26 Agustus 2018 – Siapa Yang Membentuk Kita? (Who is molding us?)

Yeremia 18:1-4 (4) Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
 
Tanah liat adalah suatu jenis tanah yang mudah untuk didapatkan, namun bukan sebuah bahan yang mudah untuk dibentuk menjadi sesuatu. Apabila terlampau banyak diberi air ke dalamnya, maka bukannya menjadi kokoh dan lembut siap untuk dibentuk, melainkan menjadi lembek dan lengket sehingga sulit untuk diputar di atas meja pembentuk. Sehingga sebelum tanah liat dapat ditaruh di atas meja pembentuk, ia harus dipersiapkan dengan baik terlebih dahulu.
 
Jika kita adalah tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Sebagai tanah liat tentu kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuatlah yang pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk, seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk.
 
Dalam pembuka Yeremia 18 ini kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” Ini hasil pengamatan Yeremia. 
 
Ya, Tuhanlah sang Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya, bukan kehebatan “sang tanah liat” yang membuat ia bisa dipajang di sebuah etelase galeri penjual guci keramik yang mahal, namun karena kehebatan si pembuat. Demikian pula kita, apa yang bisa membuat kita menjadi mahal, indah dan berfungsi luar biasa? Semua bukan karena kita, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan yang membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. 
 
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Siapa dan apa yang telah membentuk kita selama ini? Apakah selama ini kita sudah membiarkan Tuhan sebagai yang satu-satunya yang membentuk kita sebagaimana layaknya Penjunan terhadap tanah liat? Memang betul, setiap kita pasti akan menjawab bahwa Tuhanlah yang membentuk kita. Namun seringkali tanpa disadari, ketika merasa hancur, penuh kemarahan, kecewa dan lain-lain, bukannya bergantung kembali kepada Tuhan, seringkali kita orang percaya membiarkan pihak lain yang membentuk dan menyatukan setiap pecahan-pecahan yang ada, sehingga akhirnya menjadi sebuah bentuk yang tidak karuan. Setiap kita seharusnya dibentuk oleh Tuhan agar kita menjadi seperti Dia, terdengar seperti Dia dan bertindak serta bereaksi seperti Dia.
 
Apa yang harus kita lakukan agar senantiasa berada di tangan pembentukan Tuhan?
 
(1). Pastikan bahwa kita harus selalu tepat berada di tengah “meja pelarikan”/pottery wheel.
 
Yer. 18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.
 
Yeremia lalu pergi ke rumah tukang periuk/penjunan dan memerhatikan bagaimana seorang tukang periuk bekerja. Dilihatnya, ketika meja pelarikan (pottery wheel) dimana tanah liat berada di atasnya berputar, maka kedua tangan sang tukang akan memegang dan melingkari tanah liat di tengahnya. Dengan cara itulah si tukang mulai membentuk tanah liat tersebut. Tugas sang tukang adalah harus terus memastikan bahwa si tanah liat selalu berada tepat di tengah-tengah meja pemutar. Apabila tidak, maka sudah pasti tenaga sentrifugal yang dimiliki si meja pemutar akan melemparkan tanah liat ke luar menjauh.
 
Ketika kehidupan sedang berjalan, seperti layaknya meja pelarikan bergerak, ingat ada tenaga “sentrifugal” yang ingin selalu menarik kita keluar menjauh dari tengah-tengah tangan Tuhan sang Penjunan. Terlebih ketika letak tanah liat tidak terlalu tepat berada di tengah-tengahnya.
Godaan dunia, keputusan-keputusan yang tidak berdasar, keinginan untuk bersaing secara tidak sehat, ambisi ingin menjadi terbesar dan lain-lain adalah hal-hal yang dapat membuat posisi orang percaya bergeser dari tengah-tengah tangan sang Penjunan. Kehidupan gereja yang setia, takut akan Tuhan dan penundukan yang benar merupakan salah satu cara untuk kita tetap berada di tengah-tengah meja sang Pembentuk.
 
(2). Pastikan bahwa kita memiliki tujuan Tuhan, bukan tujuan kita
 
Yer. 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
 
Hal pertama yang selalu diputuskan sang penjunan sebelum ia mulai membuat sebuah karya adalah sebuah perencanaan terlebih dahulu. Ia sangat tahu sekali bentuk apa yang akan Ia lakukan. Ukuran dan modelnya adalah hak prerogatif sang Pembuat. Kita tanah liat hanya tunduk pada rencana dan tujuan-Nya. Bagian kita hanyalah percaya bahwa sesulit dan sesakit apapun proses pembuatannya, semua dilakukan demi kebaikan dan keindahan kita sendiri. Oleh sebab itu, yang namanya penghancuran, peremasan, pembakaran adalah bagian yang tidak bisa kita hindari.
 
Namun acapkali banyak orang percaya yang mencoba keluar dari proses pembentukan normal sang Penjunan ini. Ada pihak lain yang selalu menawarkan cara pembentukan yang lebih enak, lebih cepat dan lebih menyenangkan. Hati-hatilah ketika ada pribadi-pribadi yang menawarkan jalan pintas. Hentikanlah niat orang-orang yang mencoba mengambil alih pembentukan yang sedang kita jalani. Karena ketika kita meghindar dari cara-cara-Nya Tuhan, sesungguhnya kita sedang membiarkan orang lain yang membentuk kita. 
 
Mari jemaat Tuhan, kita bisa mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri saat ini, siapa yang sedang membentuk diri kita. Apakah kita sedang membiarkan dunia membentuk kita? Apakah kita sedang membiarkan teman-teman kita membentuk kita? Apakah kita sedang membiarkan sosial media sedang membentuk kita? Tetaplah fokus pada tujuan Tuhan dan biarkan Tuhan yang membentuk kita.
 
Tuhan Yesus memberkati!
ReplyReply AllForwardEdit as new
 
 

26 Agustus 2018 – Siapa Yang Membentuk Kita? (Who is molding us?)

| Warta Jemaat |
About The Author
-