Lukas 3:4-6 (4) seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. (5) Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,

Pembangunan jalan raya agar layak dilewati oleh seorang kepala negara yang akan berkunjung ke suatu wilayah bukan hanya terjadi di zaman sekarang, dari sejak masa yang silam pun praktek serupa itu sudah ada. Di masa itu, apabila seorang raja akan berkunjung ke suatu daerah, seorang utusan akan dikirim terlebih dahulu untuk memberitahukan tentang kedatangannya dengan maksud agar penduduk setempat mempersiapkan diri dengan baik. Salah satu hal yang dipersiapkan oleh rakyat untuk menyambut kedatangan sang raja adalah membenahi jalan yang akan dilewatinya.

Jika kondisi jalan berlubang, becek, bergunung-gunung, berliku-liku dan sebagainya,  maka kepala daerah akan meminta seluruh warganya agar mempersiapkan jalan bagi raja yang akan lewat tersebut. Semua orang tentu akan dimobilisasi untuk segera melakukan perbaikan di setiap jalan di wilayahnya masing-masing. Ada yang mengangkut batu dan pasir untuk menimbun jalan yang berlubang, ada yang memapas jalan yang bergunung-gunung, ada juga yang bertugas merapikan segala hal yang dianggap semrawut, dan lain-lain.

Dengan menggunakan metafora atau gambaran ini, tujuh ratus tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, melalui nabi Yesaya, Tuhan menubuatkan tentang pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai seorang utusan yang menyerukan agar orang di masa itu mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias, Raja yang datang untuk membebaskan umat-Nya. Tentu yang dimaksud bukanlah jalan dalam arti sebenarnya seperti ilustrasi “jalan” di atas. “Jalan” di sini hanya sebagai kiasan atau perumpamaan saja, karena pada jaman itu belum ada lalu lintas yang terlalu macet, dan kondisi jalannya pun relatif sudah cukup baik, khususnya jalan-jalan yang menuju ke arah kota Roma.

Inti dari berita yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis sebenarnya sangatlah sederhana namun sangat penting, yaitu kabar pertobatan dalam rangka mempersiapkan diri menyambut kedatangan Sang Mesias yang akan menegakkan Kerajaan Allah di atas muka bumi.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan rindu melawat kita umat-Nya di dalam setiap kehidupan pribadi kita masing-masing. Ada penghalang-penghalang jalan yang akan Ia ratakan. Sambil Tuhan melakukan bagian-Nya, ada juga bagian yang harus kita lakukan, yaitu menimbun setiap lembah, meratakan setiap gunung dan bukit, meluruskan jalan yang berliku-liku maupun yang berlekuk-lekuk. Apa yang dimaksud dengan itu semua?

(1). Menaikkan standar kebenaran ke tingkat yang sebenarnya

Luk. 3:5 Setiap lembah akan ditimbun …

Tindakan pertama yang harus kita lakukan adalah menimbun setiap lembah. Karena lembah adalah lekukan permukaan tanah yang lebih rendah dari dataran di sekitarnya, maka ia merupakan gambaran dari sisi kehidupan manusia yang lebih rendah dari tolok ukur atau standar kehendak Tuhan. Ini merupakan realita yang tak dapat disangkali. Adalah suatu kenyataan bahwa masih banyak sisi kehidupan orang percaya yang masih berada di bawah standar yang Tuhan tetapkan. Hubungan dalam rumah tangga, hubungan dengan sesama, dengan kolega di pekerjaan, pelayanan kepada Tuhan, dan masih banyak aspek kehidupan lainnya yang kadang masih jauh di bawah standar yang dikehendaki Tuhan bagi umat-Nya.

Hidup di bawah standar kehendak Tuhan ini dapat terjadi karena berbagai alasan. Kelalaian dalam memelihara kehidupan rohani, dosa yang disembunyikan, kepahitan hati yang masih disimpan, ketidakbersediaan untuk mengampuni orang lain, dan berbagai sikap buruk lainnya yang tak sesuai dengan kehendak Tuhan, dapat menjadi penyebab dari hidup yang lebih rendah atau berada di bawah kehendak Tuhan.

(2). Merendahkan hati yang masih tinggi

Luk. 3:5 …, setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, …

Apabila lembah merupakan permukaan tanah yang lebih lebih rendah dari dataran di sekitarnya, maka sebaliknya, gunung dan bukit berbicara tentang permukaan tanah yang lebih tinggi dari dataran di sekelilingnya. Kondisi ini merupakan gambaran dari ketinggian hati dan perasaan diri selalu benar. Kedua sikap ini seperti bukit dan gunung, bukan saja mencerminkan sikap tinggi hati seorang terhadap sesama, namun bisa juga terhadap Tuhan. Sikap-sikap inilah yang pada akhirnya menjadi penghalang bagi orang untuk mengalami sesuatu yang luar biasa dari Tuhan.

Sikap tinggi hati dan merasa diri selalu benar merupakan kondisi kehidupan yang acapkali tidak disadari oleh orang yang hidup di dalamnya. Tak jarang orang yang congkak merasa dirinya tidak congkak, demikian juga tak sedikit orang yang merasa dirinya selalu benar, tidak menyadari bahwa ia tidaklah seperti yang sedang dirasakan. Hal ini sebetulnya sama dengan orang yang sakit namun tidak merasa dirinya sakit, bahkan justru menyangka bahwa orang lainlah yang sedang sakit.

Kecongkakan dan rasa diri selalu benar akan membuat seseorang bersikap penuh kritik terhadap orang lain dan menolak karya Tuhan yang ingin membawa dirinya kepada kebenaran. Kedua sikap ini akan menjadi penghalang yang sangat serius bagi orang untuk berjumpa dengan Tuhan, sebab perjumpaan dengan Tuhan menuntut kerendahan hati.

Umat Tuhan, masih banyak lagi hal-hal yang harus kita “ratakan” dan “luruskan.” Bukankah kita rindu untuk mengalami lawatan ilahi lebih lagi di dalam hidup kita? Biarlah masing-masing pihak melakukan bagiannya. Sambil Tuhan mempersiapkan lawatan-Nya bagi kita, mari kita pun mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

07 Mei 2016 – Meratakan Jalan Untuk Lawatan Tuhan

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>