Kejadian 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

Satu kata kunci yang menyatakan mengapa Yusuf menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya adalah penyertaan Tuhan. Perjalanan hidup Yusuf sangatlah tidak mulus, dari seorang anak kesayangan orangtuanya di rumah, kemudian dibuang oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak belian yang berpindah tangan dari satu majikan ke majikan yang lainnya, lalu menjadi narapidana di negeri asing karena difitnah sehingga ia harus menjalani hukuman. Namun demikian, rangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan tersebut dijalani Yusuf dengan penuh tanggung jawab bahkan diwarnai oleh prestasi demi prestasi, keberhasilan demi keberhasilan.

Saat bekerja di rumah Potifar, seorang kepala pengawal istana, Yusuf diberi tanggung jawab yang sangat besar dari tuannya. Ia diberikan kuasa atas rumah dan segala milik tuannya. Meski hanya seorang budak belian, Yusuf melakukan tugasnya dengan sangat baik. Keberadaan Yusuf di rumah Potifar membuat majikannya itu sangat diberkati oleh Tuhan, baik rumahnya, maupun segala miliknya yang dipercayakan kepada Yusuf. Keelokkan Yusuf, membuat istri Potifar jatuh cinta, hingga kemudian memfitnah Yusuf dan akhirnya Yusuf masuk penjara. Namun, di dalam penjara sekalipun, kasih setia Tuhan senantiasa menyertai Yusuf. Sekalipun hanya seorang tahanan,Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Kepadanya dipercayakan semua tahanan dan segala tugas kepengurusan yang berhubungan dengan tugas seorang kepala penjara. Semua tugas-tugas itu dilakukan Yusuf dengan begitu baik, sehingga penjara sangat diberkati melalui keberadaannya. Bahkan, hingga suatu hari  Yusuf dipercaya untuk mengelola kekayaan Mesir di tujuh tahun masa kekurangan dan di tujuh tahun masa kelimpahan, oleh Firaun, Mesir menjadi negeri yang sangat diberkati oleh keberadaannya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita minggu ini. Tuhan mau agar kita selalu menjadi pribadi yang berprestasi dan memberkati orang lain, di mana pun kita berada dan ditempatkan, sehingga siapa pun yang ada bersama-sama dengan kita, dapat turut mengalami berkat dan pancaran terang Kristus.

Seperti yang telah disampaikan minggu lalu, memasuki bulan Oktober 2012 iniTuhan telah memberi visi yang baru untuk kita jalani dan hidupi bersama-sama, yaitu Visi 2013 “Generasi Terang” atau “Light Generation“, dimana lewat keberadaan kita, dunia yang gelap ini dapat menjadi terang.

Apa yang membuat Yusuf tetap dapat menjadi berkat di tengah beratnya tantangan yang ia hadapi?

(1). Tetap berjalan dalam visi Tuhan

Kejadian 37:9  Katanya: “Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.”

Sejak usia tujuh belas tahun Yusuf sudah menerima pewahyuan dari Tuhan lewat mimpi, bahwa suatu hari ia akan menduduki suatu posisi yang sangat tinggi di mana orangtua dan kesebelas saudara-saudaranya sekalipun akan sujud menyembah kepadanya. Meskipun ia tidak mengetahui kapan dan seperti apa sesungguhnya pernyataan Tuhan itu akan digenapi, namun ia terus berpegang dan percaya akan visi yang telah ia terima dan menghidupinya. Ia yakin bahwa suatu hari nanti ia akan menduduki suatu posisi yang tinggi dalam sebuah pemerintahan. Oleh sebab itu, seburuk apapun peristiwa yang ia alami, tidak membuat pandangan matanya beralih dari apa yang sudah Tuhan janjikan kepadanya.

