Rencana-ku atau Rencana-Mu (Pesan Gembala, 10 Januari 2021)

RENCANA-KU ATAU RENCANA-MU?

Yakobus 4:14-15 (14)sedang kamu tidak tahu apa yang akan
terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
(15) Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.

Surat Yakobus ini adalah surat yang dikirim oleh Yakobus kepada orang-orang Yahudi yang sebagian besar adalah orang Kristen Yahudi yang berada di perantauan, yang pada saat itu mengalami penganiayaan. Ketika Tuhan izinkan sebuah penderitaan terjadi, tentu Tuhan punya maksud tertentu, dan sebetulnya tidak ada jalan lain yang patut mereka tempuh selain datang dan berharap kepada Tuhan. Namun Yakobus, seperti yang ia tulis di awal suratnya, justru orang-orang tersebut ternyata tidak mencari Tuhan.

Pada perikop ini Yakobus memfokuskan pada bagaimana seharusnya seorang percaya mempraktekkan imannya kepada Tuhan melalui melibatkan Tuhan dalam aspek kehidupan termasuk pada situasi yang belum terjadi atau baru sedang direncanakan. Bahwa percaya kepada Tuhan harus diikuti dengan tindakan nyata untuk membiarkan segala sesuatu terjadi dalam kehendak-Nya.

Yakobus memulai pengajarannya dengan menunjuk pada sekelompok orang dengan status pedagang yang membuat perencanaan untuk hari ini atau besok akan mendapatkan untung melalui pergi berdagang ke suatu tempat yakni kota “anu” (pengandaian tempat). Persoalan Yakobus ada pada ayat 14, yakni “tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok”. Mungkin saja para pedagang ini adalah orang-orang berpengalaman di bidangnya. Tetapi bagi Yakobus, sehebat apapun perencanaan, sejitu apapun strategi yang dibuat manusia, semuanya ditentukan oleh apa yang terjadi di hari esok.

Kalimat “tidak ada yang tahu tentang hari esok” menunjuk tentang keterbatasan manusia yang tidak pernah bisa membuka “rahasia” esok hari, kecuali bersiap menghadapi kondisi apapun tentang esok. Kalimat tersebut juga adalah suatu kepastian bahwa tidak ada yang bisa memastikan kendala dan halangan yang muncul tiba-tiba tanpa bisa diprediksi sebelumnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Sebagai pemercaya, kita tidak bisa lagi menjalani kehidupan yang asal-asalan. Menjalani kehidupan tanpa perencanaan yang matang dan tanpa sebuah tujuan yang pasti. Kalau pun membuat perencanaan, satu hal yang perlu ditanyakan adalah, apakah rencana yang kita buat ini sesuai dengan rencana Tuhan bagi kita, ataukah sekedar keinginan diri kita semata-mata?

Tanpa disadari, biasanya orang akan mengandalkan pengalaman serta kemampuan yang dimiliki untuk membuat rancangan bagi dirinya. Seperti halnya para pedagang Yahudi dalam perikop di atas yang merancangkan segala sesuatunya berdasarkan apa yang ia pandang baik bagi dirinya dan bagi usahanya, namun sayangnya tidak sungguh-sungguh
melibatkan Tuhan di dalamnya. Ingat, Tuhan menghendaki perjalanan kita berhasil dan berkenan.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:

(1). Keyakinan kepada diri sendiri adalah sebuah kesombongan di mata Tuhan

Yakobus 4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

Sikap keyakinan pada diri sendiri yang ditunjukkan oleh para pedagang Yahudi perantauan membuat dirinya bisa memastikan kapan saat keberangkatannya (“hari ini atau besok”), kemana ia akan pergi (“kota anu”), lamanya ia akan tinggal (“setahun”), apa saja yang akan ia lakukan
(“berdagang”), dan keberhasilannya (“serta mendapat untung). Apakah kemudian Tuhan memuji orang-orang tersebut karena sikap keyakinannya pada diri sendiri? Yakobus mengatakan bahwa hal itu adalah sebuah kecongkakan dan kejahatan.

Di zaman yang serba modern ini kebanyakan orang tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup, karena merasa diri mampu menentukan langkah hidupnya. Dengan pengalaman, kepintaran, kekuatan, kecanggihan teknologi, uang atau kekayaan yang dimiliki mereka mengira bahwa semua yang direncanakan pasti akan berhasil. Orang yang melupakan Tuhan dalam setiap rencana hidupnya sama artinya meremehkan Tuhan, mengabaikan kehadiran-Nya, menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada dan tidak punya kuasa. Yang menjadi akar persoalan adalah kesombongan.

(2). Keyakinan kepada diri yang diubah menjadi keyakinan akan Tuhan (self confidence to God confidence).

Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Apa yang sebenarnya menjadi pokok permasalahan dalam hal ini? Bukankah para pemercaya Yahudi tersebut juga adalah orang-orang yang memercayai Kristus. Mengapa mereka dikecam oleh Yakobus bahwa mereka telah mengandalkan diri sendiri? Ternyata “masalah” kebanyakan orang percaya adalah mereka memutuskan segala sesuatu sendiri, lalu sekedar membawa “perencanaan mereka” kepada Tuhan.

Yakobus memberikan prinsip benar dalam merencanakan hari esok yakni melibatkan Tuhan dalam perencanaan. Mengapa hal ini begitu penting? Sebab menurut Yakobus sebagaimana ditulis ayat 14, tidak ada yang tahu tentang hari esok. Karena tidak ada yang mengetahui hari esok, maka seharusnya mencari pihak yang mengerti dan mengetahui tentang kondisi esok hari. Pribadi yang mengetahui segala-galanya, termasuk peristiwa esok yang belum terjadi adalah Tuhan pencipta dan penguasa waktu termasuk penguasa hari esok. Itulah sebabnya, bagi Yakobus melibatkan Tuhan sejak dari awal dalam perencanaan sangatlah penting.

Mari jemaat Tuhan, apabila kita menyadari bahwa Tuhan sudah merencanakan hal-hal yang luar biasa atas hidup kita, maka bagian kita adalah senantiasa datang kepada Tuhan menyediakan waktu untuk bersekutu dan menyelaraskan segala sesuatu yang akan kita jalankan dengan kehendak-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

Rencana-ku atau Rencana-Mu (Pesan Gembala, 10 Januari 2021)

| Warta Jemaat |
About The Author
-