Keluaran 20:21  Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.

Memasuki bulan yang ketiga setelah keluar dari tanah perbudakan Mesir, tibalah bangsa Israel di padang gurun Sinai lalu mereka berkemah di situ. Di atas gunung, Allah berfirman kepada Musa, menyatakan keinginan-Nya untuk berbicara langsung kepada seluruh bangsa Israel dalam suatu kesempatan. Selama masa itu, hanya kepada Musa pribadilah Allah menyatakan perkataan-perkataan-Nya, namun kali itu Tuhan mau menyatakan diri-Nya sendiri ke hadapan seluruh bangsa Israel, itulah kerinduan hati Bapa.

Pada hari yang sudah ditentukan, Musa membawa seluruh bangsa Israel keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah di kaki gunung Sinai. Pada waktu itu seluruh bangsa menyaksikan sendiri bagaimana kedahsyatan Allah dinyatakan. Guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung mengeluarkan asap. Suasana saat itu membuat seluruh bangsa Israel tercekam dan gemetar ketakutan dan sayangnya, kemudian mereka mulai mengambil posisi berdiri menjauh. Lebih disayangkan lagi ketika kemudian mereka tiba-tiba secara mengejutkan meminta agar Musa saja yang datang mendekat kepada Allah dan mendengarkan pesan Allah bagi mereka, dan setelah itu barulah Musa menyampaikannya kembali kepada bangsa Israel. Bangsa Israel tidak memiliki keberanian untuk bertemu Allah secara langsung dan mendengar perkataan Allah,

Sungguh sangat disayangkan bahwa pada akhirnya bangsa Israel memilih untuk berdiri menjauh dari hadapan Allah, dan menyuruh Musa sendiri saja yang mendekat dan menerima pesan Allah bagi mereka. Mereka lagi-lagi tidak menangkap isi hati Bapa yang rindu untuk berbicara langsung kepada umat pilihan-Nya. Hal ini tentu saja mendukakan hati Tuhan. Dalam ketakutannya bangsa Israel memilih untuk menjauh dari hadirat Tuhan, sebaliknya, dalam ketakutannya, Musa justru memilih untuk mendekat kepada Tuhan.

Inilah pesan Tuhan bagi kita minggu ini, bahwa masih ada umat Tuhan yang memilih untuk mengambil jarak tertentu bahkan berdiri menjauh dari Tuhan, walaupun sebaliknya, ada juga umat yang memilih untuk mendekat dan mencoba belajar menangkap isi hati Tuhan. Tuhan mau agar kita jangan berlaku seperti bangsa Israel yang saat Tuhan rindu untuk menyatakan isi hati-Nya, mereka justru malah memilih untuk menjauh dan membiarkan orang lain yang datang mendekat.

Beberapa hal yang berkaitan dengan pesan Tuhan di atas, yang dapat kita pelajari adalah:
(1).  Milikilah rasa takut yang kudus

Kel. 20:18  Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.

Ketakutan yang dimiliki bangsa Israel ternyata berbeda dengan ketakutan yang dimiliki Musa. Ketakutan bangsa Israel adalah ketakutan kepada Tuhan sebagai gambaran sosok yang kejam (= afraid of the Lord), serupa dengan murid-murid Yesus yang pernah berteriak-teriak ketakutan ketika melihat Yesus berjalan di atas air, karena mereka menyangka bahwa mereka telah melihat hantu yang siap untuk menyakiti. Rasa ketakutan seperti inilah yang membuat orang cenderung menjauh dari Tuhan. Rasa takut yang membuat mereka kuatir bahwa sesuatu hal yang masih mereka sembunyikan di hadapan Tuhan akan tersingkap dan akan mempermalukan diri mereka. Rasa takut seperti ini juga dimiliki oleh mereka yang enggan dibebani oleh berbagai kebenaran firman Tuhan, yang seandainya saja mereka menyadari bahwa sebenarnya kebenaran itulah yang justru akan memerdekakan mereka dari banyak hal. Bagi sebagian orang, seperti bangsa Israel waktu itu, firman Tuhan dianggap sebagai suatu beban yang akan menyusahkan hidup mereka.

