Markus 4: 20  Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Yesus sedang mengajarkan murid-murid-Nya tentang perumpamaan seorang penabur, dimana lewat perumpamaan itu Yesus sedang berbicara tentang benih firman yang ditaburkan kepada orang banyak, namun direspon secara berbeda oleh mereka yang mendengarnya. Ada benih firman yang ditabur kepada seseorang, namun orang itu tidak mengerti dan tidak berusaha untuk mengerti maupun mencari tahu apa makna dari firman yang ia dengar. Akibatnya lenyaplah firman itu diambil oleh si musuh yang memang berusaha untuk mencurinya.

Lalu ada pula benih firman yang ditabur kepada seorang yang lain, dengan gembira ia menerimanya, namun firman yang diterima ternyata hanya sebatas informasi yang sekedar membukakan wawasannya saja. Maka ketika datang penindasan atau penganiayaan firman itu tidak bekerja di hatinya, sehingga orang itu segera pergi dengan kecewa. Ada pula benih firman yang ditabur kepada seseorang, namun sayangnya firman itu jatuh di atas hati yang sudah penuh dengan segala keinginan, ambisi dan akan hal-hal yang lain, sehingga firman Tuhan tidak dapat berbuah sebagaimana seharusnya. Namun, di akhir perumpamaan Yesus mengatakan bahwa ada pula firman yang ditabur di atas tanah hati yang gembur, yaitu hati yang siap untuk menerima perkataan Tuhan, sehingga ketika orang yang mendengarnya itu menyambutnya, maka berbuahlah firman Tuhan tersebut. Ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan memasuki tahun 2014 ini, ada begitu banyak firman yang akan Tuhan berikan kepada kita umat-Nya sebagai rambu penunjuk arah di tengah situasi dunia yang gelap ini, dengan maksud agar umat-Nya sampai di tempat tujuan yang sudah Ia tetapkan. Namun firman yang bertugas sebagai rambu penunjuk arah akan menjadi sia-sia ketika ditangkap oleh hati yang salah. Karena setiap firman yang ditabur ternyata tidak cukup sekedar didengar oleh telinga, namun juga perlu ditangkap oleh hati yang benar.

Seni berkomunikasi adalah suatu cabang ilmu yang kelihatannya begitu mudah dan tidak perlu dipelajari secara khusus, namun sesungguhnya tidaklah semudah apa yang disangka oleh banyak orang. Komunikasi adalah bukan soal bagaimana seseorang dapat berbicara dan menyampaikan maksud hatinya dengan baik kepada lawan bicaranya, namun juga tentang bagaimana orang tersebut dapat mendengarkan lawan bicaranya dengan baik. Dalam hal yang kita dengar adalah perkataan firman Tuhan, maka baiklah setiap kita memberikan penundukan yang benar kepada Tuhan dengan menyediakan telinga dan hati yang bersih untuk mendengarkan firman Tuhan untuk kemudian melakukannya.

Hal-hal yang perlu kita pelajari untuk menjadi pendengar yang baik akan setiap perkataan firman Tuhan, antara lain:
(1). Belajar untuk menyingkirkan segala bentuk penghalang

Flp. 3: 8  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Demi untuk memperoleh pengenalan akan Tuhan dan kuasa kebangkitan-Nya, rasul Paulus rela meninggalkan segala kebanggaan lahiriahnya, bahkan menganggap semuanya itu sebagai sampah yang hanya akan menghalang-halangi hal-hal ilahi yang ia dambakan di dalam memenuhi panggilan sorgawi dalam hidupnya. Sikap yang sama pula perlu kita lakukan demi untuk dapat menangkap dengan benar akan setiap pernyataan-pernyataan dari Tuhan, yaitu dengan rela menyingkirkan segala bentuk penghalang, seperti: kekecewaan, kemarahan, kebencian, keegoisan, kegagalan masa lalu, ketidakpercayaan kepada Tuhan, ketidaksabaran, kebebalan, keengganan, sikap menghakimi, dan sebagainya. Karena hal-hal inilah yang tanpa disadari akan berdiam di dalam diri kita dan menghalangi kita untuk dapat menangkap apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita.

(2). Belajar menyediakan waktu untuk mendengar dan merefleksikan hidup kita pada apa yang Tuhan kehendaki

2 Tim. 4: 3  …mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

Banyak orang cenderung memilih untuk mendengar apa yang mereka ingin dengar, bukan apa yang Tuhan ingin mereka dengar. Kondisi seperti ini sama seperti apa yang rasul Paulus pernah sampaikan kepada Timotius, bahwa di akhir zaman ini banyak orang mengarahkan telinga mereka hanya kepada hal-hal yang ingin mereka dengar. Bahkan mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinga mereka sendiri. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran firman dan membukanya bagi dongeng.

Belajarlah menyediakan waktu untuk mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita, tangkap apa yang Tuhan sedang lakukan dalam hidup kita hari-hari ini, bertanyalah kepada Tuhan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Jangan datang kepada Tuhan dengan mencari pengesahan atau pembenaran kepada Tuhan atas keinginan yang timbul dari diri kita sendiri.

(3). Belajar untuk mengerti maksud Tuhan lebih dari sekedar apa yang tertulis

Mat. 16: 17  Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Pendengar yang baik adalah mereka yang mampu menangkap makna obyektif dan subyektif dari setiap pembicaraan yang mereka lakukan. Mereka bukan sekedar menangkap makna hanya lewat perkataan yang keluar dari mulut lawan bicaranya saja, tetapi mampu menangkap makna yang tersembunyi yang ditangkap melalui mimik wajah si pembicara.

Yesus memuji Petrus ketika ia berhasil menjawab pertanyaan tentang siapa sesungguhnya diri pribadi-Nya menurut anggapan para murid. Ketika Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup, Yesus berkata sambil memuji Petrus bahwa jawaban yang disampaikannya adalah bukan semata-mata jawaban yang ia peroleh dari manusia, melainkan Bapa di Sorgalah yang telah membantu menyingkapkannya kepada diri Petrus. Artinya, Petrus memperoleh pewahyuan dari Sorga tentang siapa Yesus sebenarnya. Di dalam hidup ini, kita harus sungguh-sungguh melibatkan Roh Kudus untuk membantu kita dalam menyingkapkan makna kebenaran yang Tuhan nyatakan kepada kita, sehingga kita semakin mengerti maksud dan rencana Tuhan dalam hidup kita.

Mari umat Tuhan, ada banyak tuntunan yang Tuhan mau sampaikan kepada kita di tahun yang baru ini. Dibutuhkan hati yang tulus dan murni, serta pertolongan Roh Kudus di dalam mendengar dan mengaplikasikannya sehingga kita senantiasa ada di dalam jalur dan rencana-Nya Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

5 Januari 2014 – Mendengar Dengan Lebih Baik

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>