Amsal 30:24-28 (24) Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: (25) semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,

Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya ke dalam kehidupan dunia nyata, Ia tidak hanya menghendaki para murid memiliki hati yang tulus seperti burung merpati saja, namun juga memiliki sikap cerdik seperti ular. Kehidupan di dunia nyata, termasuk manusia di dalamnya digambarkan sebagai “serigala” yang tidak akan segan-segan memakan siapa saja yang bisa dilahapnya termasuk domba-domba utusan Tuhan. Seringkali didapati masih banyak umat Tuhan yang menjalani hidup hanya sekedar memiliki hati yang tulus saja. Rajin beribadah, hafal ayat-ayat firman Tuhan, siap menolong siapa saja namun  sering dimanipulasi orang lain dan tak urung mengalami kekalahan di dalam kehidupan nyata.

Tuhan mau agar umat-umat-Nya tidak sekedar tulus saja, namun juga memiliki sikap yang cerdik dalam arti memiliki hikmat Tuhan, sehingga menjadi umat yang tahu bersikap tepat dan benar ketika berhadapan dengan siapa saja dan dalam kondisi apapun, sambil tetap memuliakan Tuhan.

Dalam terjemahan lain, kata ‘sangat cekatan’ berarti berhikmat, sigap, tepat bertindak, cepat dan tidak berlambat-lambat, namun tidak sembrono. Bahasa Ibrani memiliki penjelasan yang lebih baik, yaitu: to be wise in mind, to be wise in word, to be wise in action; berhikmat, pintar dan bijaksana dalam pikiran (otak), berhikmat dalam tutur kata, berhikmat dalam bertindak atau berbuat.

Sering kali manusia lebih tertarik kepada hal-hal yang berskala ‘besar’ atau ‘hebat’, misalnya: para tokoh dan pemimpin bangsa yang terkenal di dunia, tokoh bisnis yang sukses, para ahli  di bidangnya, dan lain sebagainya. Berbagai buku mengenai rahasia kesuksesan sudah diterbitkan agar para pembaca dapat mempelajarinya. Namun pesan Tuhan bagi kita kali ini justru mengajarkan supaya kita belajar pada binatang-binatang yang kelihatannya kecil dan lemah! Amsal 30:24-28 menuliskan ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan, yaitu semut, pelanduk, belalang dan cicak yang seakan tidak memiliki kekuatan hebat bahkan dikatakan terkecil di bumi, namun mereka bersama menuju kepada suatu perlindungan yang kuat!

(1). Semut binatang yang tahu mempersiapkan hari depan

Amsal 30:25 semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, 

Walaupun semut ini dikatakan lemah, penulis Amsal menyebutnya bijak, karena semut tahu kapan waktunya untuk berkerja dan mengumpulkan makanannya untuk persediaan. Bayangkan saja, jika semut tidak bekerja pada musim panas dan menampung makanannya untuk persiapan di musim hujan; yang mana di musim tersebut mereka tidak bisa bekerja! Semut akan mati karena tidak bisa mencari makanan. Jadi, sikap mengantisipasi hari depan ada dalam perilaku semut. Tuhan mau kita belajar kepada semut-semut ini.

Betapa cepatnya juga semut hadir ketika dia mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan. Kita harus belajar seperti semut yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan baik. Ada banyak orang yang mundur ketika melihat bahwa kesempatan yang terbentang itu membutuhkan pengorbanan, dan akibatnya mereka melewatkan peluang dan kehilangan kesempatan. Ingatlah bahwa kesempatan pun merupakan sebuah berkat dari Tuhan. Tuhan seringkali tidak serta merta menyediakan ikan, tapi Dia menyediakan pancing dan jala agar kita bisa menangkap ikan. Kita akan melewatkan begitu banyak kesempatan dan membuang waktu sia-sia dalam hidup jika kita hanya bersungut-sungut dan duduk menantikan ikan.

(2). Pelanduk binatang yang tahu mempertahankan diri

Ams. 30:26 pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,

Pelanduk adalah binatang kecil, lemah dan mangsa yang empuk bagi hampir semua jenis hewan pemakan daging. Tetapi pelanduk diistimewakan karena ia cekatan dalam mencari tempat perlindungan. Pelanduk menyadari kelemahannya sekaligus mengetahui kekuatan sebuah bukit batu yang bisa menjamin keamanannya untuk berlindung bila bahaya datang. Tidak ada satu binatang buas pun yang sanggup merobohkan bukit batu untuk menangkap mangsanya; termasuk pelanduk. Pelanduk mengerti tentang pentingnya suatu perlindungan yang teguh.

Daud adalah seorang yang seringkali dipandang remeh oleh para lawannya, mengingat ia memiliki banyak kelemahan ditambah pula ia memiliki postur tubuh yang tidak terlalu besar. Namun ia tahu kepada siapa ia harus berlindung. Bukankah ia yang seringkali memanggil Tuhan semesta alam sebagai bukit batu perlindungannya?

(3). Belalang binatang yang tahu mengatur dirinya sendiri

Ams. 30:27 belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur,

Belalang termasuk binatang yang hebat. Ia diperbandingkan secara langsung dengan manusia yang selalu harus diatur oleh “raja.” Artinya, jika manusia tidak ada yang mengaturnya, maka biasanya akan terjadi kekacauan. Belalang tidak harus diatur! Mereka adalah mahkluk yang sudah teratur; mereka bisa mengatur dirinya sendiri.

Pernahkah Anda bertemu dengan segerombolan belalang di padang? Perhatikan saat mereka terbang, sekalipun dalam jumlah ribuan ekor, apakah ada yang bertubrukan dan jatuh atau gagal terbang? Belalang itu begitu teratur; hingga pada saat sedang terbang pun mereka begitu teratur. Bangsa Israel adalah contoh gambaran umat Tuhan yang kerap kali berusaha untuk menyimpang dari jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, sekalipun Musa sebagai pemimpinnya telah berusaha untuk mengaturnya dengan penuh kesabaran. Bisa dibayangkan seandainya bangsa tersebut berjalan menuju Tanah Perjanjian tanpa dipimpin seorang pemimpin seperti Musa atau Yosua.

(4). Cicak binatang yang tahu mengaktualisasi diri

Ams. 30:28 cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.

Beberapa jenis reptil tertentu tidak berbahaya, salah satunya cicak. Ia mungkin binatang melata yang menjijikan bagi sebagian orang. Binatang ini lemah, bahkan ditangkap dengan tangan kosong pun begitu mudah! Namun binatang ini bisa ada di mana-mana. Bahkan ketika berkunjung ke rumah-rumah mewah dan istana raja sekalipun, kita dapat menemukannya di sana. Cicak itu binatang yang aktual; mampu menunjukkan keberadaan atau eksistensinya dalam berbagai kondisi dan tempat.

Bagaimana dengan kita umat Tuhan? Seringkali masih banyak umat Tuhan yang merasa diri tidak layak untuk berada di tempat-tempat yang terhormat karena merasa diri tidak layak. Ingatlah akan pesan Tuhan minggu lalu, bahwa kita begitu bernilai di hadapan Tuhan. Yesus yang telah menebus kita dengan curahan darah-Nya di kayu salib, telah mengangkat kita tinggi-tinggi, karena Ia telah merancangkan sesuatu yang luar biasa bagi masa depan kita.

Tuhan Yesus memberkati!

7 Februari 2016 – Menjadi pengatur yang bijak

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>