Yohanes 14:8-9 (9) Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

Suatu ketika menjelang hari-hari terakhir keberadaan-Nya di bumi, sebelum masa penyaliban, Yesus terlibat dalam sebuah percakapan bersama dengan murid-murid-Nya. Ada begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para murid kepada Yesus. Mulai dari pertanyaan ke mana Yesus akan pergi dan apa yang akan Yesus lakukan nanti ketika Ia berada di Sorga kelak, hingga pertanyaan bagaimanakah murid-murid bisa sampai ke tempat di mana Yesus berada. Dengan sabar Yesus menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari para murid. Lalu salah seorang murid yang bernama Filipus bertanya kepada Gurunya, minta ditunjukkan seperti apa Bapa di Sorga itu. Yesus langsung menjawabnya dengan berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Dan semua murid menyetujui apa yang dikatakan oleh Gurunya tersebut.

Seperti itulah kehidupan yang dijalani oleh Yesus selama keberadaan-Nya di dunia. Ia menjadikan diri-Nya sebagai representasi dari Bapa di Sorga. Ia banyak berbicara mengenai Bapa yang mengutus-Nya. Namun ketika orang-orang bertanya tentang siapa yang dimaksud dengan Bapa, maka tidak segan-segan Ia berkata bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Bila ingin melihat Bapa, maka cukup dengan melihat diri-Nya dan apa yang dilakukan-Nya.

Melalui pesan-Nya minggu ini, Tuhan mau kita mulai belajar menjadikan diri kita sebagai representasi diri-Nya selama keberadaan kita di bumi ini. Mendengar ini kita tentu menyadari siapa diri kita dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Kita merasa mana mungkin kita dapat menjadi representasi yang sempurna dari Kristus. Itu adalah benar. Namun inilah yang Tuhan inginkan dari kita. Mulailah dengan membiarkan orang-orang dapat “mencicipi” Yesus melalui hidup kita sehari-hari. Amanat Agung bukanlah sekedar masalah “memberitakan Yesus kepada orang-orang”, namun juga tentang memperkenalkan Yesus kepada orang-orang lewat hidup kita.

Ketika perempuan Samaria berjumpa dengan Yesus di sumur Yakub, ia mengalami sebuah perjumpaan yang luar biasa di dalam hidupnya. Bukan karena ia telah meminum air dari sumur, melainkan karena ia telah menerima aliran-aliran air hidup ketika ia membuka hatinya untuk menerima Yesus sebagai Mesias. Perubahan awal yang ia terima membuat ia tidak dapat tinggal diam, seketika itu juga ia pulang ke kotanya dan mengajak orang-orang untuk turut “mencicipi” Yesus melalui dirinya. Perjumpaan singkat dengan Yesus tersebut mungkin belum mengubah seluruh hidupnya, namun cukup untuk membuat orang-orang sekotanya ingin mengalami Yesus lebih lagi.

Melalui hal apa saja yang dapat membuat orang-orang dapat “mencicipi” Yesus melalui kita?
(1). Melalui tatapan dan senyuman di wajah kita

Kis. 6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (NLT. …because his face became as bright as an angel’s)

Akibat hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka telah mendengar Stefanus telah mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah, maka diadakanlah suatu kegerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya lalu membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Diajukanlah saksi-saksi palsu untuk membenarkan apa yang mereka tuduhkan terhadap Stefanus. Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (NLT. ..mukanya cerah/bersinar seperti muka seorang malaikat). Membuktikan bahwa ia memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan (Kel. 34:29).

Alkitab mencatat bahwa semua orang yang berada di dalam ruangan sidang, termasuk orang-orang yang berniat jahat kepadanya menjadi terberkati ketika melihat muka Stefanus yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Mungkin kita tidak berada di dalam situasi yang sama dengan Stefanus, namun paling tidak perlihatkanlah tatapan dan senyuman tulus terpancar dari wajah kita hasil hubungan kita dengan Tuhan kepada siapa pun yang kita jumpai setiap hari di dalam aktifitas kita. Tuhan dapat memancarkan sinar wajah-Nya melalui tatapan dan senyuman dari wajah kita seperti yang Ia lakukan kepada Stefanus.

(2). Menghargai siapapun yang telah melayani/membantu kita

Kejadian 40:23 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.

Kepala juru minuman telah membuat kesalahan terhadap Firaun, sehingga ia dimasukkan ke dalam penjara, yaitu penjara yang sama di mana Yusuf berada. Pada malam pertamanya di penjara, kepala juru minuman Mesir itu bermimpi. Ia bertanya kepada Yusuf apa arti mimpinya itu. Kemudian Yusuf menafsirkan mimpi juru minuman itu, menjelaskan kepadanya bahwa ia akan dibebaskan dan dikembalikan pangkatnya oleh Firaun. Juru minuman itu berjanji untuk menjelaskan kepada Firaun bahwa Yusuf tidak bersalah apabila ia telah dibebaskan. Tiga hari kemudian tafsiran Yusuf tentang mimpi itu menjadi kenyataan, dan kepala juru minuman itu dibebaskan dan kembali menerima pangkatnya. Awalnya Yusuf yakin bahwa ada orang yang akan berbicara kepada Firaun bahwa ia tidak bersalah. Namun minggu demi minggu, bulan demi bulan telah berlalu, tidak ada kabar dari kepala juru minuman itu.

Yusuf mungkin terlalu berharap kepada juru minuman tersebut, namun inti dari pesan ini adalah hendaknya kita menjadi orang-orang yang tahu mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang telah membantu kita. Entahkah itu pelayan di restoran, entahkah orang-orang yang membantu ketika kita sedang membawa banyak barang, dan lain-lain. Bukankah berterimakasih atau mengucap syukur adalah sifat yang diajarkan Tuhan kepada murid-murid-Nya. Dari sepuluh orang kusta yang telah menjadi tahir, Yesus bertanya dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk.17:17-18).

Mari umat Tuhan, Amanat Agung bukanlah sekedar soal “memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang”, namun juga tentang memperkenalkan Yesus kepada orang-orang lewat hal-hal kecil yang dapat kita lakukan kepada orang-orang melalui kehidupan kita sehari-hari, yang dengannya orang-orang dapat “mencicipi” Yesus.

Tuhan Yesus memberkati!

22 November 2015 – “Mencicipi” Yesus Melalui Hidup Kita

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>