1 Korintus 13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Siapa yang tidak tahu benda yang bernama cermin. Setiap orang pasti menggunakannya. Bahkan hampir setiap hari kita menggunakanya dari mulai untuk berias sampai sebagai alat keamanan di sebuah kendaraan. Cermin sendiri sebenarnya terbuat dari kaca dengan sisi belakangnya dilapisi cat logam (alumunium atau campuran raksa). Cahaya yang datang pada kaca dipantulkan oleh cat logam pada sisi belakang cermin tersebut. Tetapi mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui asal mula ditemukannya cermin. Pada masa rasul Paulus orang-orang zaman dahulu sudah memiliki pengetahuan mengenai cermin. Cermin sudah dikenal oleh bangsa Fenisia, Tirus dan Mesir. Cermin kuno dibuat dari baja atau logam lain yang digosok sampai mengkilap.

Oleh sebab itu, ketika rasul Paulus menggunakan contoh cermin pada waktu ia sedang memberikan sebuah pengertian kepada jemaat di Korintus, mereka mengerti untuk menangkap maksudnya. Hanya saja, pengertian kualitas cermin pada masa sekarang berbeda dengan kualitas cermin pada masa itu. Di masa itu, kualitas pantulan cermin belum sebaik pantulan cermin di zaman modern ini. Gambar yang dipantulkan cermin masih terlihat buram, artinya belum mewakili sepenuhnya dari pribadi yang menggunakannya dibandingkan dengan melihatnya secara langsung.

Memang hal ini tidak mudah untuk dimengerti. Akan tetapi seiring dengan pertumbuhan rohani kita maka kita pun akan semakin mengerti akan kebenaran Firman Tuhan ini. Paulus berkata bahwa ketika ia masih kanak-kanak, ia berkata-kata, berpikir, dan bertindak seperti kanak-kanak. Akan tetapi ketika ia menjadi dewasa maka ia meninggalkan sifat kanak-kanak tersebut (ay. 11). Maksudnya adalah ketika kita masih kanak-kanak secara rohani, kita masih belum dapat mengerti dengan jelas seluruh perkara ilahi dari Tuhan. Akan tetapi semakin kita bertumbuh dewasa, maka kita akan semakin mengerti seluruhnya. Seorang mempelai pria tentunya akan mencari seorang mempelai wanita yang sudah dewasa dan bukan yang masih kanak-kanak apalagi yang masih bayi.

Saat ini, ketika kita membaca Firman Tuhan dan masih belum mengerti, atau ketika kita menerima sebuah pesan Tuhan dan belum paham sepenuhnya, maka itu bukan berarti kita harus berhenti untuk membaca dan mendengarkannya. Bagian kita adalah tetap bertekun dan meminta Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita agar memperoleh pengertian yang benar. Ketika kita belum mengerti atau belum sepenuhnya mengerti, seharusnya kita semakin terdorong untuk tetap bergaul dengan Tuhan lebih karib lagi. Memang kita baru melihat secara jelas ketika yang sempurna itu datang, jadi kita baru akan melihat secara sempurna dan mengerti secara sempurna ketika Sang Mempelai, yaitu Yesus Kristus itu datang, karena Yesus Kristus adalah Yang Sempurna tersebut. Saat ini bagian kita adalah mempersiapkan diri sehingga ketika Yesus datang, kita pun sudah tidak menjadi kanak-kanak lagi dan siap untuk menjadi mempelai-Nya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Inilah masa dimana setiap kita orang percaya sudah seharusnya sedang “bersolek di depan cermin”, seperti mempelai wanita yang sedang menyempurnakan dandanannya sambil menunggu kedatangan sang mempelai pria untuk tidak lama lagi menjemputnya. Bayangkan, apa yang akan dilakukan ketika seorang mempelai wanita sedang bersolek di depan cermin? Biasanya ia akan memerhatikan bagian-bagian mana dari dirinya yang masih belum terlihat indah dan sempurna seperti yang diharapkan sang mempelai pria yang dikasihinya. Namun, ada juga orang percaya yang bercermin untuk sesuatu yang lain.

