Matius 6:22-23  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Lagi-lagi Tuhan menyampaikan pesan-Nya kepada kita tentang mata. Konteks ayat di atas sedang mengajarkan kepada kita tentang pengaruh mata yang memegang peranan penting dalam mengendalikan tubuh kita. Tubuh kita akan bergerak mengikuti ke arah mana mata kita berfokus, dan mata akan berfokus terlebih dahulu kepada hasrat yang dimiliki hati kita. Apabila hati kita memiliki hasrat yang besar kepada hal-hal duniawi, maka pandangan mata kita akan tertuju kepada hal-hal duniawi, yang secara otomatis akan diikuti pula oleh gerak tubuh ke arah yang sama. Sebaliknya, apabila hati kita mendambakan hal-hal ilahi dengan tulus, maka mata kita akan mulai difokuskan kepada perkara-perkara ilahi, yang kemudian diikuti oleh gerak tubuh ke arah pengejaran akan hal-hal yang ilahi pula.

Bangsa Israel dalam perjalanannya menuju ke Tanah Perjanjian di bawah kepemimpinan Musa, pernah mengalami kegemparan dimana seluruh rakyat menangis, bersungut-sungut, mengeluarkan suara yang nyaring penuh penyesalan karena telah dibawa keluar dari Mesir, bahkan mereka siap untuk melemparkan batu kepada Yosua dan Kaleb. Peristiwa itu diawali ketika Musa yang atas perintah Tuhan mengutus dua belas orang perwakilan dari kedua belas suku Israel mengintai negeri Kanaan yang akan mereka masuki untuk mengamati terlebih dahulu kondisi negeri tersebut. Bagaimana keadaan penduduknya, apakah kuat atau lemah, apakah jumlah mereka sedikit atau banyak, bagaimana kondisi tanah di sana, apakah subur atau tidak, dan lain-lain.

Sepulangnya dari pengintaian, sepuluh dari dua belas pengintai melaporkan bahwa negeri yang akan mereka masuki adalah negeri yang menakutkan karena ternyata dihuni oleh orang-orang berperawakan tinggi seperti raksasa yang mungkin akan memakan mereka, apalagi setelah mereka memandang diri mereka yang tidak lebih seperti belalang-belalang kecil yang siap untuk ditelannya. Hal inilah yang membuat seluruh umat Israel menjadi takut dan panik. Sebaliknya, Yosua dan Kaleb melaporkan bahwa betapa luar biasanya negeri yang akan mereka masuki tersebut. Selain kenyataan bahwa penduduk setempat memiliki perawakan yang besar, namun mereka juga melihat hasil tanaman di sana begitu subur dan memiliki ukuran yang besar-besar pula. Mereka menenteramkan hati bangsa Israel dengan berkata bahwa ada Tuhan Allah yang dahsyat yang menyertai mereka sehingga mereka bisa mengalahkan penduduk yang besar-besar tersebut bahkan menelannya.

Apa yang membuat kesepuluh pengintai dan Yosua-Kaleb memiliki cara pandang yang berbeda, padahal mereka pergi mengintai bersama-sama dan melihat kondisi negeri itu secara bersama-sama pula. Bagi Yosua dan Kaleb, negeri yang akan dimasuki adalah negeri yang berlimpah susu dan madu seperti yang dijanjikan Tuhan dan akan menjadi tanah hunian yang baik bagi mereka, namun bagi kesepuluh pengintai lain hal itu dianggap sebagai malapetaka. Yosua dan Kaleb memiliki pandangan yang berbeda dari kesepuluh pengintai lain karena mereka memiliki jiwa yang lain serta ketulusan hati di dalam mengiring Tuhan dan menangkap rencana Tuhan. Cara pandang Yosua dan Kaleb ini menghasilkan respon yang berbeda dibanding dengan kesepuluh pengintai. Cara pandang seperti inilah yang patut dimiliki oleh setiap kita umat Tuhan.

