Hagai 1:6-8 Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.

Hagai menyampaikan pesan ini kepada bangsa Yahudi yang baru kembali ke Yerusalem setelah masa 70 tahun pembuangan Babel. Sekembali dari pembuangan, bangsa Israel harus menghadapi tugas membangun kembali Bait Allah yang telah dirobohkan. Rombongan yang baru kembali ini sebenarnya telah melakukan pekerjaan awal mereka, yaitu dengan membersihkan puing dan reruntuhan bangunan lama serta meletakkan batu fondasi bagi rencana pembangunan Bait Allah yang baru. Namun sayangnya, ada pihak-pihak yang mencoba mengancam dan menghalangi proses pembangunan tersebut, sehingga akhirnya perkerjaan itu menjadi terhenti.

Tanpa terasa enam belas tahun waktu telah berlalu sejak kepulangan orang-orang Yahudi, membuat kota Yerusalem dipenuhi kembali. Rumah-rumah tinggal telah didirikan, tempat-tempat usaha dibuka, ladang-ladang ditanami benih, kehidupan seolah-olah telah kembali berjalan normal. Namun di balik semuanya itu, mereka merasakan bahwa mereka menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; mereka makan, tetapi tidak sampai kenyang; mereka minum, tetapi tidak sampai puas, dan sebagainya (ayat 6). Mereka tidak menyadari bahwa pembangunan Bait Allah lama belum dilanjutkan kembali. Fondasi yang telah diletakkan jauh hari sebelumnya telah ditumbuhi dengan alang-alang. Sampai akhirnya nabi Hagai muncul di tengah-tengah mereka dengan membawa pesan dari Tuhan, bahwa inilah waktunya menyelesaikan pembangunan Bait Allah kembali.

Sebetulnya pesan yang disampaikan nabi Hagai ini berisi tentang apa yang sesungguhnya harus diprioritaskan oleh bangsa Yahudi sebagai umat Tuhan. Bait Allah pada waktu itu adalah pusat penyembahan kepada Allah. Tempat itu bagaikan “jiwa dan raga” para pemercaya di zaman Perjanjian Lama. Meskipun benar Allah hadir di segala tempat, namun Bait Allah merupakan sebuah tempat di bumi di mana Allah menetapkan kehadiran-Nya secara khusus. Membiarkan Bait Allah tetap dalam reruntuhan merupakan sebuah kelalaian umat Tuhan dalam menyembah kepada Allahnya. Bahkan hal itu termasuk hal yang mempermalukan Tuhan dan penghinaan terhadap reputasi-Nya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Banyak orang-orang percaya yang mengalami “makan tetapi tidak sampai kenyang.” Hal ini tidak selalu berarti berbicara tentang kemiskinan, namun ini bisa berarti tentang ketidakmaksimalan seseorang dalam menjalani kehidupan. Sepertinya sedang mengejar atau merindukan sesuatu, namun tidak atau belum mencapai apa yang dikejarnya. Melalui pesan ini, kita diingatkan bahwa inti permasalahannya adalah soal mengatur prioritas dalam menjalani kehidupan. Seringkali umat Tuhan sibuk, namun bukan sibuk untuk hal-hal yang sifatnya membangun kehidupan rohani, tetapi sibuk untuk perkara-perkara diri sendiri.

Bagaimana kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang dapat mengatur prioritas hidup kita seperti yang Tuhan kehendaki?

(1). Berhenti untuk membuat alasan

Hagai 1:2  “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!”

Yang pertama-tama dilakukan oleh nabi Hagai adalah mengkonfrontasikan bangsa Yahudi yang terus membiarkan Bait Allah tetap dalam puing-puing. Penyebabnya adalah karena mereka kerap memberikan alasan mengapa mereka belum menyelesaikan pembangunan. Dan alasan yang digunakan adalah alasan yang begitu rohani sehingga siapapun yang mendengarnya tidak akan berani mendesaknya lagi. Mereka kerap berkata bahwa sesungguhnya mereka sangat rindu untuk membangun kembali Bait Allah, karena bukankah Allah harus berdiam di dalam sebuah bait yang megah. Namun sayangnya, belum tiba waktu Tuhan bagi mereka membangunnya. Bahkan mereka menambahkan bahwa bukankah Tuhan mau mereka mengurus kehidupan pribadi mereka terlebih dahulu.

Ternyata tanpa disadari manusia mudah membuat banyak alasan ketika mereka ada di dalam keadaan tidak taat kepada Tuhan. Manusia mudah memberikan alasan yang paling rasional dan mudah diterima sesama ketika enggan melakukan apa yang Tuhan kehendaki, di antaranya adalah dengan berkata bahwa: “Saatnya belum tepat untuk melakukan sekarang”, “Saya akan fokus pada keluarga dahulu”, dan lain-lain. Namun nabi Hagai mengingatkan bahwa langkah pertama untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan adalah dengan mengakuinya bahwa tugas itu adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan.

(2). Berhenti menjadi egois

Hagai 1:4  “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?

Nabi Hagai sedang memberikan sebuah perbandingan terhadap bangsa Yahudi yang sedang sibuk membangun rumah tinggal mereka dengan kondisi Bait Allah yang belum nampak. Kondisi rumah tinggal yang mereka bangun telah dipapani lantainya dengan lantai kayu yang terbaik, sedang Bait Allah tetap dalam kondisi fondasi yang masih dikelilingi oleh alang-alang. Hal ini jangan disalahartikan dengan menganggap salah memiliki tempat tinggal yang baik. Namun ini dapat berarti bahwa kadang kita tidak menyadari bahwa kita lebih berani mengeluarkan sesuatu untuk hal-hal yang berguna bagi diri pribadi kita, dibandingkan mengeluarkan sesuatu untuk hal-hal sifatnya membangun kehidupan rohani.

Kadang orang percaya juga tidak menyadari, waktu-waktu yang diluangkan untuk kesenangan diri pribadi dan kesenangan lainnya seringkali lebih banyak dihabiskan, apabila dibandingkan dengan waktu-waktu yang diluangkan untuk bersekutu dengan Tuhan.

Mari umat Tuhan, bukannya Tuhan hendak membatasi ruang gerak kita, namun sesungguhnya Tuhan hendak memaksimalkan hidup kita lebih lagi di hadapan-Nya. Dan itu dapat dialami ketika kita memberikan prioritas yang benar terhadap hal-hal yang dikehendaki Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

15 Januari 2017 – Memprioritaskan Pembangunan Bait Suci

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>