Hak. 11:1  Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead.
Yefta terlahir dari seorang ayah bernama Gilead dan ibunya, seorang perempuan sundal. Menjelang dewasa, anak-anak Gilead dari isterinya yang lain mengusir Yefta keluar dari keluarga karena ia dianggap tidak berhak menjadi bagian keluarga dan tidak berhak mendapat milik pusaka (warisan). Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu, kemudian ia menetap di Tob dan bergabung dengan para petualang yang menjalani hidup dengan cara merampok. Sungguh tragis dan menyedihkan latar belakang kehidupan Yefta.
Beberapa waktu kemudian, setelah peristiwa itu, terjadilah peperangan antara bani Amon melawan orang Israel. Dalam kondisi terdesak, para tua-tua Gilead menjemput dan meminta agar Yefta bersedia menjadi panglima mereka dan berperang melawan bani Amon. Setelah Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan, maka dalam kepenuhan Roh Tuhan, berperanglah Yefta sehingga timbullah kekalahan besar dari pihak bani Amon. Kemenangan Yefta membuat ia diangkat sebagai seorang pemimpin atau hakim untuk bangsa Israel.
Kisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup Yefta, seseorang yang  memiliki latar belakang kehidupan yang kurang baik, namun kemudian dipakai oleh Tuhan secara luar biasa sebagai alat untuk membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman musuh.
Ini merupakan pesan Tuhan bagi kita di minggu ini, sekaligus menjadi visi kita untuk tahun yang akan datang. Setelah beberapa minggu terakhir ini Tuhan terus-menerus memberikan pesan yang serupa, yaitu bahwa kita adalah mutiara-mutiara-Nya yang berharga. Diambil dari dasar lumpur laut yang kotor, kemudian tampil menjadi sebuah perhiasan indah yang memancarkan terang bagi dunia, dan membebaskan yang terbelenggu. Tuhan mau agar kita mengenal jati diri kita yang sebenarnya.
Beberapa hal yang Tuhan nyatakan berkaitan dengan keberadaan kita sebagaimana pesan di atas:
(1).  Menjadi umat yang tidak menjadi serupa dengan dunia
Wah. 3:4  Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.
Perkataan Tuhan di atas sebenarnya ditujukan kepada jemaat di Sardis, salah satu dari ketujuh jemaat yang terdapat dalam kitab Wahyu. Sebagian besar jemaat Sardis adalah jemaat yang rohaninya mengalami stagnasi, secara lahiriah mereka tampak aktif dan baik, namun bukan berdasarkan kebenaran dan kuasa yang sejati dari Roh Kudus. Itulah sebabnya Tuhan menegur jemaat di Sardis. Meski demikian, ada beberapa orang di antara jemaat Sardis yang tetap tinggal setia kepada Injil, yang tidak luput dari pengamatan Tuhan yang melihat jauh ke dalam batin mereka. Sepanjang sejarah gereja, selalu saja didapati orang-orang yang tidak “mencemarkan pakaian mereka” dan yang berjalan dalam kesederhanaan dan kemurnian pengabdian diri kepada Kristus.
Saat ini, kita melihat bagaimana kegelapan mencoba untuk menguasai bumi dan kekelaman berusaha menutupi bangsa kita. Berbagai tindak kejahatan dan penyesatan terus terjadi tanpa henti, seolah-olah tidak ada satupun yang bisa diharapkan untuk menjadi penerang. Bahkan gereja (umat Tuhan), yang seharusnya bangkit menjadi penerang pun seringkali masih melakukan perbuatan kegelapan. Namun Tuhan memerhatikan kita, Ia berkata bahwa masih ada orang-orang yang tidak mencemarkan pakaiannya, yaitu orang-orang yang masih mau berjalan dalam pimpinan dan tuntunan Tuhan. Orang-orang yang berjalan dengan “pakaian putih”, yang siap untuk menjadi terang bagi dunia yang gelap ini.
(2). Menjadi umat yang tetap kuat dan melakukan hal-hal yang luar biasa
Daniel 11:32  . . . tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak (NKJV=..shall be strong and carry out great exploits)
Kisah dalam ayat di atas menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang berubah setia dan berlaku fasik terhadap perjanjian Allah, namun, dalam situasi yang sedemikan sulit itu, masih ada segelintir orang dari sisa umat Tuhan masa itu yang tetap berlaku setia kepada Allah, sekalipun penganiayaan terus berlangsung. Kepada umat yang demikianlah, Tuhan menjanjikan kekuatan, kemenangan dan kesempatan untuk dipakai sebagai alat Tuhan dalam melakukan perkara-perkara yang luar biasa.
Yesus pernah berkata kepada murid-murid-Nya bahwa pekerjaan-pekerjaaan besar yang Ia lakukan disebabkan karena Ia menjadi satu dengan Bapa dan Bapa menjadi satu di dalam diri-Nya. Ia mampu melakukan segala sesuatu, karena terlebih dahulu Ia melihat Bapa melakukannya. Artinya, kebersatuan Yesus dan Bapalah yang membuat hal-hal luar biasa terjadi. Hal yang sama berlaku juga bagi kita. Saat kita menjadi satu di dalam Kristus dan membiarkan Roh Kudus ‘beracara’ melalui kita, maka sebagai bait Roh Kudus-Nya, kita akan melakukan hal-hal yang luar biasa, bahkan lebih besar dari apa yang Yesus lakukan saat Ia ada di bumi.
Umat Tuhan, ketika kita menangkap visi dari Tuhan ini, kita menyadari bahwa akan ada hal-hal besar yang Ia mau lakukan melalui kita. Dunia memang sedang menuju kepada kegelapan dan kebinasaannya, namun masih ada gereja Tuhan yang tetap kuat dan mau berjalan di atas kebenaran Tuhan untuk menjadi penerang di bangsa ini. Dan itu adalah kita. Bersama Yesus kita akan lakukan perkara-perkara yang gagah perkasa.

Tuhan Yesus memberkati!

7 Okt 2012 – Umat Pembebas (Mutiara yang Berharga Bag. 4). “Visi 2013: Light Generation”

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>