Luk. 22:61-62  Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Sebelum peristiwa penangkapan-Nya, pada malam seusai perjamuan terakhir bersama para murid, dalam perjalanan menuju Bukit Zaitun, Yesus sudah memeringatkan murid-murid bahwa akan terjadi peristiwa penggenapan seperti yang telah tertulis dalam kitab nabi Zakaria, bahwa sang gembala akan dibunuh dan kawanan domba akan tercerai berai, yang artinya masa penangkapan dan penyaliban Yesus akan segera terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dimana murid-murid akan terserak dan melarikan diri. Tujuan Yesus menyatakan hal tersebut adalah agar para murid mempersiapkan diri untuk menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi, suatu peristiwa yang sangat besar yang dapat menggoncangkan iman mereka, hanya dalam hitungan jam ke depan.

Namun sayangnya, peringatan yang disampaikan Gurunya tersebut hanya dianggap sebagai hal sepele oleh para murid, khususnya Petrus yang berkata bahwa tidak mungkin ia akan mengalami kegoncangan iman seperti yang dikatakan gurunya itu. Bahkan ia menambahkan pula bahwa mungkin saja itu terjadi pada murid-murid yang lain, tetapi tidak kepada dirinya. Petrus merasa bahwa selama ini ia selalu dapat mengatasi segala tantangan apapun yang terjadi dalam hidupnya, sehingga dengan rasa percaya diri penuh ia menampik apa yang dikatakan Gurunya.

Yesus yang memiliki pandangan jauh ke depan, tahu persis apa yang akan terjadi pada diri murid-murid-Nya, sehingga sekali lagi Ia memeringatkan Petrus bahwa pada malam itu juga, apabila tidak mengindahkan peringatan Yesus, maka ia bahkan akan menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Dan seperti kita telah ketahui, Petrus benar-benar menyangkal Yesus persis seperti yang sudah dikatakan-Nya sebelumnya.

Inti dari pesan yang Tuhan berikan kepada kita minggu ini melalui ayat di atas adalah:
(1). Ia tidak akan membiarkan kita melewati sebuah peristiwa tanpa mempersiapkan kita terlebih dahulu

Seandainya murid-murid Yesus tidak memiliki rasa percaya kepada diri sendiri yang berlebihan, bahkan mau merendahkan diri untuk bertanya kepada Gurunya tentang apa yang dimaksud dengan kegoncangan iman yang akan mereka hadapi itu, pastilah Yesus dengan senang hati akan menjelaskan lebih rinci tentang apa saja yang akan murid-murid alami, bahkan Ia tidak akan segan-segan memberitahukan kunci-kunci agar para murid mengalami kemenangan dalam menghadapi semuanya itu. Namun respon para murid, khususnya Petrus, dalam kesombongannya, berkata bahwa ia tidak akan mungkin mengalami semuanya itu, titik.

Salah satu kelemahan dari banyak umat Tuhan adalah mereka seringkali rindu untuk mendapatkan pesan dan jawaban dari Tuhan, namun kemudian meremehkannya ketika sudah memperolehnya. Yesus adalah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, Ia menyampaikan segala sesuatu kepada kita umat-Nya dengan begitu mudah dan sederhana, bahkan seringkali mengambil contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dimengerti dengan baik. Namun masalahnya, pada umumnya manusia adalah pribadi yang rumit dan senang dengan perkara-perkara yang spektakuler, sehingga pesan Tuhan yang sederhana seringkali dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan dinilai tidak terlalu penting, lalu dengan mudah diabaikan begitu saja.

Dalam peristiwa Lazarus yang dibangkitkan dari kematian, sebenarnya Yesus sedang mengajarkan suatu pelajaran penting kepada salah seorang murid yang bernama Thomas. Bukan suatu kebetulan kalau Thomas adalah satu-satunya nama murid Yesus yang disebut di dalam peristiwa bangkitnya Lazarus, karena Yesus yang dapat memandang jauh ke depan mengetahui bahwa Thomas adalah satu-satunya murid yang tidak percaya akan kebangkitan-Nya dari kematian. Maka dari itu jauh-jauh hari sebelumnya Thomas sudah diajarkan oleh Yesus, bahwa orang mati bisa dibangkitkan oleh kuasa Tuhan. Namun sayangnya Thomas tidak belajar apa-apa dari peristiwa tersebut dan tetap tidak percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit pada hari yang ketiga setelah kematian-Nya di kayu salib.

