Kolose 4:5-6 (5) Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. (6) Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Sebagai orang percaya kita tidak ditempatkan Tuhan di sebuah pulau yang dihuni oleh hanya orang Kristen saja. Kita ditempatkan Tuhan di lingkungan yang berbeda-beda, bercampur dengan berbagai jenis orang, baik yang sudah percaya kepada Kristus maupun yang belum. Tentu saja Tuhan punya alasan mengapa kita ditempatkan di suatu lingkungan tertentu. Namun, satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa Tuhan mau kita menjadi pribadi yang dapat memberikan suatu “rasa” kepada orang lain dan menuntun mereka kepada Sang Pemberi rasa tersebut.

Hari-hari ini dunia terasa begitu hambar, dingin, menakutkan dan membosankan. Banyak ditemukan orang-orang yang tidak tahu tujuan hidupnya. Ada kekosongan di hati mereka yang tidak dapat diisi oleh apapun yang ada di dalam dunia ini. Meski mereka mencoba mengisinya dengan berbagai cara yang dianggap terbaik, namun sebenarnya kekosongan itu tetap ada dan rasa hambar dan dingin itu tidak kunjung hilang. Sebagian orang merasa yakin bahwa jalan menuju keselamatan kekal adalah dengan cara melakukan teror dan memaksa orang lain untuk setuju dengan kehendaknya. Namun akhirnya, kesia-siaanlah yang mereka peroleh.

Paulus menggunakan istilah “orang-orang luar” untuk membedakannya dengan kita, orang percaya yang sudah ada di dalam Kristus Yesus. Orang-orang luar adalah mereka yang belum percaya kepada Yesus Kristus dan yang hingga kini masih mencari jalan keselamatan. Oleh sebab itu, kita yang sudah memperoleh keselamatan harus memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum percaya dengan cara menjalani gaya hidup yang penuh dengan rasa. Namun sayangnya, saat ini banyak orang percaya yang hidupnya justru mengalami kehambaran juga. Mereka telah kehilangan rasa yang sebenarnya telah Sorga berikan.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Bagi orang yang dilahirkan di bumi nusantara khususnya, dan di wilayah Asia umumnya, masakan khas dari daerah masing-masing yang begitu kaya dengan berbagai rasa, bukan hal yang asing lagi. Rasa itu datang dari berbagai jenis tanaman darat maupun hasil laut yang kemudian diolah menjadi puluhan bahkan ratusan macam bumbu. Tuhan berpesan, seperti itulah seharusnya kehidupan orang percaya yang Tuhan kehendaki. Sebagai warga Kerajaan Sorga sepatutnya kita memberikan berbagai warna dan rasa ilahi kepada dunia ini karena sesungguhnya Tuhan telah memberikan berbagai rasa itu kepada kita. Oleh sebab itu, janganlah kita hidup dalam kehambaran.

Orang yang hambar hidupnya adalah orang-orang yang:
(1). Tidak antusias lagi dengan kebenaran firman Tuhan

Bil. 21: 5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” 

Yang dimaksud bangsa Israel dengan makanan hambar itu adalah manna, yaitu makanan yang menopang orang Israel dalam pengembaraan mereka di padang gurun, “… warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.” (Kel. 16:31). Orang-orang Israel mengungkapkan rasa kecewa dan marahnya kepada Musa yang telah membawa mereka keluar dari Mesir, yang berarti mereka sedang melawan dan menentang Tuhan. Mereka merasa bosan dan muak dengan makanan yang sama, yang setiap hari dikirim Tuhan dari sorga. Manna atau roti sorga adalah gambaran dari firman Tuhan, makanan rohani bagi orang percaya. Seperti ada tertulis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4).

Dewasa ini banyak di antara orang-orang percaya yang berperilaku seperti bangsa Israel ini, merasa bosan dan muak dengan makanan rohani. Firman dan khotbah sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang menggairahkan hati, bahkan cenderung menjadi penghalang. Teguran Tuhan melalui firman-Nya yang seharusnya mendatangkan kebaikan, justru membuat mereka menjadi marah, sakit hati dan tersinggung. Ini menunjukkan bahwa orang-orang seperti itu masih mencintai “jubah Mesir” dan enggan mengenakan “jubah yang baru.” Mesir adalah gambaran dari kehidupan kedagingan.

(2). Tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya

Mat. 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Pada masa lalu di Israel, garam diproses dengan cara menguapkan air yang berasal dari Laut Mati. Air tersebut mengandung bermacam-macam zat lain selain garam. Proses penguapan air tersebut menghasilkan kristal-kristal garam dan juga potasium klorida dan magnesium. Kristal-kristal garam itu lalu dikumpulkan dan menghasilkan garam yang relatif murni, karena pada saat proses penguapan, yang pertama kali terbentuk adalah kristal-kristal garam. Namun, apabila garam yang dihasilkan melalui proses penguapan itu tidak segera dipisahkan, dan kristal-kristal garam itu terpapar embun, larut dan luluh, maka yang tersisa hanyalah rasa tawar sedangkan rasa asinnya hilang, sehingga garam itu tidak berguna lagi. Apakah yang dapat dilakukan dengan garam yang sudah tidak asin lagi itu? Tidak ada gunanya selain dibuang!

Kita dipilih Tuhan tentu dengan suatu tujuan yang jelas, yaitu memberi “rasa” kepada dunia. Orang-orang di dunia saat ini sedang mencari jawaban atas berbagai problema yang terjadi di dalam hidup mereka, termasuk jalan keselamatan. Bersyukur kepada Kristus atas anugerah-Nya, bahwa kita memiliki jawaban atas semua yang dicari oleh dunia tersebut. Namun sayangnya, banyak orang percaya saat ini yang terlalu sibuk dengan “dunianya” masing-masing. Para ayah sibuk dengan pekerjaannya, ibu dengan urusan rumah tangganya, dan anak-anak dengan permainannya. Banyak orang percaya yang akhirnya lupa dengan tujuan semula keberadaannya. Hari-hari ini dunia sedang memerlukan peran kita sebagai gereja Tuhan yang memberi rasa.

Mari umat Tuhan, firman Tuhan berkata bahwa ketika orang-orang percaya mulai menjadi hambar, bukankah hal itu sama dengan garam yang tidak memiliki rasa asin lagi. Dan apa yang dikatakan Tuhan untuk garam yang demikian? Tidakkah ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Sungguh suatu akhir yang menyedihkan.

Tuhan Yesus memberkati!

17 Januari 2016 – Hidup yang penuh dengan rasa

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>