Beberapa penyebab mengapa seseorang memiliki cara pandang yang salah:

(1). Mendua hati

Matius 6:22-23  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (KJV: The light of the body is the eye: if therefore thine eye be single, thy whole body shall be full of light- jika matamu fokus kepada satu hal, teranglah seluruh tubuhmu)

Mata yang baik adalah mata yang dapat melihat suatu gambar dengan jelas dalam pandangan tunggal (single focus), sedangkan mata yang kurang baik adalah mata yang melihat dengan buram atau melihat sesuatu dalam pandangan rangkap (duplicty), dan pandangan rangkap seperti itu akan sangat menyulitkan seseorang untuk melangkah maupun melakukan aktivitas lain. Dalam konteks ayat di atas, pribadi yang memiliki mata yang kurang baik seperti itu akan mengarahkan sebagian fokus pandangannya kepada hal-hal yang berkaitan dengan kenikmatan dunia, dan sebagian lagi akan dikerlingkan kepada perkara-perkara sorgawi. Padahal sudah dikatakan oleh Yesus di dalam ayat selanjutnya, bahwa manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, karena jika demikian, ia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang satu dan tidak mengindahkan yang lain.

Ingatlah akan isteri Lot yang sudah diperingatkan untuk segera berlari ke tempat aman yang ditunjukkan malaikat Allah tanpa menoleh lagi ke belakang, tempat dimana kota Sodom dan Gomorah terletak. Namun isteri Lot mengalami kebingungan, karena di satu sisi masih ada dorongan hati yang meluap-luap akan kenikmatan masa lalu ketika mereka masih berada di Sodom, sedangkan di sisi lain ia juga ingin berlari ke arah yang benar. Akibatnya isteri Lot menjadi tiang garam, karena tidak memfokuskan pandangannya ke satu arah yang benar.

(2). Membiarkan sesuatu menghalangi pandangan

Matius 6:22-23  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (GWT: “The eye is the lamp of the body. So if your eye is unclouded, your whole body will be full of light – jika matamu tidak terhalang, teranglah seluruh tubuhmu)

Salah satu kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami gangguan katarak pada matanya adalah tidak dapat melihat dengan jelas, seperti ada kabut atau agar-agar yang menghalangi pandangannya. Tidak ada cara lain untuk memulihkannya selain membiarkan penghalang mata itu diangkat dengan cara dioperasi.

Seringkali kekecewaan, keputusasaan, kedengkian, kebodohan, kebencian, dan sejenisnya dapat membuat pandangan seseorang terhalang sehingga sulit untuk melihat jalan-jalan yang Tuhan sudah rancangkan bagi orang itu, sulit untuk mengenali kehadiran dan karya Tuhan dalam hidupnya. Ingatkah tentang kisah dua murid Yesus yang berjalan menuju kampung halamannya dalam kekecewaan? Mereka sampai-sampai tidak mengenali sosok Yesus yang hadir di tengah-tengah mereka, karena dikatakan bahwa ada sesuatu yang menghalangi pandangan mata mereka (Luk. 24:16). Orang-orang seperti ini bahkan seringkali tidak menyadari bahwa ada balok di matanya, sehingga ia tidak tahu bahwa ada kotoran yang menempel di bajunya yang harus dibersihkan. Tidak ada jalan lain, selain diri kita sendiri yang mengambil keputusan untuk mengangkat semua hal yang menghalangi pandangan mata kita tersebut, sehingga kita bisa melihat hal-hal luar biasa yang Tuhan sudah sediakan dengan jelas.

Umat Tuhan, minggu ini Ia kembali mengingatkan tentang pentingnya setiap kita memiliki mata yang sehat, fokus, dan terbebas dari semua hal yang menghalangi pandangan mata, sehingga kita dapat terhindar dari segala tipu muslihat musuh, dan dapat berlari ke arah tujuan yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita. Ibr.12:2  Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, . . .  .

Tuhan Yesus memberkati!

28 April 2013 – Pelita Tubuh (Mengenakan Kacamata Kedua Bag. 2)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>