Bil.1:1-16 “Itulah orang-orang yang dipilih dari umat itu, masing-masing sebagai pemimpin dari suku bapa leluhurnya; mereka inilah kepala-kepala pasukan Israel.”

Inilah bagian dari perintah Allah yang disampaikan kepada Musa ketika bangsa Israel tiba di Gunung Sinai. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendata bangsa Israel, lalu mengorganisasi bangsa itu menjadi suatau bangsa dan bala tentara yang tangguh, dan kemudian memilih para pemimpin yang siap untuk dipakai. Pemilihan ini menekankan betapa pentingnya setiap individu bagi Tuhan, dan Tuhan mau memakai masing-masing individu bagi tercapainya tujuan Tuhan.

 

Inilah pesan Tuhan bagi kita, yaitu bahwa Tuhan berkata Ia telah menetapkan kita sebagai pemimpin-pemimpin yang siap untuk melaksanakan tugasnya. Adalah suatu kebanggaan apabila kita disebut pemimpin-pemimpin oleh Tuhan, meskipun kita mungkin merasa tidak layak menyandang sebutan tersebut.

Alkitab mencatat kisah seorang tokoh yang bernama Gideon. Ketika Allah memanggil dan menetapkannya sebagai pemimpin, dan menyebut dirinya sebagai pahlawan yang gagah perkasa, Gideon merasa bahwa dia tidak layak menerima tugas itu ( Hak.6:12-15). Gideon sungguh menyadari siapakah dirinya pada saat Tuhan memanggilnya. Ia merasa dirinya tidak lain dari seorang penakut yang sedang bersembunyi, seorang muda usdia dari sebuah suku yang terkecil yang tidak diperhitungkan. Namun Tuhan telah memilihnya sebagai seorang pemimpin, sekaligus pahlawan yang gagah berani.

 

Bila demikian, apa yang menjadi maksud dan tujuan Tuhan saat Ia menetapkan kita sebagai pemimpin?

(1). Selalu ada kegerakan besar di balik peristiwa dipilihnya seorang pemimpin.

Hak.6:14 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman:”Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!”

Perhatikan cara kerja Tuhan yang tercatat dalam Alkitab. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah memilih seorang pemimpin begitu saja tanpa ada peristiwa besar di balik pemilihan tersebut.

Ketika Tuhan mau membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Tuhan tidak langsung mengeluarkan bangsa Israel begitu saja dari Mesir. Hal pertama yang Tuhan lakukan adalah mempersiapkan seroang pemimpin. Maka dipilih-Nyalah Musa, lalu diperintahkan untuk pergi ke Mesir menghadap Firaun, meminta agar bangsa Israel diperbolehkan keluar dari Mesir. Demikian pula halnya dengan peristiwa saat Tuhan mau membebaskan Israel dari penjajahan bangsa Midian. Tuhan membangkitkan Gideon terlebih dahulu untuk memimpin kegerakan besar tersebut.

Tuhan akan melakukan pola yang sama ketika hari ini Ia memilih kita sebagai seorang pemimpin, yaitu adanya kegerakan besar yang akan Tuhan lakukan di balik semua itu. Apa yang menjadi pergumulan kita selama ini, sehingga kita rindu sesuatu yang luar biasa terjadi? Mungkin pemulihan rumah tangga, kesembuhan dari sakit penyakit, terobosan ekonomi, atau ada “midian-midian” yang menggerogoti hidup kita selama ini. Kuncinya adalah, siapkah kita menyambut panggilan untuk memimpin kegerakan ini? Gideon awalnya merasa tidak mampu, tetapi ia memilih untuk mau taat mengikuti petunjuk Tuhan, berjalan langkah demi langkah.

(2).Ketika Tuhan memilih pemimpin, Tuhan sedang berbicara tentang kualitas, bukan jabatan.

