Jangan Berperang “Sendiri” (Pesan Gembala, 16 November 2019)

JANGAN BERPERANG “SENDIRI”

1 Samuel 14:6-7 (6) Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.” (7) Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: “Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat.”

Suatu ketika bangsa Israel dan rakyatnya sudah tidak memiliki pedang atau tombak lagi, padahal bangsa itu sedang dalam status berperang melawan bangsa Filistin. Hanya raja Saul dan puteranya Yonatan yang masih memiliki senjata. Raja Saul sudah jelas kehilangan kendali; ia tidak bisa memutuskan apa yang harus ia perbuat. Pilihannya benar-benar terbatas, karena orang Filistin telah menangkap semua tukang besi orang Israel, yang berarti orang Israel tidak memiliki persenjataan baru lagi.

Namun ada Yonatan, anak Saul yang memiliki sedikit pengharapan. Ia mengusulkan kepada bujang pembawa senjatanya untuk pergi ke wilayah Filistin untuk memeriksa pasukan pengawal orang Filistin. Ia berharap bawa Tuhan akan melakukan suatu tindakan bagi Israel. Yonatan meyakinkan bujangnya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka terlepas berapapun jumlah mereka, entah sedikit ataupun banyak.

Perkataan Yonatan ini merupakan perkataan iman kepada Tuhan yang ia sembah yang mampu melakukan segala perkara yang mustahil menjadi mungkin. Yang luar biasa, bujang Yonatan ternyata menangkap hal yang sama dengan tuannya. Satu perkataan yang keluar dari mulut bujangnya adalah: “Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh aku sepakat.” (ayat 7). Ketika mereka bertindak, lalu timbullah kegentaran di perkemahan Filistin, termasuk seluruh rakyat dan pasukan pengawal. Bumi gemetar, sehingga menjadi kegentaran dari Tuhan. Kemenangan terjadi di pihak Israel.

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari kisah Yonatan dan bujang pembawa senjatanya ini dimana dalam sebuah peperangan sangat diperlukan sebuah strategi dan tanda kemenangan dari Tuhan. Apabila kita ingin memenangkan sebuah peperangan, maka kita harus memperhatikan ketepatannya dimana itu bisa dilakukan apabila kita memahami yang namanya kesepakatan. Banyak orang percaya yang tidak memahami prinsip tentang kesepakatan ini, dimana mereka berperang seorang diri dan dengan caranya sendiri. Sesuatu yang mustahil untuk mengalami kemenangan atas pergumulan yang dihadapi.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Banyak peperangan yang dialami orang percaya, namun tidak sedikit yang mengalami kekalahan. Penyebabnya, banyak yang belum memahami prinsip kesepakatan seperti yang dilakukan oleh Yonatan terhadap Tuhan dan bujangnya. Ada kekuatan yang besar lahir dari sebuah kesepakatan. Bahkan hal-hal negatif pun akan melahirkan hal-hal yang besar ketika mereka memahami prinsip kesepakatan. Kita tentu ingat pada waktu orang-orang zaman dahulu ingin membangun sebuah kota yang puncaknya sampai ke langit, yaitu Menara Babel. Ketika apa yang mereka lakukan lahir dari sebuah kesepakatan, maka apa yang mereka cita-citakan hampir terwujud sampai akhirnya Tuhan mencerai-beraikan mereka.

Apabila kita tahu bahwa kemenangan terjadi diawali dari sebuah kesepakatan, maka tangkap baik-baik kesepakatan seperti apa yang dilakukan oleh Yonatan.
(1). Kesepakatan antara kita dengan Tuhan

1 Sam. 14:6 Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, ….

Apabila kita menyadari bahwa hanya Tuhan yang bisa memberikan kemenangan pada umat-Nya, maka sudah selayaknya kita mengadakan kesepakatan dengan Tuhan. Kesepakatan dengan Tuhan yang harus pertama-tama kita tangkap adalah tujuan dari peperangan itu sendiri. Apakah peperangan itu untuk kepentingan Kerajaan Sorga ataukah untuk semata-mata kepentingan diri kita sendiri? Langkah selanjutnya adalah, pastikan setiap langkah yang kita jalani adalah langkah-langkah yang selaras dengan jalan Tuhan. Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

Prinsip yang terkandung di dalam kitab Amos ini pada dasarnya dapat diaplikasikan ke dalam setiap jenis hubungan yang kita bangun dengan siapa saja, dimulai tentu saja dari hubungan kita dengan Tuhan. Makna dari ayat tersebut adalah, apabila kita mau berjalan bersama Tuhan dan mau mengalami kemenangan dengan Tuhan, maka kita harus bersepakat terlebih dahulu dengan Tuhan. Sepakat dengan firman-Nya, dan sepakat dengan segala tuntutan-Nya.

Tidak sedikit orang percaya bergumul dan menjalani peperangan seorang diri, dalam arti, mereka sedang memperjuangkan sesuatu yang bukan untuk kepentingan Kerajaan Sorga. Ada gejolak di hati mereka yang timbul akibat kemarahan atau ketersinggungan akibat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan di hati. Kemudian mereka mengambil langkah-langkah yang sama sekali tidak sesuai dengan prinsip kebenaran.

(2). Kesepakatan antara kita dengan sesama

1 Sam. 14:7 Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: “Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat.”

Dibutuhkan dua orang percaya atau lebih untuk menaikkan permintaan dalam kesepakatan, ketika masing-masing mengijinkan pikiran Kristus dan sifat-sifat-Nya menguasai mereka, maka percayalah sesuatu yang luar biasa terjadi. Bukankah Yesus mengatakan: “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” Bukankah ini menunjukkan tingginya sebuah nilai kesepakatan bagi Tuhan? Kesepakatan yang demikian sanggup menghadirkan dan menggerakkan hati Tuhan.

Jika Tuhan menganggap sebuah kesepakatan dengan sesama itu penting, baiklah kita mulai melakukannya dari sekarang. Ingatlah bahwa tidak akan ada hasil yang bisa kita capai secara maksimal apabila kita semua berjalan sendiri-sendiri. Apa yang ingin anda capai di dalam keluarga anda? Jangan berperang seorang diri. Pastikan kerinduan yang ingin anda capai adalah selaras dengan keinginan Tuhan, lalu mulailah anda bersepakat dengan anggota keluarga anda. Sebuah keluarga tidak akan kuat tanpa adanya kesatuan di antara anggota-anggotanya.

Mari jemaat Tuhan, apabila masih ada di antara kita yang masih memiliki prinsip bahwa aku akan kuat tanpa orang lain, tanpa saudara seiman, tanpa kebersamaan dengan anggota keluarga, tanpa perlu datang ke gereja, atau tanpa perlu digembalakan, pikirkanlah kembali hal itu, karena hal itu bukanlah prinsip yang Tuhan ajarkan. Mari berperanglah dengan cara yang benar, yaitu cara Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

 

Jangan Berperang “Sendiri” (Pesan Gembala, 16 November 2019)

| Warta Jemaat |
About The Author
-