Lukas 12:37  Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.

Adalah kebiasaan masyarakat Yahudi pada zaman dahulu untuk selalu mengenakan ikat pinggang di dalam berbagai aktifitas mereka. Sebagai misal, para imam besar dan pemuka agama lainnya menggunakan ikat pinggang ketika melakukan upacara keagamaan. Ikat pinggang juga dikenakan oleh kaum wanita sebagai sarana penggantung benda-benda perhiasan di tubuh mereka. Sedangkan para prajurit akan menggunakan ikat pinggang untuk menggantungkan pedang berikut berbagai alat penunjang tugas keprajuritan lainnya. Hamba-hamba pekerja pada umumnya juga menggunakan ikat pinggang untuk mengikat jubah mereka ketika mereka sedang melakukan pekerjaannya. Biasanya, ikat pinggang ini baru mereka lepaskan ketika mereka sudah tiba di tempat kediaman mereka sendiri, tanda bahwa mereka sudah selesai melaksanakan pekerjaan mereka sepanjang hari.

Ayat di atas merupakan salah satu pengajaran khusus yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya berkenaan dengan kesiagaan seorang hamba untuk senantiasa berjaga-jaga dengan tetap mengikat pinggangnya selama menantikan tuannya yang sewaktu-waktu pulang, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, maka ia dapat segera membukakan pintu, mempersilakan tuannya masuk serta menyiapkan hidangan bagi tuannya itu. Hamba tersebut harus terus mengenakan ikat pinggangnya tanda berjaga-jaga karena ia tidak tahu kapan persisnya tuannya itu datang. Memang betul, makna rohani dari pengajaran di atas adalah betapa kita sebagai gerejaTuhan harus senantiasa bersiap-siap di setiap waktu untuk menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali. Bersiap-siap karena tidak seorangpun yang tahu persis kapan waktu kedatangan-Nya yang kedua kali nanti.

Namun, selain makna tersebut di atas, melalui pesan-Nya bagi kita di minggu ini, Tuhan juga sedang menyuruh kita untuk memerhatikan “ikat pinggang” yang sedang kita kenakan saat ini. Apakah dalam keadaan terikat dengan baik pada pinggang, tanda sedang dalam kondisi sedang bekerja melakukan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita, ataukah sedang dalam kondisi longgar, tanda sedang “beristirahat” dari tugas yang dibebankan. Dan apakah ikat pinggang tersebut dalam keadaan terlepas, tanda sudah melepaskan segala tugas dan tanggung jawab sebagai hamba-hamba yang seharusnya sedang bekerja dan sedang menantikan kedatangan tuannya.

Beberapa makna yang hendak kita pelajari berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan mengenakan ikat pinggang tersebut, di antaranya adalah:

(1). Mengerjakan tugas yang dipercayakan dengan penuh tanggung jawab

Luk. 12:47  Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.

Alasan seorang hamba menerima banyak pukulan ketika tuannya datang bukanlah karena tuannya itu kejam dan gemar memberikan hukuman, namun karena sang hamba tidak melakukan tugas sebagaimana harusnya seperti yang diperintahkannya sejak sebelum tuannya pergi melakukan perjalanan. Sang hamba dipercaya tuannya menjadi seorang pengurus rumah yang setia dan bijaksana dimana ia harus memberikan makanan kepada hamba-hamba yang lain pada waktunya. Namun termyata ia kedapatan sedang melakukan tugas yang tidak diperintahkan tuannya, bukan hanya tidak memberikan makanan kepada hamba-hamba lainnya tersebut saja tetapi juga memukuli hamba-hamba tersebut, bahkan ia sendiri melepaskan ikat pinggangnya lalu pergi makan minum dan bermabuk-mabukan. Itulah sebabnya kemudian ia menerima hukuman akibat kelalaiannya.

