Filipi 2: 2- 5 (5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Setiap kita merupakan bagian dari beberapa jenis komunitas, entahkah itu komunitas keluarga, gereja, tempat pekerjaan, ataupun kehidupan sosial di masyarakat. Inti kekuatan dalam kehidupan berkomunitas orang percaya adalah kesatuan hati, pikiran, dan tujuan di antara para anggotanya. Apabila kesatuan ini tidak dimiliki, maka kekuatan di dalam komunitas tersebut akan berada di dalam ancaman bahaya.

Rasul Paulus melihat beberapa ancaman sedang dialami oleh jemaat Tuhan di Filipi pada waktu itu. Entahkah itu ancaman dari luar (eksternal), maupun ancaman yang datang dari dalam jemaat Filipi sendiri (internal). Ancaman dari luar datang dalam bentuk adanya orang-orang yang tidak menyukai keberadaan mereka. Hal itu adalah biasa. Belum lagi guru-guru palsu yang membingungkan jemaat Tuhan dengan ajaran-ajarannya yang menyesatkan. Itupun dapat diatasi mengingat kepada mereka telah diletakkan dasar-dasar pengajaran yang benar. Namun Rasul Paulus melihat ancaman dari dalamlah yang berpotensi mengoyak kesatuan jemaat Filipi, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri sehingga menganggap orang lain tidak penting.

Sikap ini merupakan wujud kesombongan karena menganggap diri lebih baik dan lebih hebat daripada orang lain. Sikap sombong ini dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan menghambat kemajuan dalam komunitas orang percaya. Orang seperti ini akan menganggap dirinya yang paling hebat, sementara orang lain dianggap tidak ada apa-apanya. Orang seperti ini biasanya sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Bagi orang tersebut keutuhan komunitas bukanlah prioritasnya.

Menanggapi ancaman tersebut, rasul Paulus mengajak setiap jemaat Filipi untuk belajar menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Ia sendiri yang rela melepaskan identitas dengan segala atribut dan hak-Nya sebagai Allah namun mau mengosongkan diri-Nya supaya setiap orang berdosa dapat diselamatkan. Ia membiarkan diri-Nya dihina, direndahkan, disiksa, dan bahkan disalibkan.

Merendahkan diri bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Hal ini pernah dialami sendiri oleh rasul Paulus. Ia yang dulunya adalah seorang yang terpandang, namun rela melepaskan segala kebanggaan dan, egoisannya karena ia menangkap tujuan Tuhan yang sesungguhnya dalam hidupnya. Dibutuhkan seseorang untuk melatih dirinya untuk bersikap demikian dalam relasinya dengan sesama, khususnya di antara orang percaya. Itu bisa ditunjukkan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati ia menganggap orang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Ada peninggian yang akan Tuhan lakukan di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya di dalam beberapa aspek kehidupan, namun peninggian itu dicapai bukan melalui cara kita dengan meninggikan diri sendiri, namun melalui cara-Nya Tuhan. Dan cara Tuhan biasanya dicapai melalui sesuatu yang berbeda dengan cara manusia. Ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa ingin menjadi yang terbesar, maka ia harus menjadi yang melayani (pelayan). Jalan untuk menjadi yang tertinggi adalah dengan mau menjadi yang terendah.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan bagi kita ini adalah :
(1). Menjadikan Kristus sebagai model perendahan hati

Filipi 2: 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

Cara agar kita dapat mengikuti teladan Kristus sebagai contoh kerendahan hati adalah dengan menyerahkan “hak-hak” kita. Kalau kita perhatikan, ketika rasul Paulus menegur jemaat Filipi untuk belajar hidup bersama dalam komunitas orang-orang percaya, tidak ada teladan lain yang ia bisa berikan kepada mereka selain langsung memerintahkan untuk mengikuti teladan Yesus. Ayat 5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” merupakan ayat “jembatan” bagi ayat 1- 4 (masalah dalam jemaat Filipi) dan ayat 6- 11 (hasil yang dicapai). Artinya, untuk mencapai hasil berupa peninggian yang luar biasa dari Bapa di Sorga, maka teladan Yesuslah yang harus dilakukan, sebagaimana Yesus telah rela menyerahkan hak-hak-Nya sebagai Allah dengan mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Rasul Paulus mengatakan sorga dan tahta yang penuh sukacita, tidaklah menjadi pilihan bagi Yesus. Walaupun Dia sebenarnya tidak harus meninggalkan tahta-Nya, namun karena kasih-Nya maka Dia memilih meninggalkan sorga dan mengambil rupa seorang manusia hina agar dia bisa memasuki ruang kemanusiaan yang kotor dan penuh dosa. Ketaaatan Yesus bukan hanya ketika Ia mati, tetapi berlangsung dari awal sampai akhir (terus menerus). Mulai dari inkarnasi (Allah Sang Pencipta “turun derajat” menjadi ciptaan (manusia). Sebagai manusia, Ia “turun” lagi menjadi hamba (budak). Seorang budak tidak punya hak untuk hidupnya. Budak bisa diperlakukan seenaknya oleh tuan yang sudah membelinya, bahkan kalau tuannya ingin membunuhnya pun bisa. Dari budak, Yesus “turun” lagi dengan mati. Matinya pun “turun” lagi, yaitu dengan mati di kayu salib, sebuah tempat penghukuman yang terkutuk dan keji.

(2).  Menjadikan kematian sebagai pilihan demi pulihnya hubungan

Filipi 2: 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Dosalah yang menjadi penghalang hubungan manusia dengan Allah Bapa di Sorga. Sejak pelanggaran perintah Allah kepada Adam untuk tidak boleh memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, maka sejak saat itu diusirnyalah Adam keluar dari Taman Eden. Dan sejak saat itu, terputus pulalah hubungan antara manusia dengan Allah. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada manusia yang terputus hubungannya dengan Allah Bapa, yaitu sebuah kebiasaan kekal. Oleh sebab itu, dibutuhkan pribadi “Adam yang kedua” yaitu Yesus Kristus yang tidak lain adalah Pribadi Allah sendiri untuk menjadi “jembatan” pemulih dengan rela turun ke dunia untuk mati di atas kayu salib. Dan luar biasanya, sejak peristiwa penyaliban hubungan yang terputus mengalami pemulihan.

Sejak awal, rasul Paulus sudah memperingatkan jemaat di Filipi untuk memerhatikan cara hidup di antara mereka yang saling menganggap diri yang satu lebih hebat dan lebih penting dari yang lainnya. Sikap sombong ini dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan menghambat kemajuan dalam komunitas orang percaya, baik dalam hubungan dengan sesama di dalam gereja, maupun hubungan dengan sesama anggota keluarga (suami-isteri, orang tua-anak). Pemulihan berupa peninggian dari Bapa di Sorga tidak akan pernah dialami sebelum kita rela untuk menjadikan kematian sebagai pilihan. Mati untuk kesombongan, mati untuk kepentingan diri sendiri, mati untuk ketidakpedulian, dan lain-lain.

Mari umat Tuhan, lewat pesan-Nya ini, Bapa di Sorga sesungguhnya sedang mempersiapkan sebuah perkara peninggian yang luar biasa bagi kita, namun hal itu tidak akan pernah dialami sebelum kita mau mengambil keputusan untuk merendahkan diri untuk turut mengikuti teladan Yesus.

Tuhan Yesus memberkati!

27 Maret 2016 – Kerendahan yang membawa kepada peninggian

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>