Ams. 8: 30 aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;

Ayat dalam Amsal di atas sedang menggambarkan tentang kedekatan sebuah hubungan antara hikmat dengan Allah, yang sesungguhnya merupakan gambaran keintiman hubungan antara Allah Bapa di sorga dengan Kristus sebagai Anak kesayangan-Nya. Apabila kita membaca ayat-ayat lainnya dalam perikop yang sama, kita akan mendapati bahwa betapa luar biasanya dampak atau hasil dari sebuah hubungan yang intim antara Bapa dengan Anak, yaitu menghasilkan kuasa yang dahsyat. Di dalam Amsal pasal 8 tersebut dijelaskan bahwa kuasa tersebut tertuang dalam bentuk perkataan-perkataan Allah (hikmat Allah) yang sanggup untuk menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, sanggup memberikan segala kecerdasan, keadilan, kepandaian, kekayaan, bahkan kehidupan bagi yang memeliharanya.

Ayat inilah yang Tuhan berikan kepada kita minggu ini. Tuhan sedang mengungkapkan isi hati-Nya kepada kita, yaitu bahwa hubungan seperti inilah yang Ia kehendaki antara kita dengan Diri-Nya, yaitu suatu hubungan yang penuh keintiman antara seorang anak dengan bapanya. Seringkali, disadari atau tidak, ternyata hubungan yang terjalin antara kita dengan Tuhan, hanyalah sekedar hubungan formal yang sangat kaku, dimana kita datang kepada-Nya dengan memosisikan diri seolah-olah sebagai seorang rakyat yang datang menghadap Sang Raja dengan sederet permohonan dan bahkan untuk mendekat sekalipun, perlu meminta ijin terlebih dahulu. Sesungguhnya, Tuhan rindu setiap anak-anak-Nya senantiasa berada di dekat-Nya, bercengkerama dengan Dia. Tuhan mau Diri-Nya senantiasa berada di tengah-tengah kita, seperti seorang Bapa yang selalu dikelilingi dan berada bersama-sama dengan anak-anak-Nya, yaitu dengan kita, anak-anak laki-laki-Nya dan anak-anak perempuan-Nya (2 Kor. 6: 18).

Di tahun Generasi Elisa ini, lagi-lagi Tuhan Yesus mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan Bapa-anak antara kita dengan Diri-Nya, sebagaimana Ia telah memberikan contoh dan teladan bagaimana hubungan antara Diri-Nya dalam posisinya sebagai seorang Manusia di bumi dengan Bapa-Nya yang di sorga.

Hubungan yang intim dan akrab antara kita dengan Tuhan, seperti seorang bapa dengan anaknya akan menghasilkan:

 

(1). Anak akan melihat apa yang dilakukan Bapanya

Yoh. 5: 19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

Kunci keberhasilan Yesus dalam pelayanan-Nya dibumi bukanlah semata-mata karena Ia menyandang predikat sebagai Anak Allah, sehingga otomatis Ia sudah tahu semua hal yang harus Ia lakukan. Dalam keadaan-Nya sebagai seorang Manusia yang utuh, Yesus sangatlah membutuhkan tuntunan dan arahan dari Bapa di sorga karena sebagai manusia sejati, Yesus sangat menyadari akan keterbatasan diri-Nya, sehingga Ia sendiri berkata bahwa Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri. Melalui Alkitab, kita semua mengetahui, bahwa pelayanan Yesus begitu dahsyat dan luarbiasa. Apakah rahasia keberhasilan Yesus saat Ia melayani di bumi? Rahasianya adalah karena Yesus menjalin hubungan yang intim dengan Bapa di Sorga. Banyak waktu-waktu yang ia prioritaskan untuk “bercengkerama” dengan Bapa-Nya. Sehingga Ia tahu kapan waktunya untuk melakukan ini dan itu, tahu apa yang harus Ia lakukan dan tahu apa yang harus Ia katakan. Itulah sebabnya pelayanan Yesus sarat dengan mujizat dan senantiasa berada dalam jalur dan agenda Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus tidak pernah membenci Marta yang sibuk sekali dengan “pelayanannya” yang begitu padat, namun Yesus sangat menyukai apa yang dilakukan oleh Maria, yaitu mau meluangkan waktu untuk duduk diam di dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan Yesus (Luk. 10:  39- 42). Hari-hari ini bukankah kita terus diingatkan tentang adanya undangan Tuhan untuk datang kepada-Nya dan meminum ‘air sejuk’ serta memakan ‘roti’ yang Ia hidangkan  bagi kita?

(2). Anak akan mengetahui kewajibannya

Ams. 8: 27 Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya,..

Melalui ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa Anak, yaitu Yesus Kristus, dari sejak semula sudah terlibat dalam proses penciptaan langit dan bumi yang sudah dirancang oleh Bapa di Sorga sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa keintiman antara anak dengan Bapanya akan menghasilkan tanggung jawab seorang anak sebagai kawan sekerja yang baik dari bapanya. Dalam Alkitab terjemahan GWT (God’s Word Translation) ay. 30 aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; kata “anak kesayangan” diterjemahkan sebagai “master craftsman” yang berarti seorang ahli atau tukang yang melakukan tugas ketrampilan. Dan tugas yang dilakukannya, sebagaimana tertulis dalam Amsal tersebut, adalah menciptakan alam semesta dan juga sebagai pemberi kehidupan. Keintiman menghasilkan pemahaman akan tugas dan kewajiban seorang anak sebagai kawan sekerja Bapa.

Rasul Paulus dalam 1 Kor. 3: 9 mengingatkan, bahwa kita semua adalah kawan sekerja Allah, dimana masing-masing kita memiliki tugas dan kewajiban yang mungkin berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Namun dari mana kita mengetahui tugas dan panggilan kita yang sesungguhnya? Semuanya kita dapatkan ketika kita mau meluangkan waktu utk “bercengkerama” dengan Bapa di sorga, sehingga kita tahu kewajiban apa yang kita harus lakukan di bumi ini dan apa prioritas tugas kita. Sebagaimana pada waktu proses penciptaan langit dan bumi, Dia tahu apa yang dia lakukan sejak hari pertama hingga hari ketujuh.

Umat yang dikasihi Tuhan, tidak ada ungkapan yang lebih jelas atas kerinduan Bapa kepada kita seperti yang tercatat dalam Ams. 8: 30, yaitu tentang bagaimana Ia sangat disenangkan apabila kita, anak-anak-Nya, mau datang dan ‘bermain-main’ (bercengkerama) di hadirat-Nya. Selain itu, banyak hal terbaik yang kita terima apabila kita memilih bagian yang terbaik, yaitu terus menjalin hubungan dan ada bersama-sama dengan-Nya senantiasa.

Tuhan Yesus memberkati!

 

29 April 2012 – Kuasa Sebuah Keintiman (The Power of Intimacy)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>