Kel.18:21”Di samping itu kaucarikan dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin…”

Mungkin kita heran mengapa Tuhan harus memilih kita lagi sebagai seorang pemimpin, padahal bukankah selama ini kita sudah memiliki jabatan sebagai pemimpin, misalnya jabatan sebagai pemimpin di keluarga, pemimpin di dunia usaha, pemimpin di pelayanan, dll. Sesungguhnya, Tuhan tidak sedang berbicara mengenai jabatan, melainkan Tuhan sedang menekankan, apakah kita mempunyai kualitas sebagai seorang pemimpin yang Tuhan kehendaki atau belum.

Definisi sederhana dari seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk memimpin (to lead), menuntun (to guide), mengarahkan (to direct) , mengatur (to manage), dan memberi pengaruh (to influence). Mungkin selama ini kita sudah menyandang jabatan sebagai pemimpin, namun Tuhan mengingatkan kita akan kriteria yang Ia kehendaki.

a.Memimpin ( to lead )

Rasul Paulus berani berkata kepada banyak orang dan juga kepada anak-anak rohaninya untuk mengikuti teladannya. Mengapa orang-orang harus mengikuti teladannya? Karena rasul Paulus telah membuktikan bahwa Ia juga telah mengikuti teladan Yesus sang Gembala Agung (1 Kor.11:1). Teladan siapakah yang kita ikuti selama ini?

b.Menuntun (to guide)

Musa sempat protes kepada Tuhan mengapa ia harus menuntun bangsa Israel yang keras kepala, suatu bangsa yang tidak pernah ia kandung dan ia lahirkan, tetapi harus ia bimbing dan ajar sebagai seorang bapa yang menyusui anaknya/nursing father (Bil.11:12), namun Musa tetap mau taat melakukan perintah Tuhan.

c.Mengarahkan (to direct)

Sepanjang perjalanan dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, fokus pandangan Musa diarahkan terus kepada Allah Bapa, baik lewat komunikasi maupun melalui tiang awan dan tiang api yang bergerak (Kel.13:21-22).Sudahkah kita membawa jiwa-jiwa atau anak-anak yang kita pimpin selam ini ke arah visi-Nya Tuhan?

d.Mengatur (to manage)

Atas nasihat mertuanya, maka Musa membentuk tim kepemimpinan yang berjenjang sesuai dengan kesanggupan dan kapabilitas dari masing-masing pribadi yang ditunjuk sebagai pemimpin.  Ada pemimpin seribu, pemimpin seratus, pemimpin lima puluh, dan sepuluh (Kel.18:21).

e.Memberi pengaruh (to influence)

Apa yang menjadikan empat ratus orang-orang bermasalah berhimpun ke gua Adulam, dan akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin pasukan yang gagah perkasa? Karena ada pribadi Daud yang mampu memberi pengaruh ilahi kepada kumpulan orang-orang tersebut (1 Sam 22:2). Pengaruh apa yang selama ini kita impartasikan kepada orang-orang di sekeliling kita?

(3).Pemimpin yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik lagi.

2 Tim.2:2 “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”

Selain rasul Paulus memerintahkan Timotius untuk mengajarkan kembali pengajaran yang ia sudah terima dari dirinya, rasul Paulus juga (dalam terjemahan lainnya) sedang berkata kepada Timotius, seperti ini:”Timotius, hasilkanlah keturunan bagi dirimu sendiri, yang sama kualitasnya seperti dirimu.”

Umat Tuhan, mari tangkap pesan Tuhan ini baik-baik. Siapkah kita menyambut perubahan besar atau kegerakan besar yang akan terjadi dalam hidup kita? Semua tergantung pada diri kita sendiri. Tuhan menunggu kesiapan seorang pemimpin yang telah ditunjuk-Nya yaitu kita.

Tuhan Yesus memberkati!

 

 

 

 

 

 

 

05 Feb 2012 – Tuhan Memilih Pemimpin-Pemimpin

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>