tuhan, akan ada lebih banyak lagi janji Tuhan diberikan kepada kita dan pekerjaan-Nya yang besar yang Ia akan percayakan kepada kita. Dibutuhkan pikiran yang terus menerus dibaharui sehingga kita dapat dengan mudah menerima dan memercayai janji ilahi yang mungkin terdengar sangat tidak mungkin di telinga kita.

Tuhan Yesus memberkati!

18 Mei 2014 – Pembaharuan Pikiran

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>