Ada masa-masa dimana kenyataan yang dihadapi Yusuf berbeda dengan visi yang ia terima dari Tuhan, yaitu menduduki posisi yang tinggi di pemerintahan, bahkan sangat bertolak belakang, namun secara mental, dia sudah menghidupi visi tersebut dengan bertindak sebagai seorang pemimpin yang benar dalam setiap jabatan apapun yang dipercayakan kepadanya. Yusuf menyadari bahwa apabila ia setia dalam perkara sekecil apapun yang dipercayakan Tuhan kepadanya, maka ia percaya bahwa akan ada hal-hal besar yang sudah menanti di hadapannya. Itulah sebabnya, Yusuf bekerja dengan penuh tanggung jawab di rumah Potifar, bahkan ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan tuannya saat ia diberi kuasa penuh atas segala milik Potifar. Ia mampu membedakan, bahwa isteri Potifar tidak  termasuk yang dikuasakan kepadanya. Sikap yang sama ditunjukkan Yusuf ketika ia berada di dalam penjara. Itulah sebabnya mengapa promosi demi promosi terus mengarah kepada penggenapan visi Tuhan dalam hidupnya.

Meskipun visi besar dari Tuhan mungkin belum digenapi sepenuhnya dalam hidup kita, namun Tuan mau agar kita belajar dari Yusuf, terus setia berjalan dalam visi demi visi yang Tuhan berikan sebagai tuntunan, hingga kita memperoleh bagian yang sudah ditentukan Tuhan bagi kita seluruhnya. Hidupi dan sikapi dengan benar setiap tuntunan yang Tuhan berikan, baik perkara besar maupun kecil.

(2). Melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan

Kolose 3:23  Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Meskipun profesi sebagai budak bukanlah pekerjaan yang dimimpikan atau dicita-citakan, namun bagi Yusuf, hanya ada dua pilihan, yaitu sekedar menjadi budak biasa atau menjadi budak yang baik. Yusuf menyadari bahwa ada Tuhan yang selalu menyertainya, dan inilah yang membuat ia tidak menjadi sekedar budak biasa, melainkan menjadi budak yang “berkuasa”. Hal inilah yang memacu Yusuf untuk melakukan segala sesuatu dengan hasil yang sangat baik. Hal serupa juga dialami Daud dalam kehidupannya setelah ia diurapi Tuhan melalui nabi Samuel. Ke manapun ia pergi, di posisi apapun ia dipercayakan, Daud tidak melakukan segala tugasnya dengan cara yang biasa-biasa saja. Baik Yusuf maupun Daud, keduanya sama-sama menyadari bahwa ke manapun Tuhan membawa mereka, di posisi apapun mereka ditempatkan, mereka melakukan segala sesuatunya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan.

Mungkin saja kita berada di suatu lingkungan pekerjaan atau pelayanan yang tidak sesuai dengan pilihan dan harapan kita, atau ditempatkan di suatu ladang yang tidak kita inginkan sama sekali, lalu apakah yang akan kita lakukan? Bekerja sekedarnya atau bekerja dengan kesungguhan hati seperti untuk Tuhan. Mungkin rasanya tidak adil, dituntut untuk melakukan sesuatu dengan baik, padahal itu bukan kemauan kita sendiri. Tetapi percayalah, dunia bisa berlaku tidak adil terhadap kita, tetapi Tuhan selalu adil. Tanamkanlah dalam diri kita bahwa kunci keberhasilan kita ada pada Tuhan, bukan pada dunia. Tugas kita bukanlah menuntut ini dan itu, tetapi berjalan bersama Tuhan Yesus dan bekerja bagi-Nya dengan sebaik-baiknya. Tuhan akan memampukan kita untuk memberikan prestasi yang terbaik di tengah kondisi yang paling tidak ideal sekalipun.

Umat Tuhan, Yusuf sudah membuktikan bahwa di tengah kondisi terburuk, yaitu sebagai seorang budak belian dan narapidana sekalipun, ia mampu menunjukkan prestasi dengan melakukan yang terbaik. Saat ini, mungkin kita ada di posisi yang jauh lebih baik dibanding Yusuf, dan jangan pernah lupa bahwa Roh Kudus sudah ada dan akan senantiasa berada di dalam kita, oleh sebab itu, sebagai orang-orang yang berjalan dalam visi Tuhan, kita tentunya mau terlibat untuk ikut “menerangi” dunia dengan prestasi-prestasi kita di wilayah yang Tuhan percayakan, bahkan di tempat yang paling tidak kita harapkan sekalipun.

Tuhan Yesus memberkati!

14 Okt 2012 – Umat Yang Berprestasi (Visi 2013: Light Generation)

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>