Amsal 11:3-6 (3) Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. (5) Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.

Lewat beberapa ayat yang ditulis oleh penulis Amsal ini, kita dapat menangkap suatu pelajaran, bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang mencerminkan pribadi dari orang yang melakukan tindakan tersebut. Apabila yang melakukan tindakan itu seorang yang jujur, maka tindakan yang dilakukannya adalah perkara-perkara yang jujur dan tulus. Sebaliknya, apabila yang melakukan tindakan adalah seorang pengkhianat, maka pengkhianatan dan kecuranganlah yang dilakukannya. Demikian pula jalan orang saleh menjadi rata karena ia melakukan kebenaran. Dan sebaliknya, jalan kefasikanlah yang membuat orang fasik terjatuh.

Namun demikian, dalam kenyataannya didapati tidak sedikit ditemukan orang benar, yang percaya kepada Tuhan, tetapi juga melakukan tindakan-tindakan curang dan tidak benar. Mengapa hal itu bisa terjadi? Lewat pesan yang diberikan kepada kita di minggu ini, Tuhan sedang mengajarkan bahwa salah satu penyebabnya adalah pandangan kita mengenai diri kita sendiri. Seberapa bernilai kita memandang diri kita sendiri akan tercermin dalam tindakan yang kita lakukan. Apabila seorang percaya memandang dirinya tidak memiliki nilai yang tinggi, maka dia akan melahirkan perbuatan yang tidak memiliki nilai yang tinggi pula. Orang bernilai akan melakukan hal-hal yang bernilai jua. Pertanyaannya adalah, seberapa bernilai kita di dalam memandang diri kita sendiri?

Bernilai tidaknya seseorang tidak tergantung pada jumlah kekayaan yang ia miliki, namun bergantung pada seberapa tinggi orang itu menghargai dirinya sendiri, apakah sama seperti bagaimana Tuhan memandang dirinya, yaiyu sebagai orang yang berharga di mata-Nya. Seberapa bernilaikah kita ini sesungguhnya? Mari kita pelajari hal ini melalui cara kita menentukan nilai suatu benda.

Nilai sebuah benda ditentukan dari:
(1). Seberapa tinggi kesediaan orang untuk membayarnya
Berapa nilai sebuah lukisan? Nilai sebuah lukisan ditentukan dari seberapa besar kesediaan orang membayarnya untuk dapat memiliki lukisan tersebut. Bagi sebagian orang yang tidak mengerti tentang lukisan mungkin hanya berani mengeluarkan sedikit uang untuk memilikinya. Namun bagi orang-orang yang paham tentang nilai artistik sebuah karya seni, ia berani mengeluarkan harga yang sangat tinggi untuk sebuah lukisan yang sama. Seberapa orang rela membayarnya, maka seharga itulah nilai sebuah benda.

Tahukah Anda berapa besar nilai kita sebagai orang-orang percaya? Nilai kita adalah seharga darah Yesus yang dicurahkan di atas kayu salib. Artinya, nilainya tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Begitu mahalnya sehingga dibutuhkan pengorbanan sebuah nyawa tak berdosa, Yesus Sang Juruselamat demi untuk menyelamatkan kita semua.

(2). Siapa yang memilikinya
Seringkali sebuah benda sederhana menjadi sangat mahal sekali harganya, dikarenakan pribadi sang pemilik benda tersebut. Sepasang sepatu olahraga yang sudah lusuh menjadi sangat mahal karena sepatu itu milik seorang atlet terkenal. Namun sebaliknya, sepatu yang serupa akan dihargai begitu murah karena dimiliki oleh seseorang yang tidak dikenal.

Berdasarkan dua hal di atas, sadarkah kita, seberapa bernilainya kita sebagai orang-orang percaya? Jawabannya dapat kita tanyakan kepada diri kita sendiri, yaitu “Siapakah yang memiliki kita?” dan “Berapa harga yang dibutuhkan untuk menebus kita?” Alkitab mengatakan, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia (1 Kor. 7:23). Kita semua telah dibeli dan dibayar penuh oleh Yesus. Kita milik Yesus Kristus, Sang Raja di atas segala raja. Salib telah membuktikan betapa bernilainya kita. Yesus tidak mati untuk sebuah “barang” murahan.

Orang-orang yang memandang dirinya sebagai pribadi yang bernilai tinggi akan tampak dari:
a. Tindakan-tindakannya

2 Sam. 9:1-13 (7) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.”

Ketika Daud menjadi raja atas Israel, ia teringat akan perjanjiannya kepada Yonathan sahabatnya, yang tidak lain adalah anak Saul. Ia bertanya apakah masih ada keturunan yang tinggal dari keluarga Saul, karena ia akan menunjukkan kasihnya oleh karena Yonatan. Ternyata Yonathan masih meninggalkan satu orang keturunan, yaitu Mefiboset, seorang yang cacat kedua belah kakinya. Sejak kecil Mefiboset merasa bahwa ia adalah seorang yang tidak berguna. Ia hidup bersembunyi bagaikan seekor “anjing mati” yang tidak ada harganya di tempat sunyi, khawatir Daud akan membunuhnya.

Namun suatu ketika raja Daud memanggilnya ke istana. Alih-alih akan menerima hukuman mati, Mefiboset justru malah dipulihkan hak-haknya sebagai keturunan Saul. Dan sejak saat itu ia boleh duduk makan semeja dengan Daud setiap hari. Hidup Mefiboset yang hancur dipulihkan oleh raja Daud, seorang yang pernah mengalami masa-masa perjalanan hidup yang dikucilkan, namun kemudian menjadi bernilai setelah dilayakkan Tuhan menjadi raja atas Israel. Orang yang memandang hidupnya bernilai akan terlihat dari tindakan-tindakannya yang juga akan mengangkat hidup banyak orang menjadi bernilai.

b. Keputusan-keputusannya

Flp. 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Sejak mengenal Kristus dalam hidupnya, rasul Paulus mengambil sebuah keputusan tegas untuk meninggalkan kehidupan masa lalunya yang pernah sangat dibanggakannya dan menganggapnya sebagai sampah, karena pengenalannya akan Kristus lebih mulia dari pada semuanya itu. Orang yang memandang dirinya sebagai ciptaan yang baru di dalam Kristus, tidak akan lagi mencampuradukkan kehidupan barunya yang bernilai luhur dengan kehidupan masa lalu yang kotor. Sebaliknya, orang yang memandang dirinya tidak bernilai akan selalu melakukan hal-hal yang kotor, jahat, tidak berkenan dan yang tidak memuliakan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

31 Januari 2016 – Orang yang bernilai akan melakukan hal-hal yang bernilai

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>