Yohanes 14:6-7 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Perkataan ini diucapkan Yesus menjelang akhir pelayanan-Nya di bumi. Ketika itu Yesus sedang menghibur murid-murid-Nya yang menjadi gelisah ketika mendengar bahwa Ia akan segera pulang ke rumah Bapa di Sorga yang salah satu tujuannya adalah menyediakan tempat bagi murid-murid dan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Pernyataan inilah yang kemudian diresponi oleh para murid, khususnya Thomas, yang spontan bertanya ke mana Gurunya itu akan pergi dan minta ditunjukkan jalan menuju tempat tersebut.

Ternyata, pertanyaan jujur yang lahir dari hati yang rindu untuk ditunjukkan jalan oleh Yesus menghasilkan jawaban yang sangat dahsyat. Jawaban atas pertanyaan Thomas inilah yang menjadi salah satu pernyataan dasar iman kristen yang dikumandangkan dengan luar biasa oleh Yesus sendiri sampai hari ini dan selama-lamanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh. 14:6).

Hidup bermilyar-milyar orang di seluruh dunia di sepanjang sejarah kehidupan diubahkan ketika mereka menerima pernyataan Yesus ini.

Secara gamblang Yesus mengatakan bahwa untuk sampai kepada Bapa di Sorga, tidak ada jalan lain, selain melalui diri-Nya. Untuk mengenali Bapa di Sorga, Ia berkata cukup dengan mengenal diri-Nya. Untuk melihat Bapa di Sorga, lihatlah diri-Nya. Ia adalah representasi yang sesungguhnya dari Allah Bapa di Sorga, karena Yesus dan Bapa adalah satu. Artinya, apa yang Yesus terima langsung dari sumbernya, yaitu Bapa di Sorga, kemudian Ia salurkan kembali ke bumi tanpa dilebih-lebihkan ataupun dikurangi. Ia adalah saluran penghubung ke Kerajaan Sorga.

Pesan inilah yang Tuhan berikan kepada kita. Ia ingin agar kita menjadi saluran seperti sebuah selang air, yang bukan hanya bisa melekat dengan baik kepada keran utamanya, namun juga bisa mengalirkan air yang ia terima dari hulu keran, sehingga air yang sama tersebut bisa dialirkan dan dinikmati oleh banyak orang. Seringkali banyak orang percaya tidak memiliki kesulitan dalam membangun hubungan dengan Tuhan, namun seharusnya bukan sekedar bisa membangun keintiman dengan Tuhan saja, melainkan bagaimana supaya hasil jalinan hubungan itu bisa dinikmati oleh banyak orang, sehingga Kerajaan Sorga diuntungkan karenanya.

Beberapa hal yang dapat dipelajari ketika kita bertindak sebagai saluran penghubung Tuhan, yaitu:

(1). Banyak hal terpendam yang tergali dalam kehidupan kita

Keluaran 31:1-11  “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, . . .  .

 

Bezaleel adalah orang biasa yang berasal dari suku Yehuda, latar belakangnyapun tidaklah menonjol seperti tokoh-tokoh lain yang ada di jaman Musa. Bakat yang ia milikipun tidaklah terlalu istimewa, menjahit, membuat perabotan rumah tangga, dan mengasah batu, sama seperti yang dimiliki kebanyakan orang. Namun ketika ia memberikan dirinya diurapi oleh Allah dengan Roh keahlian, pengertian, serta pengetahuan dalam segala macam pekerjaan, maka Bezaleel berubah menjadi seorang yang luar biasa. Bersama Aholiab, ia dipercaya Tuhan dan Musa untuk membuat pelbagai barang keperluan ibadah yang ada di Kemah Suci. Mulai dari kemah pertemuan, tabut Allah, sampai membuat semua perkakas dan perabotan yang ada di dalam kemah suci, termasuk pakaian kudus untuk imam Harun dan anak-anaknya. Kemampuan dasar atau bakat alami yang mereka miliki dipadukan dengan hati yang tulus untuk mempersembahkan karya terbaik yang dapat mereka lakukan untuk pekerjaan Tuhan, kemudian ditambah dengan pengurapan Roh Kudus yang luar biasa, maka jadilah Bezaleel dan Aholiab yang sangat berguna bagi pekerjaan Tuhan di jamannya. Tidak ada nama lain yang tercatat dalam kisah Musa selain nama mereka yang dipercaya untuk membuat barang-barang kudus-Nya Allah.