Sebaliknya, ketakutan yang dimiliki Musa adalah suatu bentuk rasa takut yang kudus yang disertai rasa hormat kepada diri pribadi Bapa Sorgawi (= fear of the Lord). Orang-orang yang seperti ini senantiasa memiliki kerinduan untuk selalu dekat dengan Tuhan, karena mereka menyadari bahwa ketika mereka dekat dengan Tuhan justru mereka mengalami perlindungan dan kekuatan yang baru. Mereka juga merindukan setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan, karena mereka percaya bahwa perkataan Tuhan akan senantiasa membangkitkan iman mereka.

(2). Jangan ragu-ragu untuk mendekat

Mat. 28:17  Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Ketika Yesus hendak naik ke Sorga, Ia mengajak murid-murid menyertai-Nya. Sebagian murid sujud menyembah kepada Yesus sebagai bukti penundukan total mereka kepada diri pribadi Yesus yang adalah Raja di atas segala raja, dan siap menerima mandat untuk pergi dan menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Namun beberapa murid, memilih untuk tidak mendekat, karena mereka ragu-ragu.

Setelah karya penebusan Yesus di kayu salib yang begitu luar biasa, darah-Nya dicurahkan untuk menebus dosa seluruh umat manusia, mati dan kemudian bangkit mengalahkan maut, sungguh suatu karya gemilang yang tiada duanya dan tidak pernah ada pribadi lain lagi yang dapat menyamai-Nya, hanya tinggal sesaat lagi saja Yesus berada di tengah murid-murid-Nya menjelang Ia naik ke Sorga, namun ternyata masih ada yang ragu-ragu kepada-Nya. Ragu akan karya Yesus selanjutnya yang berjanji bahwa Ia akan mengirimkan Roh Penolong yang akan memampukan semua murid-murid-Nya untuk melaksanakan mandat Kerajaan Sorga, ragu akan pemeliharaan Bapa di dalam hidup mereka, ragu bahwa apa yang mereka jalani sungguh-sungguh akan membawa mereka kepada hidup yang kekal, dan masih banyak keraguan lainnya. Yakobus menulis di dalam suratnya, bahwa orang yang mendua hati tidak akan menerima apa-apa dari Tuhan. Keragu-raguanlah yang seringkali menghambat orang untuk mendekat dan mengalami karya Tuhan yang luar biasa. Keragu-raguan merupakan salah satu benteng penghalang kuasa Tuhan bekerja yang harus kita robohkan.

Seandainya Yairus ragu akan kuasa Tuhan yang mampu membangkitkan anaknya dari kematian, maka Yairus sudah pasti tidak akan membiarkan Yesus melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya, dan ia akan mempersiapkan segala sesuatu untuk penguburan anaknya. Namun, Yairus lebih memilih untuk percaya kepada Yesus yang berkata “Jangan takut, percaya saja!”, meskipun di tengah perjalanan mereka, sanak keluarganya sudah mengingatkan dia bahwa untuk apa merepotkan Yesus lagi karena anaknya jelas-jelas sudah mati. Ketidakraguan Yairus ternyata membuahkan kuasa kebangkitan Tuhan bekerja menghidupkan anaknya kembali.

Umat Tuhan, masihkah kita memiliki rasa takut yang salah dan keragu-raguan akan kuasa kasih Kristus yang sudah begitu rela menderita aniaya dan siksaan di atas kayu salib demi untuk kepentingan kita? Ketakutan yang salah dan keraguan terhadap Dia ternyata merupakan penghambat kita, umat-Nya, untuk mendekat dan mengalami karya Tuhan yang lebih lagi dan menangkap mandat Sorgawi untuk kita laksanakan di bumi ini.

Tuhan Yesus memberkati!

21 Juli 2013 – Mendekat Kepadanya-Nya (Mengambil Pilihan Yang Benar Bag. 4)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>