Matius 19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”
 
Pertanyaan yang diajukan Petrus kepada Gurunya ini sebetulnya timbul sebagai hasil dari percakapan yang ia beserta murid-murid lainnya dengar antara Yesus dengan seorang pemimpin muda yang kaya (ayat 16-26). Dalam perikop itu diceritakan ada seorang pemimpin muda yang datang dan bertanya kepada Yesus apa yang harus ia lakukan untuk memeroleh hidup yang kekal. Karena hidup yang dimintanya adalah hidup kekal, maka Yesus melihat bahwa masih ada hal-hal yang tidak berkenan di mata Tuhan yg ia harus relakan untuk melepaskannya yaitu sesuatu yang ia cintai melebihi pengiringannya kepada Tuhan, yaitu hartanya. 
 
Sebetulnya Yesus sedang menguji kesungguhan hati pemimpin muda ini ketika ia mengatakan bahwa ia siap untuk melakukan apa saja mengingat ia mengaku telah melakukan semua hukum-hukum Tuhan sejak lama. Ketika Yesus meminta pemuda ini untuk menjual hartanya lalu membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin, maka sedihlah hatinya lalu pergi meninggalkan Yesus. Orang itu tidak siap untuk melepaskan sesuatu yang ada pada dirinya untuk Tuhan, karena dasar pengiringannya adalah hanya untuk menerima sesuatu dari Tuhan. 
 
Dalam kekristenan, seringkali pengiringan seseorang menjadi tidak efektif dan tidak mengalami kemaksimalan, karena tanpa disadari motivasi pengiringannya adalah bukan karena semata-mata mengasihi Kristus, melainkan ingin menerima sesuatu dari Tuhan. Hal yang sama pula ternyata ditanyakan Petrus beserta para murid kepada Gurunya, apa yang mereka akan peroleh setelah selama itu mereka telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Tanpa mereka duga, Yesus lalu memaparkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang akan mereka terima sebagai hasil pengiringan mereka. 
 
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, motivasi apa yang selama ini mendasari pengiringan orang percaya hari-hari ini kepada Tuhan. Apakah sungguh benar-benar karena mengasihi Tuhan, menyadari bahwa segala yang baik dan anugerah yang sempurna telah diberikan Tuhan kepada kita, sehingga kita rela melakukan apa yang Tuhan katakan dan melakukannya dengan tulus hati. Ataukah motivasi orang percaya yang sudah tidak jauh berbeda dengan prinsip dunia yang melandasi setiap jerih lelah, termasuk pengiringannya kepada Tuhan, dengan upah yang akan diperoleh.
 
Beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan di atas, adalah:
(1). Prinsip tujuan akan menentukan motivasi
 

Kejadian 1: 27-28  (27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

(28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak;  … 
 
Allah Bapa sesungguhnya sudah memiliki master design yang luar biasa dari sejak zaman penciptaan, yaitu memenuhi bumi dengan kemuliaan-Nya melalui keturunan-keturunan ilahi yang berkuasa atas bumi, yaitu orang-orang yang segambar dan serupa dengan Allah atau dalam arti kata lain orang-orang yang menangkap visi-Nya Allah. Orang-orang yang berjalan dalam visi-Nya Allah, pasti memiliki tujuan hidup yang selaras dengan tujuan Kerajaan Sorga.
Orang-orang yang demikianlah yang akan melayani dan mengasihi dengan suatu sincerity (ketulusan) yang murni, tanpa menuntut upah atau balasan. Yang dipikirkannya adalah apakah Kerajaan Sorga diuntungkan lewat pelayanaannya atau tidak.
 
Sebaliknya, orang-orang yang tidak berjalan dalam visi Kerajaan Sorga, akan fokus pada dirinya sendiri dan memikirkan apa yang akan menguntungkan bagi dirinya, dan tentunya selalu menuntut balasan atas apa yang dilakukannya. Hari-hari ini kesetiaan dan ketulusan sudah menjadi barang langka. Orang-orang yang mengasihi tanpa menuntut balasan sudah merupakan sesuatu yang jarang ditemukan dalam kehidupan kekristenan hari-hari ini.
 
(2). Prinsip identitas akan menentukan motivasi
 
Galatia 4: 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”
 
Apa yang dapat membuat kita dengan mudah memanggil Tuhan kita dengan sebutan Bapa sorgawi, bukan semata-mata karena kita sudah diselamatkan dan menjadi milik-Nya yang sah, namun karena Tuhan telah memberikan Roh Kudus-Nya ke dalam setiap hati kita. Oleh Roh Kudus maka kita dapat berseru dan memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Sebagai anak dari Bapa di Sorga tentunya diharapkan kita berjalan dalam tuntunan Roh Kudus-Nya. Atas dasar itu, maka apa yang dilakukan Sang Bapa, maka sepatutnya juga dilakukan sang anak. Apa yang dilakukan anak, tidak jauh dari yang dilakukan Bapanya.
 
Di Alkitab Yesus pernah menceritakan tentang perumpamaan anak yang hilang. Diceritakan tentang seorang ayah memiliki dua orang anak, anak sulung dan anak bungsu. Baik anak sulung maupun anak bungsu mewakilkan type orang percaya. Apa yang dilakukan oleh kedua anak tersebut sama sekali tidak mencerminkan “spirit” dari sang bapa. Yang bungsu merengek meminta harta bagian untuk memuaskan kesenangan dagingnya, sedang anak yang sulung setia melayani di rumah namun belakangan diketahui motivasinya bukan karena mengasihi bapanya, tetapi karena upah.
 
Mari umat Tuhan, ternyata kesadaran akan tujuan Ilahi dalam kehidupan orang percaya dan kesadaran akan kepunyaan siapa kita akan senantiasa meluruskan motivasi pengiringan kita kepada Kristus. Itulah sebabnya, Tuhan mengajak kita untuk berjalan bersama-Nya daleintiman, tidak lain agar kita semakin mengenal-Nya dan menangkap kehendak-Nya.
 
Tuhan Yesus memberkati!

26 Februari 2017 – Mengiring Tuhan Karena Mengasihi

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>