Kuasa Berjalan Bersama-sama (Pesan Gembala, 13-12-2020)

KUASA BERJALAN BERSAMA-SAMA

Amos 3:1-8 (1) Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir, bunyinya:
(2) “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.

Perikop ini dibuka dengan seruan nabi Amos kepada bangsa Israel atas ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan. Namun satu hal yang menarik adalah cara Tuhan memeringatkan mereka, yaitu dengan menceritakan kasih sayang Tuhan yang sudah menebus dan membawa mereka keluar dari tanah Mesir menuju tanah Perjanjian. Di situ Tuhan bukan hanya menekankan tentang hal penebusannya saja, namun juga tentang tuntunan Tuhan atas bangsa Israel sepanjang perjalanan menuju ke tanah Perjanjian (ayat 1).

Telah kita ketahui bahwa ada begitu banyak peristiwa yang terjadi di sepanjang empat puluh tahun perjalanan bangsa Israel tersebut. Penyesalan umat Israel ketika sebetulnya sedang dibawa Tuhan ke tempat yang lebih baik, pemberontakan ketika meragukan kepemimpinan yang ditetapkan Tuhan, bersungut-sungut ketika mengalami keadaan yang tidak baik, dan berbagai peristiwa lainnya. Namun, hanya mereka yang mau sepakat berjalan bersama-sama dalam pimpinan Tuhanlah yang akhirnya masuk ke tanah Perjanjian.

Dalam seruan-Nya ini, Tuhan memberikan perhatian khusus kepada Israel dan mengakui mereka sebagai milik-Nya yang istimewa di antara semua suku bangsa lain di muka bumi. Hal ini terlihat dari penggunaan kata “kenal” (ay. 2). Kata Yada dalam bahasa Ibrani ini dipakai untuk pertama kalinya dalam kitab Kejadian ketika kedekatan Allah dengan Abraham. Sungguh suatu hubungan yang istimewa!

Hanya mereka yang mau berjalan bersama Tuhan dalam kesepakatanlah yang akhirnya akan menginjakkan kakinya di tanah yang dijanjikan Tuhan. Hanya mereka yang mau mendengarkan peringatan Tuhanlah yang akan terhindar dari berbagai jerat. Dan memang telah terbukti bahwa mereka yang mau berjalan sendiri dan yang tidak memercayai Tuhan dan janji-janji-Nya yang akhirnya tidak memasuki negeri yang berlimpah susu dan madunya.

Betapa ironis jika melihat balasan perlakuan bangsa Israel terhadap kasih sayang Tuhan yang luar biasa tersebut. Mereka telah tidak setia di saat Tuhan telah begitu setia kepada mereka. Melalui seruan nabi Amos inilah Tuhan kembali mengingatkan Israel bahwa Tuhan tidak pernah memerlakukan umat-Nya dengan sewenang-wenang dan mendatangkan hal-hal yang buruk tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada umat yang dikasihi-Nya. Sayangnya, mereka tidak menghiraukannya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Bahwa Tuhan telah menyatakan kasih-Nya kepada kita umat-Nya dengan begitu luar biasa. Ia siap menuntun kita di sepanjang perjalanan yang kita tempuh. Semudah atau sesulit apapun keadaannya. Yang diperlukan adalah sudahkah kita memercayakan perjalanan ini kepada Tuhan. Yang Tuhan inginkan dari umat-Nya adalah berjalan bersama-sama “bergandeng tangan” ke arah yang sama dengan antusias. “Bergandeng tangan” di sini adalah berbicara tentang kesepakatan dengan Tuhan dan kesepakatan dengan sesama orang percaya dan keluarga.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Kita tidak pernah berjalan bersama-sama, kecuali
memercayakan perjalanan kita kepada tuntunan dan tujuan Tuhan

Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

Kata ‘dua orang’ ini menunjuk kepada Tuhan dan umat-Nya. Kata ‘berjanji’ (Ibr.: ya’ad) mengandung arti sepakat, berada dalam satu persekutuan dan tujuan. Berjalannya bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir menuju ke arah negeri yang dijanjikan Tuhan secara bersama-sama tidaklah membuktikan bahwa mereka sedang berjalan dalam sebuah kesepakatan. Mengapa demikian? Ada angkatan awal yang enggan masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, dikarenakan mereka tidak memercayai apa yang Tuhan janjikan. Mereka takut kepada penduduk raksasa di tanah perjanjian.

Kemudian ada orang-orang yang menyesal telah meninggalkan Mesir, ketika menghadapi berbagai kondisi sulit di perjalanan sehingga menyalahkan Musa. Dan berbagai perilaku lainnya yang menunjukkan bahwa mereka ragu akan janji yang Tuhan berikan. Sebuah kesepakatan merupakan hal yang memegang peran yang sangat penting agar kita bisa berjalan ke arah yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Entahkah di dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan atau dalam hal-hal yang lain, kesepakatan itu merupakan sebuah unsur yang sangat penting. Akankah kita akan berjalan di tempat, tidak maju-maju, atau tidak mencapai apa yang dijanjikan Tuhan, itu semua tergantung pada komitmen kita untuk mau berjalan dalam tuntunan Tuhan atau tidak.

(2). Kita tidak akan pernah tersandung, asalkan mendengarkan peringatan Tuhan

Amos 3:7 Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.

Mengetahui bahwa Tuhan mengenal dan mengakui kita sebagai umat-Nya yang istimewa seharusnya membangkitkan rasa syukur yang besar dan sikap yang penuh hormat akan Dia. Namun tidak cukup sampai di situ, kita juga perlu belajar mengenal-Nya lebih dalam karena pengenalan yang sejati menuntut relasi, interaksi, dan komunikasi secara terus-menerus. Mengenal tidak sama dengan “sekadar tahu”. Diperlukan suatu hubungan yang dibangun secara sengaja, bermutu, dan intensif dengan Allah sehingga kita menyatu dengan kehendak-Nya.

Jadi sesungguhnya tidak ada yang benar-benar baru atau tiba -tiba, karena Tuhan selalu menyampaikan hal hal yang akan datang kepada umat-Nya, dan hingga hari ini, dijaman ini Tuhan masih terus berbicara, bahwa Ia tidak akan melakukan apa-apa sebelum ia mengungkapkannya terlebih dahulu melalui hamba-hamba-Nya.

Mari jemaat Tuhan, makna berjalan bersama-sama bukan artinya sekedar melangkah maju atau berjalan bergerombol, namun suatu kerendahan hati untuk bersedia berjalan bersama ke tujuan yang Tuhan kehendaki. Bersyukur untuk tuntunan yang Tuhan berikan hari lepas hari.

Tuhan Yesus memberkati!

Kuasa Berjalan Bersama-sama (Pesan Gembala, 13-12-2020)

| Warta Jemaat |
About The Author
-