Seringkali kita terlalu sederhana dalam memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Satu atau dua bakat yang kita miliki dan disalurkan ke dalam pelayanan, sudah membuat kita merasa melipatgandakannya seperti yang Tuhan mau. Bisa jadi demikian, namun, ternyata apabila kita datang kepada Tuhan dan dengan tulus memersembahkan diri kita untuk dipakai-Nya, maka dengan pengurapan yang Tuhan berikan, ada banyak hal luar biasa yang tadinya terkubur kemudian bermunculan secara luar biasa dan dapat dipakai sebagai alat untuk memuliakan Tuhan. Siapa yang menyangka kalau Bezaleel yang tadinya hanya menerima jahitan pakaian biasa, tiba-tiba dipercaya menjahit pakaian kudus imam besar Harun.

(2). Membuat seseorang dari nol menjadi sesuatu

Kis. 9:13  Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

Suatu jawaban yang polos keluar dari mulut Ananias, seorang murid Yesus dari Damsyik, tentang seseorang yang bernama Saulus. Ananias diperintahkan Tuhan untuk mendatangi dan menumpangkan tangan atas Saulus yang pada waktu itu dalam keadaan buta akibat perjumpaannya dengan suatu sinar terang, yang adalah hadirat Tuhan sendiri, di tengah perjalanannya ke Damsyik. Awalnya Ananias sangat meragukan Saulus mengingat ia adalah seorang penganiaya jemaat Tuhan. Pikirnya, apa yang dapat diharapkan oleh seseorang yang memiliki masa lalu sedemikian kelam. Namun dugaan Ananias ternyata salah. Sejak hari pertama ia melayani dan membaptisnya, ia melihat bagaimana kesungguhan hati Saulus untuk mengikuti jalan Tuhan, seorang yang begitu melekat dan terhubung dengan Tuhan, siap dipakai sebagai alat untuk memberitakan nama Yesus kepada orang Israel dan bangsa-bangsa lain. Saulus yang semula diragukan dan dicurigai motivasinya, akhirnya menjadi seorang Paulus yang dipakai untuk memasyhurkan nama Yesus ke seluruh Asia dan Eropa.

Seringkali kita menerjemahkan panggilan Tuhan hanya sebatas memberi diri dibaptis lalu menanamkan diri di sebuah gereja lokal dan menghabiskan waktu di sana tanpa mencari tahu lebih lagi akan panggilan Tuhan yang sesungguhnya dalam hidup kita. Padahal, seringkali tanpa disadari, dalam diri setiap kita terkandung potensi luar biasa yang bisa dipakai sebagai alat untuk memahsyurkan nama Tuhan lebih lagi di dalam setiap bidang yang Tuhan percayakan. Ingatlah bahwa selain bekerja sepenuh waktu untuk melayani Tuhan, Paulus juga seorang pembuat tenda, dan bahkan dengan profesinya itu ia malah bisa menjangkau jiwa-jiwa di area yang lebih luas lagi. Artinya, di manapun Paulus ditempatkan Tuhan, ia selalu melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk lebih lagi memperluas jaringan pemberitaan Injil dan nama Yesus.

Umat Tuhan, seringkali kita melupakan tujuan utama panggilan Tuhan atas hidup kita, lupa tujuan pengurapan Tuhan yang telah kita terima. Tidak jarang terlalu sederhana dalam memandang panggilan Tuhan atas hidup kita. Bezaleel, Aholiab, dan Saulus hanyalah orang-orang biasa dengan kemampuan yang biasa pula. Bahkan kita mungkin tidak pernah sejahat Saulus, namun semuanya menjadi begitu berbeda ketika mereka meresponi panggilan Tuhan. Mereka sadar bahwa mereka tidak sekedar dipanggil hanya untuk bertobat, tetapi untuk menjadi alat di tangan Tuhan yang luar biasa. Ketika kerelaan hati dipadukan dengan pengurapan Roh Kudus, maka dahsyatlah mereka semua. Bagaimana dengan kita?

Tuhan Yesus memberkati!

07 April 2013 – Saluran Penghubung

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>