Yes. 43:2  Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

Inilah pernyataan jaminan penyertaan dan perlindungan Tuhan bagi kita, yaitu umat yang dikasihi dan yang telah ditebus oleh Tuhan. Meskipun jalan-jalan yang harus kita lalui acapkali terasa tidak menyenangkan, namun sesungguhnya Tuhan tahu persis jalan mana yang harus ditempuh untuk sampai ke tempat tujuan.

Ayat di atas mengingatkan kita akan beberapa tokoh di Alkitab yang harus menempuh jalan-jalan yang tidak mudah dalam hidupnya, antara lain: Musa, Yosua, dan Sadrakh, Mesakh, Abednego. Musa tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika ia diperhadapkan dengan laut Teberau yang terbentang luas di hadapannya, sementara musuh mengejarnya dari belakang. Namun kemudian ia menyadari betapa dahsyatnya tangan Tuhan ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan membelah air laut tersebut sehingga mereka dapat menyeberanginya dengan aman. Hal serupa juga dialami Yosua ketika ia dan bangsa Israel harus menyeberang sungai Yordan yang pada waktu itu airnya sedang meluap dengan derasnya, namun lagi-lagi kuasa Tuhan dinyatakan dengan herannya. Ketika kaki para imam dijejakkan ke dalam air sungai, maka seketika itu juga aliran sungai terputus dan menggulung ke atas, sehingga mereka semua tidak ada yang dihanyutkan, bahkan  itulah saat dimana untuk pertama kalinya bangsa Israel menginjakkan kakinya di Tanah Perjanjian. Tuhan juga melindungi Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang dihukum dengan cara dimasukkan ke dapur api karena mereka mempertahankan iman mereka kepada Allah yang Hidup dan menolak menyembah patung yang dibuat raja Nebukadnezar. Tungku api yang sengaja dipanaskan tujuh kali lebih panas dari biasa sekalipun tidak dapat menghanguskan mereka, bahkan bau terbakar pun tidak ada, karena Tuhan ada bersama-sama dengan mereka.

Jalan-jalan yang kita tempuh mungkin tidak ada yang sesulit seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab di atas, namun apapun kondisi jalan yang kita lalui, percayalah akan tuntunan dan penyertaan Tuhan yang begitu luar biasa atas kita. Ijinkan Tuhan memimpin dan menuntun kita karena Tuhan tahu benar jalan terbaik yang harus kita tempuh.

Beberapa kondisi jalan yang mungkin kita hadapi, yaitu:

(1). Jalan memutar yang membuat perjalanan lebih lama

Kel. 13:17 . . . Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.”

Menurut pikiran manusia, jalan tersingkat yang dapat ditempuh bangsa Israel ketika mereka baru saja keluar dari tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian adalah melalui jalan negeri orang Filistin. Setiap kitapun pasti setuju bahwa lebih cepat tiba di Tanah Perjanjian lebih baik. Makin dekat jarak yang harus ditempuh semakin menyenangkan. Namun Tuhan mempunyai cara pandang dan pendapat yang berbeda. Saat itu Tuhan berpikir bahwa apabila bangsa Israel menempuh jalan melalui negeri orang Filistin maka mereka sudah pasti harus berhadapan dengan bangsa Filistin, padahal bangsa Israel yang baru keluar dari tanah perbudakan itu belum siap untuk berperang. Oleh karena itulah, untuk mencapai Tanah Perjanjian, Tuhan lebih memilih jalan memutar yang jaraknya lebih jauh dibandingkan jalan melalui negeri orang Filisin. Dan jalan yang Tuhan pilih adalah jalan yang terbaik, walau mungkin bukan jalan tersingkat seperti yang diharapkan.

Pertanyaan ini pula yang seringkali timbul dalam pikiran umat Tuhan. Saat mulai jenuh dalam perjalanan, mulailah mereka bertanya-tanya, mengapa perjalanan yang harus ditempuh terasa sangat jauh dan lama untuk tiba di tempat tujuan. Meskipun jawabannya mungkin saja karena salah jalan, namun satu hal yang harus kita yakini adalah apabila kita berada  dalam track (jalur) Tuhan, kita perlu senantiasa menyadari bahwa Tuhan tahu persis jalan yang terbaik dan teraman bagi umat-Nya.

