Ayub 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Anda tentu pernah mendengar cerita tentang seorang buta yang sedang menjelaskan tentang binatang gajah kepada beberapa orang. Karena ia sendiri tidak pernah melihat bentuk yang sebenarnya dari seekor gajah, maka setiap kali ia menjelaskan bagian demi bagian dari anggota tubuh dari binatang gajah, maka ia selalu menambahkan kata “katanya.” Misalnya, gajah itu binatang yang memiliki telinga yang sangat besar sekali, katanya. Konon ia memiliki hidung yang sangat panjang dan dapat mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Semua bagian yang ia jelaskan seolah-olah ia pernah melihatnya, namun sayangnya ia hanya mendengar dari apa kata orang saja tentang seekor gajah.

Ayub dikatakan dalam Alkitab sebagai seseorang yang mempunyai empat karakteristik yang sangat disukai Allah: Saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub memiliki 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, Tuhan membuat pagar sekeliling kehidupan Ayub dan rumahnya serta segala yang dimilikinya, memberkati pekerjaannya dan apa yang dimilikinya makin bertambah. Iblis suatu hari berkomunikasi dengan Allah dan meminta izin untuk mencobai Ayub. Lalu diizinkanlah oleh Allah untuk iblis menjamah seluruh kehidupan Ayub. Semua itu dilakukan Allah dengan tujuan menjadikan diri pribadi Ayub yang dewasa dan mengenal Tuhan dengan benar.

Dalam kehidupan Ayub ada beberapa hal dimana Allah ingin agar Ayub mengalami pemulihan. Ayub adalah orang baik yang menjalani hidup saleh, karena ia sadar Tuhan telah menyediakan seluruh kebutuhan hidupnya. Maka ia merasa sudah sepatutnya ia membalasnya dengan hidup menjauhi kejahatan. Ayub juga telah bertindak sebagai penyelamat bagi anak-anaknya, padahal setiap orang bertanggung jawab secara pribadi di hadapan Tuhan. Orangtua, pasangan hidup, bahkan gembala sekalipun tidak bisa mewakilkan kita di hadapan Tuhan. Ayub juga merasa dirinya benar dan tanpa salah di hadapan Tuhan. Masakah orang sebersih dirinya harus masuk ke dalam masalah yang sedemikian berat ini.

Seluruh proses itu Ayub jalani sampai akhirnya ia menyadari maksud dan tujuan Tuhan atas hidupnya, bahwa betapa Tuhan punya rencana luar biasa atas dirinya dan manusia. Di akhir kisah ayub, ia mengatakan bahwa ternyata hanya dari kata orang saja ia mendengar tentang Tuhan, padahal sesungguhnya ia sama sekali belum mengenal sungguh-sungguh pribadi Tuhan itu sampai masalah menimpa hidupnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan ingin setiap kita memiliki sendiri pengalaman rohani bersama Tuhan. Karena pengalaman bersama Tuhan adalah salah satu kunci untuk bertumbuh secara rohani. Jangan hanya mendengar tentang kebesaran Tuhan dari kesaksian orang lain atau para hamba Tuhan. Praktekkan iman kita dan alami sendiri kemenangan bersama-Nya. Maka, dari hidup dan mulut kita akan keluar kesaksian tiada henti yang menguatkan iman kita dan membesarkan nama Tuhan.

Kunci untuk memiliki pengalaman bersama Tuhan:
(1). Hidup dalam ketaatan

Kej. 22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Sebuah pengalaman yang tidak mudah bagi Abraham yang sudah lebih dari dua puluh lima tahun menantikan seorang keturunan seperti yang dijanjikan Allah kepadanya. Namun belum sampai anak itu tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, tiba-tiba Allah memanggil Abraham dan meminta Abraham untuk pergi ke gunung Moria sambil membawa Ishak anak kesayangannya tersebut untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Allah. Lalu, reaksi apa yang ditunjukkan Abraham kepada Tuhan? Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

Ketika sang anak bertanya kepada bapanya dimana anak domba yang akan digunakan sebagai korban bakaran, maka Abraham dengan hati yang berat namun percaya, ia berkata bahwa nanti Allah sendiri yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya. Dan benarlah, di detik terakhir ketika Ishak sudah dalam kondisi terikat dan dibaringkan di atas mezbah dimana tangan Abraham sudah diulurkan untuk menyembelih anaknya tersebut, maka tiba-tiba berserulah malaikat kepadanya dari langit menahan agar Abraham tidak menyembelih anaknya. Malaikat itu berkata bahwa telah terbukti ketaatan Abraham yang tidak segan-segan menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Tidak lama, terlihatlah seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut belukar. Lalu Abraham mengorbankan domba tersebut. Melalui peristiwa tersebut tahulah Abraham bahwa ia memiliki “Tuhan yang menyediakan” (Jehovah Jireh). Sebuah pengalaman ketaatan yang melahirkan pengenalan akan Tuhan yang luar biasa.

(2). Hidup dalam penyembahan yang benar

Yoh. 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Masih ingatkah anda pada pesan Tuhan minggu lalu? Demi mengalami aliran-aliran air kehidupan sejati yang terus-menerus dan tanpa batas, maka perempuan Samaria memohon kepada Yesus agar kehidupan penyembahannya diperbaiki. Ketika seseorang rindu terhubung langsung dengan Sang Sumber air kehidupan, maka ia harus rela kehidupan penyembahannya “dirombak” menjadi benar dan ini yang dinamakan dengan “revolusi penyembahan.” Yang tadinya sebelum mengenal Yesus, perempuan Samaria tersebut menyembah allahnya di gunung-gunung, sebagaimana umumnya orang Samaria menyembah. Maka sejak pengenalannya akan Yesus, ia diajarkan untuk menyembah Bapa dengan cara yang benar, yaitu dalam roh dan kebenaran.

Di dalam roh, karena Allah itu Roh adanya, yang tidak berdiam di gunung-gunung tertentu ataupun di tempat-tempat tertentu. Namun Ia adalah Allah yang hadir dimana pun Ia kehendaki. Pada zaman PL banyak orang melakukan penyembahan kepada Allah dengan cara yang hanya dinilai secara fisik, yaitu mereka yang melakukan penyembahan dengan menitikberatkan pada sisi jasmaniah, seperti lokasi, peralatan/sarana, arah, jam/waktu, tata cara dan aturan yang ketat dan mengikat sebagai syarat untuk dapat datang kepada Allah. Namun Yesus mengajarkan bahwa sembahlah Bapa dimana saja dan kapan saja, bukan secara fisik, namun secara rohani dan dalam kebenaran (sikap hati dan sikap hidup yang berkenan dan berdasarkan firman Tuhan).

Kalau kita perhatikan di Alkitab, setiap orang yang Tuhan mau pakai sebagai alat yang luar biasa di tangan-Nya, perhatikan, selalu pertama-tama yang Tuhan perbaiki adalah kehidupan penyembahannya terlebih dahulu. Dari penyembahan kepada Allah yang salah dengan cara yang salah, ataupun Allah benar dengan cara yang yang salah, kepada penyembahan kepada Allah yang benar dan dengan cara yang benar. Jadi tidaklah mungkin Tuhan mengajarkan kita untuk berbalik dari penyembahan yang benar kepada penyembahan yang salah, apapun alasannya.

Tuhan Yesus memberkati!

25 Desember 2016 – Mengalami Sendiri

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>