Setiap kita pasti pernah terlibat di dalam berbagai aktifitas pekerjaan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Entahkah kita memiliki posisi sebagai atasan ataupun bawahan di tempat pekerjaan, sebagai guru maupun murid di sekolah, sebagai majikan maupun karyawan di tempat usaha, atau bahkan di tempat pelayanan dimana Tuhan berada dalam posisi sebagai Raja yang mempercayakan tugas pelayanan melalui hamba yang telah Ia pilih sebagai pemimpin, untuk kita laksanakan. Apapun posisi kita, tentu setiap kita, masing-masing pribadi, rindu mengerjakan seluruh tugas-tugas yang dipercayakan dan menyelesaikannya dengan tepat seperti yang diperintahkan-Nya dengan penuh tanggung jawab, sehingga ketika “Sang Tuan datang”, maka kita bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik. Itulah yang disebut sebagai hamba yang mengenakan ikat pinggang dengan baik.

(2). Mengenakan kebenaran dalam setiap aspek kehidupan

Yes. 11:5  Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

Yesaya sedang menubuatkan gambaran pribadi Yesus yang akan lahir ke dalam dunia kelak. Seorang pribadi yang diurapi secara luar biasa oleh Roh Allah dan membawa keselamatan penuh bagi bangsa-bangsa. Kebenaran dan kesetiaan adalah sifat yang tidak dapat dipisahkan dari diri-Nya, karena sesungguhnya Ia adalah kebenaran itu sendiri. Yesaya menggambarkan pribadi Yesus yang terintegrasi dengan kebenaran seperti ikat pinggang yang tetap terikat pada pinggang. Dengan demikian, saat Tuhan berpesan bahwa kita harus senantiasa mengenakan ikat pinggang kita, itu berarti kita harus selalu mengenakan kebenaran di dalam setiap aspek kehidupan kita, baik dalam pikiran, ucapan maupun tindakan.

Minggu lalu Tuhan berpesan bahwa hari-hari ini arus dunia sedang mengalir dengan begitu derasnya dan menerjang seluruh aspek kehidupan manusia termasuk gereja, oleh karena itu kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang tahan uji dengan cara terus melatih diri beribadah agar tidak jatuh tersandung. Gereja dipanggil bukan untuk menjadi serupa dengan dunia, ataupun memasukkan unsur takhayul maupun dongeng nenek-nenek tua, melainkan untuk mempengaruhi dunia. Dengan cara bagaimanakah gereja mempengaruhi dunia? Tentu saja dengan kebenaran Kristus yang kita miliki ketika kita tinggal di dalam-Nya dan Firman-Nya tinggal di dalam kita. 1 Tim. 3:15  . . . sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

Salah satu makna mengenakan ikat pinggang adalah berpakaian ‘kesiapan’ (dress in readyness), siap untuk bergerak (ready to move), dan tidak terhalangi atau tidak tersandung (unhindered). Kita dapat membayangkan seperti apa orang-orang Yahudi pada waktu itu ketika mereka tahu harus bergerak leluasa memberitakan firman Tuhan tanpa takut tersandung, yaitu dengan cara mengenakan ikat pinggang pada jubahnya, karena berlari dengan jubah yang panjang dapat membuat mereka tersandung, kecuali jika ia mengikatnya dengan benar. Makna rohani ikat pinggang yang dimaksud adalah ikat pinggang kebenaran (Ef. 6:14  Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,)

Mari umat Tuhan, melalui pesan-Nya minggu ini, sesungguhnya Tuhan tidak menghendaki kita menjadi orang-orang yang “kedodoran” dalam menjalani kehidupan ini. Mengenakan jubah tanpa mengenakan ataupun mengencangkan ikat pinggang adalah sama dengan melakukan segala sesuatu tanpa mengetahui maksud dan tujuan Tuhan. Tuhan juga mau kita menjadi “atlet-atlet” yang mampu berlari sedemikian rupa hingga mencapai garis akhir untuk menerima mahkota abadi tanpa tersandung, hanya karena tidak “mengencangkan” ikat pinggang dengan benar.

Tuhan Yesus memberkati!

4 Agustus 2013 – Kencangkan Ikat Pinggangmu (Membuat Pilihan Yang Benar Bag. 6)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>