1 Timotius 2:1-2  (1)Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2)untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

Dalam Warta Jemaat minggu lalu, kita sudah belajar betapa Tuhan mau agar kita berjalan mengikuti instruksi-Nya. Instruksi-instruksi yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah bertujuan untuk mempersulit kita ataupun supaya Tuhan terlihat hebat dengan segala perintah-perintah-Nya, namun semua itu dimaksudkan untuk mempermudah kita berjalan dalam tujuan dan rencana Tuhan. Tuhan tahu jalan yang terbaik yang harus kita tempuh, sehingga kita dapat tiba di tempat yang Tuhan kehendaki. Dibutuhkan sikap rendah hati untuk mengikuti instruksi dan kesadaran penuh bahwa perintah itu datang dari Yesus, Sang Raja di atas segala raja. Dan Ia  memberikan perintah itu untuk kita lakukan dengan sepenuh hati.

Memasuki minggu ini, Tuhan memberikan instruksi-Nya kepada kita, yaitu untuk berdoa syafaat bagi bangsa, kota, kepala pemerintahan, para pembesar, dan semua orang (termasuk jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus, yang berada dalam masalah, sakit-penyakit, dll). Mungkin kita belum mengerti mengapa kita harus bersyafaat untuk hal-hal itu, namun Tuhan mau agar kita melakukannya dengan segala kerelaan hati. Bukankah beberapa waktu yang lalu Tuhan sudah mengajar kita tentang “simplicity” (kesederhanaan), dimana salah satunya adalah melakukan perintah-Nya tanpa berbantah-bantah?

Bersyafaat bukanlah sekedar berdoa untuk orang lain ataupun untuk hal-hal di luar kepentingan kita. Makna “bersyafaat” (to intercede) dalam Alkitab adalah ‘mau berdiri di antara celah’ (standing in the gap); menjadi pengantara di antara dua pihak; datang memohon belas kasihan kepada Raja bagi teman, sahabat, maupun orang-orang yang tidak kita kenal; bersedia terlibat dan mau turut merasakan pergumulan dari pribadi-pribadi yang kita doakan.

Beberapa hal penting yang perlu kita ketahui bekenaan dengan pengertian “bersyafaat” di antaranya:

(1). Yesus pun bersyafaat bagi kita

Ibr. 7:25  Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Sejak kelahiran-Nya di bumi, menjelang kematian-Nya, dan hingga Ia terangkat naik ke sorga, Yesus tidak putus-putusnya menaikkan syafaat bagi kita umat-Nya. Melalui pelayanan syafaat Kristus, kita senantiasa mengalami kasih dan kehadiran Allah serta memperoleh kemurahan dan kasih karunia serta menerima pertolongan yang kita perlukan (Ibr. 4:16), juga ketika kita menghadapi godaan (Luk. 22:32), kelemahan (Ibr. 4:15; 5:2), dosa (1 Yoh. 1:9; 2:1), dan pencobaan (Rom. 8:31-39).

Yang membuat Petrus tetap kuat ketika suatu hari iblis berusaha mencoba menampinya seperti gandum, adalah bukan karena semata-mata kekuatan imannya, melainkan ada Yesus yang senantiasa bersyafaat bagi murid-murid-Nya. Luk. 22:31-32  (31) Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, (32) tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Iblis tidak leluasa untuk melakukan apa saja yang ia inginkan kepada umat Allah. Ada Yesus yang senantiasa berdoa agar iman umat-Nya tidak gagal. Sebagai pengantara sorgawi kita, Ia berdoa bagi semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara bagi kita, orang percaya. Yesus selalu setia di dalam segala pencobaan yang kita alami dan menyediakan jalan keluar bagi kita (1 Kor. 10:13). Akan tetapi, doa-doa syafaat Yesus tidak akan terwujud dan akan menjadi sia-sia apabila seseorang memilih untuk menolak kasih karunia Allah.

