Efesus 5: 8- 13 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Efesus bahwa setelah mereka hidup di dalam Kristus, hendaknya kehidupan yang mereka jalani tidak lagi sama dengan kehidupan lama mereka. Meskipun proses kelahiran baru seseorang terjadi melalui iman di dalam hati orang percaya, namun dampak dari kelahiran baru itu harus nyata terlihat dalam kehidupan lahiriah. Dan perubahan yang terjadi seharusnya bukanlah sekedar tidak lagi melakukan perbuatan kegelapan seperti yang pernah dilakukan di masa lalu, melainkan melakukan perbuatan yang baru, yaitu perbuatan yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Semakin derasnya curah hujan di akhir tahun ini mengakibatkan beberapa wilayah yang sering terkena banjir melakukan langkah antisipasi dengan membentengi daerah luapan air dengan menggunakan karung-karung pasir, dengan tujuan agar bila hujan deras terjadi, air hujan itu tidak dapat melampaui batas-batas yang sudah ditimbuni oleh karung-karung pasir tersebut. Sebaliknya, daerah yang tidak menggunakan karung-karung pasir sebagai pembatas akan mudah diterjang air hingga dapat mengakibatkan banjir.

Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan orang-orang percaya, bahwa sampai hari ini Tuhan terus berbicara mengenai perlunya orang percaya untuk tetap memiliki garis batas yang tegas antara kehidupan yang lama dengan kehidupan yang baru, yaitu memisahkan batas kehidupan kegelapan masa lalu dengan kehidupan sekarang sebagai anak-anak terang di dalam Kristus. Tujuannya agar kehidupan yang lama tidak melanda yang baru dimana prinsip-prinsip yang berasal dari dunia tidak menghimpit prinsip-prinsip yang berasal dari Kerajaan Sorga.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, bahwa ketika Tuhan mau setiap kita menjadi terang bagi dunia, khususnya di Tahun Kerelaan Memberitakan Injil Kerajaan Sorga ini, baiklah semua itu dimulai dari diri pribadi setiap kita anak-anak Tuhan terlebih dahulu. Ada garis batas yang harus “ditarik” dengan tegas, agar prinsip-prinsip yang tidak berasal dari Tuhan tidak bercampur aduk di dalam kehidupan orang percaya. Ketika itu dilakukan, maka dengan sendirinya terang itu akan muncul ke permukaan, sehingga nampak jelas terlihat oleh dunia.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk dapat memiliki garis batas yang tegas adalah:
(1). Bersekutu dengan orang-orang yang tepat

Ef. 5: 7  Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.

Rasul Paulus menasehati jemaat Efesus untuk menjadi penurut-penurut Allah, yaitu orang-orang percaya yang mau menjadi imitator-imitatornya Tuhan dalam hal kesediaan untuk berjalan dalam kebenaran firman Tuhan, seperti yang Yesus ajarkan. Salah satu kerinduan rasul Paulus melalui suratnya ini adalah agar jemaat yang telah ditebus oleh kematian Yesus di atas kayu salib dapat mengalami suatu pertumbuhan rohani yang baik.

Salah satu fondasi bagi orang percaya agar bertumbuh dengan benar adalah mengkonsumsi makanan yang sehat. Pada waktu itu, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang di sekeliling jemaat Efesus yang masih mendasari hidupnya dengan berbagai-bagai rupa kecemaran, percabulan dan keserakahan. Apabila jemaat Efesus tidak menarik satu garis batas yang tegas, maka bukan mustahil prinsip-prinsip yang dimiliki oleh orang-orang dunia tersebut akan “merembes” masuk ke dalam kehidupan orang-orang percaya.

Tujuan rasul Paulus melarang mereka berkawan dengan orang-orang tersebut bukan dalam artian tidak boleh bergaul ataupun menjalin hubungan sama sekali, melainkan berhubungan namun tidak mengambil bagian dalam perbuatan ataupun menerima  prinsip-prinsip yang bertentangan dengan kebenaran yang sudah diajarkan (Yun. Summethokos), termasuk meminta nasehat, maupun menyetujui tindakan orang-orang tersebut. Sebaliknya, justru keberadaan kita sebagai pemercaya adalah memengaruhi orang-orang tersebut dengan nilai-nilai ilahi yang benar.

(2). Belajar untuk selalu mencari hal-hal yang bisa menyenangkan hati Tuhan

Ef. 5: 10  dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan (AMP: And try to learn what is pleasing to the Lord {let your lives be constant proofs of what is most acceptable to Him})

Salah satu doa yang dipanjatkan rasul Paulus kepada Tuhan untuk jemaat di Efesus adalah agar mereka bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami betapa luar biasanya kasih Kristus. Ia tidak mau orang-orang percaya di sana kehilangan kasih Kristus yang oleh-Nya Yesus rela mati di atas kayu salib. Mereka ada sebagaimana mereka ada sebagai produk sebuah kasih yang tak bersyarat dan tak ada batasnya. Ia tahu bahwa ketika orang-orang percaya berpaut hatinya dengan kasih Kristus, maka yang akan mereka lakukan adalah selalu berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan.

Sebagai orang yang sudah ditebus di atas kayu salib, kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk membalas kasih Kristus yang begitu luar biasa, kecuali dengan selalu ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan. Batas tegas yang dapat kita ambil adalah dengan senantiasa menempatkan Yesus dalam posisi kita, dengan bertanya apakah yang akan Yesus lakukan kalau Ia ada di dalam posisi kita, apakah Ia akan disenangkan kalau kita melakukan tindakan ini dan itu. Ketika kita mendapatkan jawabannya karena ada fiman di dalam kita, maka lakukanlah.

Mari umat Tuhan, masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan batas tegas yang harus kita tarik senantiasa dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Hari-hari ini banyak gereja yang sedang kehilangan batas tegas tersebut, namun biarlah batas tegas itu tetap selalu nampak nyata dalam kehidupan kita, sehingga terang Kristus dapat dinyatakan melalui kita untuk menerangi dunia yang gelap ini.

Tuhan Yesus memberkati!

 

07 Desember 2014 – Menarik Garis Batas Dengan Tegas

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>