Ada beberapa pengertian tentang bercermin yang dilakukan oleh orang-orang percaya, di antaranya adalah:

(1). Bercermin agar terlihat indah di pandangan sekeliling 

1 Sam.15:30 Tetapi kata Saul: “Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu.”

Bercermin adalah sebuah tindakan yang baik, tujuannya adalah agar setiap kita berpenampilan baik dan rapi dalam tampilan wajah, serta terlihat pantas dalam padanan warna pakaian yang kita kenakan. Kadang banyak juga dari antara kita yang rajin dalam mengikuti perkembangan trend mode yang berlaku saat ini. Tidak ada yang salah dengan semua itu, sejauh masih dalam koridor wajar dan sopan. Namun berbicara tentang perkembangan kehidupan rohani, kita orang percaya jangan ikut terbawa “trend mode” apa yang berlaku di dunia saat ini, melainkan kebenaran firman Tuhanlah yang menjadi acuannya. Seringkali tanpa disadari, seiring dengan perkembangan zaman yang demikian pesat, dunia rohani pun ikut mengalami pergeseran. Semua yang dipandang baik oleh mayoritas orang, dianggap itu yang paling benar. Sehingga tanpa disadari, cara bercermin orang percaya lebih agar ia terlihat baik menurut pandangan kebanyakan orang.

Saul adalah contoh seorang yang selalu ingin terlihat baik di hadapan orang lain. Sehingga ketika suatu kali nabi Samuel menegurnya atas ketidaktaatannya kepada perintah Tuhan, yang pertama-tama dilakukannya bukanlah datang dan memohon ampun kepada Tuhan, melainkan memohon agar nabi Samuel menunjukkan hormat kepadanya. Tujuannya adalah agar ia tidak dipandang rendah di hadapan tua-tua bangsa dan rakyat Israel. Orang yang seperti Saul ini akan selalu menggunakan “cermin pandangan orang banyak” dalam setiap langkahnya, akibatnya firman Tuhan hanya menjadi sebuah alternatif saja, namun tidak memberikan perubahan apa-apa.

(2). Bercermin untuk menginstrospeksi diri

Yak. 1:23-24 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

Darimana seseorang menyadari bahwa di mukanya terdapat sebuah titik flek kecil bewarna lebih gelap dari warna kulit aslinya? Tentunya dari hasil mengamat-amati wajahnya di depan sebuah cermin. Dan sudah pasti, orang yang mengamat-amati wajahnya secara demikian ia tidak akan melakukannya hanya sepintas lalu saja. Ia akan meluangkan sejumlah waktu terlebih dahulu, sehingga barulah ia dapat menemukan sebuah titik flek kecil yang letaknya tersembunyi tersebut. Yakobus menjelaskan dalam suratnya, bahwa apabila seseorang hanya memandang firman Tuhan hanya sepintas lalu saja, seperti orang yang bercermin lalu kemudian pergi, maka sudah pastilah orang itu tidak akan pernah mengalami perubahan apa-apa dalam hidupnya.

Perubahan hidup memang tidak tergantung dari berapa lama seseorang memandangi firman Tuhan, namun perubahan kehidupan baru akan terjadi ketika seseorang berkomitmen untuk menjadikan firman Tuhan sebagai “cerminnya”. Ia akan meluangkan waktu untuk merenungkan firman Tuhan lalu merefleksikannya apakah ia sudah melakukannya dengan benar atau belum. Lalu mengambil keputusan untuk melakukannya. Orang yang demikian akan terus mengalami pertumbuhan demi pertumbuhan. Salah satu penghalang pertumbuhan rohani orang percaya adalah ambisinya. Ambisi akan membuat orang tersebut enggan untuk meluangkan waktunya untuk mencari kehendak Tuhan. 

Mari umat Tuhan, masih ada beberapa “cermin-cermin” lain yang digunakan oleh banyak orang percaya. Pertanyaannya, cermin yang mana yang kita gunakan? Untuk tujuan apakah kita bersolek selama ini? Waktu kedatangan Sang Mempelai pria tidak lama lagi, pastikan bahwa seharusnya kita sedang bersolek sebagai layaknya seorang mempelai yang siap untuk dijemput. 

Tuhan Yesus memberkati!

ReplyReply AllForwardEdit as new

21 Mei 2017 – Bercermin Untuk Mempersiapkan Diri

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>