(2). Mengubahkan atmosfir negeri

1 Tim. 2:1-2 . . . doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

Apa yang diinstruksikan Rasul Paulus kepada Timotius, yaitu berdoa bagi para pemimpin negeri, para politikus, para pembesar, dan lain-lain, mungkin merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dilaksanakan, mengingat perilaku para petinggi negeri yang seringkali mengecewakan. Mereka dinilai mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang banyak merugikan kepentingan rakyat. Hal-hal itulah yang seringkali membuat orang-orang lebih memilih untuk mengutuk dan mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif kepada mereka. Namun, Tuhan mengingatkan, bahwa jika kita merindukan suatu kehidupan yang tenang dan tenteram di bangsa ini, merindukan adanya perubahan atmosfir di negeri kita, maka tugas kita adalah berdoa syafaat bagi para pejabat dan pembesar tersebut. Berdoa agar dari mereka lahir keputusan-keputusan yang benar dan selaras dengan kepentingan Kerajaan Sorga.

Tentunya kita masih ingat dengan program “My Home”, suatu program lanjutan dari kegerakan doa, WPA (World Prayer Assembly), yang diadakan di bangsa kita pada bulan Mei 2012, dimana kita, gereja Tuhan diwajibkan untuk mengadopsi kota dimana kita tinggal, jalan-jalan di lingkungan kita, bahkan ladang-ladang market place yang Tuhan percayakan. Mari kita mulai mengamati perkara-perkara apa saja yang sedang terjadi di wilayah-wilayah tersebut, kemudian syafaatkanlah ke hadapan Tuhan, rindukanlah dan tangisilah semua perkara itu agar sesuatu yang luar biasa terjadi. Percayalah bahwa perubahan-perubahan besar akan terjadi di negeri kita.

(3). Salah satu selengkap senjata Allah dalam peperangan rohani.

Ef. 6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Seringkali orang merasa canggung sekaligus malu apabila ia minta didoasyafaatkan oleh sesama saudara seiman, namun tidak bagi Rasul Paulus. Ke manapun Rasul Paulus pergi melayani, ia selalu meminta jemaat setempat untuk membawanya dalam doa. Mengapa demikian? Karena Rasul Paulus sangat menyadari bahwa betapa dahsyatnya kuasa sebuah doa syafaat yang dinaikkan secara sungguh-sungguh ke hadapan Tuhan. Pelayanannya yang tidak ringan dan seringkali menempuh bahaya yang sangat besar, membuat ia tahu benar bahwa tanpa dukungan doa dari sesama saudara seiman, ia tidak akan mampu melaluinya.

Sebagai orang-orang yang dipercayakan mandat dari Kerajaan Sorga untuk bergerak dalam masterplan-Nya Tuhan, kita juga dipercayakan untuk senantiasa berbicara dalam berbagai hal tentang Kristus. Untuk ini dibutuhkan suatu kekuatan yang bukan hanya berasal dari diri kita sendiri saja, namun juga kekuatan lewat dukungan doa dari sesama saudara kita. Ada peperangan-peperangan rohani yang harus kita hadapi, namun berkat dukungan doa saudara seiman, maka kemenanganlah yang menjadi bagian kita.

Mari umat Tuhan, ketika Tuhan menginstruksikan kita untuk bersyafaat, mungkin kita berkata bahwa hal itu sudah sering kita lakukan, namun kali ini, lakukanlah dengan segala kesungguhan hati. Mari kita belajar untuk ikut merasakan perkara yang dihadapi orang lain ketika kita berdoa syafaat untuk orang tersebut, sebagaimana Yesus turut merasakan apa yang kita hadapi, karena Ia pernah mengalami semuanya itu, hanya saja Ia tidak berbuat dosa.

Tuhan Yesus memberkati!

22 Juli 2012 – Berdoa Syafaat (Kemenangan Bag. 3)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>