Pastikan pula bahwa kita senantiasa memiliki GPS (God Positioning Spirit) atau Roh Kudus yang selalu mengarahkan setiap langkah kita.

 (2). Jalan di mana ada jerat dan perangkap

Maz. 91:13  Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.

Ketika kita berjalan dalam jalur dan rencana Tuhan, tentu musuh tidak tinggal diam dan akan berusaha untuk menghalangi langkah kaki kita, supaya tidak sampai ke tujuan-Nya Tuhan. Salah satu cara yang dilakukan musuh adalah dengan menebar “ranjau” (jerat dan tipu muslihat iblis) di sepanjang jalan yang dilalui. Ranjau penghalang yang ditabur musuh ini bisa beragam bentuknya, misalnya, godaan-godaan yang menggiurkan, penyesatan-penyesatan (ajaran-ajaran palsu), sanjungan-sanjungan yang membuat terlena, dan lain-lain. Dalam perjalanan pelayanannya ke Filipi, Rasul Paulus bertemu dengan seorang wanita yang memiliki roh tenung. Wanita ini berulang kali memuji dan menyanjung Rasul Paulus sebagai hamba Allah yang luar biasa. Namun, dengan kepekaannya, Rasul Paulus mengetahui bahwa sanjungan wanita tersebut bukanlah sanjungan tulus, melainkan hanya untuk menjatuhkannya, hingga akhirnya diusirnyalah roh tenung yang ada pada wanita tersebut dengan kuasa Roh Kudus.

Rasul Paulus tahu bahwa tidak ada satu kuasa musuhpun yang dapat menghalangi langkah kakinya saat ia berjalan bersama Yesus. Pemazmur juga menasihatkan umat Tuhan di dalam Mazmur 91, mengenai betapa pentingnya senantiasa meluangkan waktu untuk duduk di hadirat Tuhan, karena di sanalah Tuhan akan mengajarkan kita banyak hal. Maz. 91:1- 2  Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

(3). Jalan yang bergunung dan berbukit

Maz. 121:1- 2 Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Terkadang perjalanan pengiringan seseorang bisa terasa lebih berat dari biasanya, bahkan ada pandangan-pandangan ke depan yang belum terlihat jelas. Ini menandakan adanya gunung-gunung di jalan yang sedang ditempuh. Daud pernah mengalami situasi seperti ini. Saat ia mengarahkan pandangannya ke segala arah, sepertinya ia terbentur dari gunung yang satu ke gunung yang lain, rasanya tidak ada pertolongan, semua arah sepertinya tertutup. Namun Daud tidak mau menyerah begitu saja, ia menyadari bahwa inilah waktunya ia mengarahkan pandangan matanya kepada Bapa di Sorga, Sang Pencipta langit dan bumi. Ia tahu bahwa pandangan matanya sangatlah terbatas, kalaupun dipaksakan maka hanya besarnya gunung-gunung itu sajalah yang dapat dilihatnya, namun ketika ia memfokuskan dirinya hanya kepada Bapa Sorgawi, maka ia melihat betapa dahsyatnya kebesaran Sang Allah Bapa dan betapa kecilnya gunung-gunung yang sebelumnya terlihat begitu besar di matanya. Melalui pandangan Bapa di Sorga ini pulalah, maka ia dapat melihat jauh ke depan, melihat tujuan dan rencana Allah bagi dirinya.

Umat Tuhan, apapun jenis kondisi jalanan yang sedang kita tempuh seharusnya tidak akan menjadi masalah bagi kita selama kita berjalan bersama Yesus Kristus, Bapa kita, karena bukankah Ia sendiri yang berjanji untuk menggendong kita dan berkata:  “Akulah jalan…”

Tuhan Yesus memberkati!

26 Agustus 2012 – Tuhan Memimpin di Segala Jalan (Dia Menggendong Kita Bag-4)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>