(2).  Tuhan mau kita memiliki cara pandang yang sama dengan diri-Nya.

Semua pesan yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya sejak awal bertujuan mempersiapkan mereka untuk meresponi karya penebusan-Nya di atas kayu salib suatu hari kelak, yang kemudian dilanjutkan dengan disampaikan-Nya Amanat Agung untuk dilaksanakan, yaitu menjadikan bangsa-bangsa sebagai murid-Nya. Namun sayangnya, baik visi demi visi maupun pesan demi pesan yang Yesus sampaikan sejak jauh-jauh hari sebelumnya itu seringkali tidak dimengerti oleh para murid, padahal sejak awal para murid sesungguhnya sudah diperlengkapi dengan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga (Mat. 13:11).

Rahasia Kerajaan Sorga tidak sebatas mengenai apa yang sudah terjadi di waktu-waktu yang lalu saja, namun juga apa yang sedang terjadi pada hari-hari ini, bahkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Untuk dapat menangkap rahasia Kerajaan Sorga, tidaklah cukup kalau hanya mengandalkan pandangan mata jasmani semata, namun seperti yang Tuhan sudah ingatkan dalam beberapa minggu terakhir ini kepada kita, yaitu bahwa Tuhan mau setiap kita menggunakan pandangan mata rohani yang tajam. Pandangan yang dapat melihat jauh ke depan dan memahami rencana Kerajaan Sorga. Namun sayangnya, mata rohani seringkali tertutup oleh kepentingan jasmani yang kita butuhkan saat ini. Padahal, pandangan mata rohanilah yang dapat menjawab kebutuhan jasmani kita, baik untuk saat ini mapun untuk masa mendatang.

(3). Menyadari kalau pandangan mata Yesus menginsyafkan dan menguatkan kita

Ketika mengetahui bahwa Petrus telah tiga kali menyangkal diri-Nya, Yesus tidak serta merta memarahi dan membenci Petrus ataupun menegurnya dengan mengatakan bukankah ia sudah diperingatkan berulang kali jauh-jauh hari sebelumnya. Pandangan mata yang teduh dari Yesus, seperti pandangan mata seorang bapa kepada anak yang dikasihinya, sudah berbicara banyak kepada Petrus, mengingatkan tentang apa yang sudah Yesus peringatkan jauh sebelumnya, membuatnya paham bahwa penyangkalan adalah sesuatu tindakan yang sangat fatal, serta tangisan pertobatan yang menyadarkan dirinya bahwa tidak ada orang yang mampu hidup tanpa Yesus dan perkataan-Nya. Pandangan mata Yesus itulah yang membuat Petrus berjanji bahwa ia tidak akan pernah menyangkal Yesus lagi, baik melalui perkataan maupun tindakannya.

Melalui pesan ini Tuhan juga sedang mengatakan kepada kita, bahwa pandangan mata-Nya senantiasa Ia arahkan kepada kita. Mungkin kita adalah seorang yang merasa kuat dengan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, tetapi sadarilah bahwa seorang Petrus sekalipun yang sangat yakin bahwa ia tidak akan tergoncang, juga tidak mampu menghadapi segala sesuatu tanpa disertai kekuatan Roh Kudus dan firman-Nya. Pandangan mata Yesus juga merupakan syafaat Yesus bagi kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Ada mata yang pandangannya terus diarahkan kepada kita untuk memberikan kekuatan bagi orang yang bersungguh hati kepada-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk menjadi kuatir dan merasa sendiri. Melalui pandangan mata-Nya kepada kita, Yesus juga ingin mengimpartasikan agar kita juga memiliki cara pandang yang sama dengan Bapa kita, karena kita adalah anak-anak-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

26 Mei 2013 – Tuhan Senantiasa Memandang Kita

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>