Generasi Muda, Generasi Daniel (Pesan Gembala, 3 November 2019)

GENERASI MUDA, GENERASI DANIEL
Daniel 1:4-6 (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
Masa muda, adalah satu periode transisi seorang manusia dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Inilah waktu di mana seseorang memiliki perkembangan yang pesat akan pemikiran, penemuan identitas diri secara psikologis, dan keinginan untuk dapat hidup mandiri. Inilah suatu masa di mana seseorang dipenuhi dengan kekuatan dan vitalitas, sekaligus menghadapi badai, konflik, dan stress. Inilah satu periode dalam hidup manusia ketika aspek kekuatan fisik menjadi begitu memuncak.
Masa muda adalah waktu-waktu krusial di mana seseorang menetapkan fondasi, jalan, dan arah hidupnya. Inilah masa di mana dimana seseorang seharusnya menerima seluruh pengajaran dan prinsip kebenaran yang akan terus ia pegang erat seumur hidup. Jika masa tersebut diisi dengan segala hal yang berharga, berbobot, bermutu, dan bernilai Kerajaan, maka arah hidup orang tersebut akan jelas dan bahkan sampai masa tua ia akan tetap mengikuti jalan tersebut.
Di tengah kehidupan globalisasi saat ini dimana budaya luar yang semakin besar pengaruhnya masuk kepada negara lain tanpa bisa dibendung oleh siapapun, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi lain yang semakin cepat sehingga membuat batasan-batasan antar negara dalam dunia nyata menjadi hilang terlebih ketika berbicara tentang dunia maya. Semua unsur-unsur tersebut di atas membuat tantangan menjadi semakin besar buat generasi muda.
Lalu, sikap apa yang harus diambil ketika mereka berhadapan dengan arus deras globalisasi yang telah membuat banyak orang terseret tanpa dapat membendung dan membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak, serta mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Mana yang berkenan dan mana yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.
Jauh sebelum masa sekarang, Daniel pernah mengalami masa yang sama di zamannya. Ia hidup dan mengabdi beserta kawan-kawannya di sebuah kerajaan Babel yang dipimpin oleh raja Nebukadnezar, dimana semua orang harus tunduk kepada peraturan yang diberlakukan oleh raja disana. Sangat tidak mudah bagi Daniel dan kawan-kawannya, namun mereka sanggup tampil menjadi terang. Bahkan Daniel sanggup berada di posisi penting dan memberikan pengaruh ilahi yang luar biasa sampai kepada empat generasi kepemimpinan kerajaan disana.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan menekankan pesan ini kepada anak-anak muda. Di saat banyak anak-anak muda yang hari-hari ini berguguran terbawa oleh arus dunia, Tuhan mau kita justru tampil beda. Bukan hanya sekedar dapat bertahan hidup dan merasa masih datang beribadah, namun dapat tampil menjadi terang serta memproklamasikan tentang siapa diri kita dan terlebih siapa yang selama ini kita percayai. Ingat, hanya generasi yang menangkap tujuan Tuhan, seperti Daniel ini, sajalah yang akhirnya dapat tampil sebagai pemenang di tengah persaingan dunia, karena dunia pun sedang mempersiapkan orang-orang terbaiknya.
Beberapa hal yang harus kita persiapkan berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Memahami bahwa dunia pun menetapkan kriteria di atas rata-rata
Dan. 1:4 yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
Kriteria yang disebutkan ini adalah kriteria yang ditetapkan oleh raja Nebukadnezar dalam rangka merekrut para anak-anak muda untuk dipekerjakan di istana raja. Jelas disini terlihat bahwa raja Babel sendiri tidak akan memerkerjakan orang-orang yang tidak memiliki kriteria yang menonjol. Dari sekian banyak orang-orang muda yang diseleksi, muncullah nama-nama seperti Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Artinya, mereka bukanlah sekedar anak-anak muda yang kita kenal sebagai orang-orang yang hanya tahu menyembah Tuhan semata-mata, namun mereka juga adalah orang-orang yang luar biasa dalam hal moral, tampilan fisik, hikmat dan pengetahuan.
Kadang yang menjadi kelemahan dari kalangan pemercaya muda adalah mereka tidak tampil “all-out” (mengerahkan segenap kemampuan mereka). Mereka memiliki ketekunan di dalam hal doa dan ibadah, itu luar biasa, namun lemah di sisi intelegensianya. Sebaliknya, ada banyak anak-anak muda yang memiliki tingkat intelegensia yang mumpuni, hanya sayang tidak diimbangi oleh kedekatannya dengan Tuhan. Bahkan parahnya, banyak yang tidak memiliki hal yang menonjol sama sekali di semua aspek. Tuhan mau kita tampil menjadi orang-orang yang memiliki lingkup pengaruh yang luas (ingat, tentang definisi seorang pemimpin). Semakin tinggi posisi yang dapat kita capai, maka semakin luas pengaruh ilahi yang dapat kita impartasikan.
(2). Memahami bahwa dibutuhkan ketetapan hati untuk dapat tampil menjadi terang di dunia
Dan. 1:8 Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja;…
Kata “berketetapan” (Ibr. Suwm) memiliki makna bertekad hati atau memiliki determinasi yang kuat. Ini merupakan kunci untuk menjadi berkat di dalam banyak hal. Dalam hal apapun, seperti karir, pelayanan, keluarga, hidup bermasyarakat, bernegara dan lain-lain kalau seseorang tidak memiliki ketetapan hati, maka ia tidak akan pernah berdiri tegak di depan siapa pun, baik di depan kawan maupun lawan. Namun, apabila seorang anak Tuhan memiliki ketetapan hati, maka jangankan kawan, orang-orang yang menjadi saingan sekalipun akan hormat dan segan.
Hari-hari ini, banyak orang-orang muda yang tidak mau menetapkan hatinya. Banyak lebih suka mengikuti apa kata “mata dan mulutnya” Apa yang dirasa nyaman, indah dan menarik di dalam pandangannya, apa yang dirasa enak di mulutnya, maka itu yang ia ikuti. Jadi yang seringkali dijadikan ukuran untuk melakukan sesuatu bukan lagi hukum Tuhan atau panduan moral iman lagi, melainkan apa yang ia rasa nyaman untuk diri sendiri ataupun nyaman di hadapan sesama. Sedangkan tantangan yang dihadapi Daniel sehingga ia memutuskan untuk berketetapan hati ternyata bukan dalam hal memakan santapan raja saja, melainkan di dalam berbagai aspek.
Oleh sebab itu, mari jemaat Tuhan, pesan ini Tuhan berikan kepada kita khususnya kaum muda untuk menjadi sebuah kunci keberhasilan dan kemenangan di masa sekarang dan hari-hari ke depan. Persaingan dan tantangan yang akan dihadapi akan semakin tidak mudah. Semua pihak telah menetapkan suatu standar yang di atas rata-rata, bagaimana dengan kita? Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan dalam memersiapkan anak-anaknya.
Tuhan Yesus memberkati!

 

Generasi Muda, Generasi Daniel (Pesan Gembala, 3 November 2019)

| Warta Jemaat |
About The Author
-