Lukas 22:22-30 (26)Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Sesuatu yang sangat ironis terjadi saat perjamuan makan malam terakhir menjelang Yesus pergi ke taman Getsemani untuk kemudian ditangkap di sana. Sungguh disayangkan, momen perjamuan terakhir bersama Yesus yang sangat berharga yang seharusnya diisi dengan percakapan bermakna di antara para murid untuk memberi dukungan bagi Sang Guru yang akan segera menyelesaikan mandat Kerajaan Sorga yang sangat berat ini justru diisi dengan perbincangan seputar hal dunia yang bahkan diakhiri oleh sebuah pertengkaran.

Para murid bertengkar demi memperebutkan “posisi”, siapakah yang pantas dianggap sebagai yang terbesar di antara mereka hingga membuat Yesus merasa perlu meluruskan hal ini kepada para murid, yaitu bahwa yang terbesar itu bukanlah soal kedudukan, jabatan, pangkat, gelar pendidikan, ketenaran, ataupun prestasi seperti yang dikejar orang-orang dunia demi memperoleh kekuasaan dan pengaruh (ay. 25). Sebaliknya, Yesus justru mengatakan bahwa untuk menjadi yang terbesar menurut Kerajaan Sorga (yang berkenan, disukai Tuhan, dan memuliakan Tuhan), maka haruslah ia menjadi besar dalam hal-hal yang benar. Kita seharusnya belajar untuk menjadi besar di dalam iman, kerendahan hati, hikmat, karakter yang saleh, kasih, sikap kehambaan, dan lain-lain. (Ay. 26).

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Memasuki Visi 2015, yaitu Kerelaan Memberitakan Injil Damai Sejahtera, dibutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki jiwa yang besar (orang-orang besar dalam hal-hal yang benar). Salah satu sikap yang perlu dimiliki seorang yang berjiwa besar adalah sikap kehambaan. Yesus telah membuktikannya sendiri. Sejak dari hari kelahiran-Nya di bumi hingga kematian-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, Ia tampil dan mengambil rupa sebagai seorang hamba yang siap untuk melayani, bukan dilayani. Kesederhanaan-Nya diukur bukan hanya semata-mata tampak dari penampilan luarnya, namun lebih kepada sikap hati seorang hamba yang rela berkorban demi kepentingan umat manusia.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang yang dimaksud dengan memiliki sikap hati seorang hamba adalah sebagai berikut:
(1). Pribadi yang melayani

Luk. 22:26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Pelayan atau hamba (Yun. diakonos) identik dengan sesuatu yang tidak ada nilainya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun di dunia ini yang berkeinginan untuk menjadi seorang hamba. Hal ini sudah terjadi sejak zaman pelayanan Tuhan Yesus bahkan hingga kini. Murid-murid Tuhan Yesus memiliki persepsi yang berbeda dengan-Nya mengenai masalah kebesaran. Murid-murid lebih memikirkan tentang kebesaran dalam pengertian umum, tetapi Tuhan Yesus berkata, “siapa yang mau menjadi yang terbesar di antaramu hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Dengan kata lain, jika seseorang ingin menjadi yang terbesar, maka haruslah ia menjadi hamba dari orang lain.

Seorang hamba biasanya dianggap rendah dalam pandangan masyarakat umum. Kebanyakan pegawai tidak suka menganggap dirinya sebagai hamba dari majikannya. Kebanyakan manajer tidak ingin menjadi hamba dari para bawahannya. Golongan pejabat tidak mau menjadi hamba dari para pejabat yang dipimpinnya. Konsep melayani dipandang hina oleh dunia. Dunia menginginkan gelar kehornatan, kedudukan tinggi, nama besar, dan memiliki orang-orang yang siap melayani mereka. Semakin tinggi jabatannya, semakin banyak orang yang melayani dan mengiringinya.

Ciri-ciri seorang hamba yang Tuhan maksud:
a. Hamba itu tidak egois
Seorang hamba adalah seorang yang lebih memerhatikan kehidupan orang-orang lain, tidak terlalu sibuk dengan kehidupan dan kepentingannya sendiri, melainkan hidup untuk melayani orang lain. Itu sebabnya seorang hamba bukanlah seorang yang suka menuruti kehendaknya sendiri.

Sebagai pemimpin besar di jamannya, Tuhan Yesus juga melakukan hal ini. Dia mengatakan “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi”. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan kepada murid-murid-Nya: “Kalian harus memenuhi segala keperluan dan kebutuhan-Ku dan layanilah Aku”. Sebaliknya Ia berkata, “Aku datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Ku menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mar. 10: 45).

b. Hamba itu tidak sombong, melainkan rendah hati.
Karena itu seorang hamba tidak mudah sakit hati atau marah. Orang yang mudah tersinggung adalah orang sombong. Seorang hamba tidak mempunyai pendapat yang penting tentang dirinya dan tidak menjadi marah apabila ia tidak dikenali orang (Roma 12: 3; Kol. 3: 22- 24).  Apakah Saudara masih suka berkata: “Belum tahu siapa saya?”

c. Hamba tidak suka menuntut atau meminta persamaan hak.
Seorang hamba sejati itu “miskin” dalam arti tidak suka menuntut hak-haknya, atau menganggap bahwa ia layak menerima lebih banyak dari itu, lebih baik dari itu ataupun sekedar diperlakukan sama dengan yang lain. Ia juga tidak meminta penghargaan atas pekerjaan atau pelayanan yang telah dilakukan. Seperti pembantu rumah tangga. Kalau rumah bersih, memang sudah seharusnya seperti itu, kalau kotor yang dipersalahkan adalah pembantunya.

c. Hamba adalah seorang apa adanya.
Ia tidak merasa perlu untuk mempertahankan namanya (siapa dirinya). Ia tidak mempunyai roh persaingan, namun sebaliknya, berusaha menguatkan dan mendorong saudara-saudara seimannya di mana pun ia berada. Merasa puas meski hanya tinggal “di belakang layar”. Hamba rela mengerjakan pekerjaan melebihi tugasnya tanpa mengharapkan ucapan terima kasih, atau tepukan di pundaknya. Ia juga tidak berkata, “Kalau tidak ada saya, maka pekerjaan ini tidak akan selesai”.

(2). Pribadi yang taat

Yoh. 14:15  “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Sikap kehambaan seseorang tidaklah diukur hanya dari seberapa rajin dan baik ia melayani jiwa-jiwa, namun juga dari seberapa ia mau taat kepada setiap perkataan firman Tuhan yang ia terima. Bukankah selain memanggil Rabi kepada gurunya, murid-murid juga memanggil Tuan atau Tuhan kepada Yesus? Inilah bukti bahwa sikap penundukkan kita kepada Tuhan ditunjukkan juga melalui ketaatan kita dalam melakukan kehendak dan perintah-perintah-Nya.

Seorang hamba sebenarnya tidak diberikan pilihan kecuali melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Bukan karena ia tidak memiliki keinginan pribadi atau telah mati terhadap keinginan pribadi, namun ia memilih untuk mengenyampingkan keinginannya sendiri dan melakukan apa yang dikehendaki tuannya. Sikap kehambaan Yesus dapat kita lihat ketika Ia memilih untuk melakukan kehendak Allah Bapa untuk mati di atas kayu salib. Apakah Ia memiliki keinginan pribadi? Sesungguhnya Yesus bisa saja tidak menjalani kematian di atas kayu salib yang mengerikan itu, namun Ia memiliki sikap kehambaan yang membuat-Nya memilih tunduk kepada kehendak Bapa (Mat. 26:39).

(3). Pribadi yang siap untuk membantu

Lukas 7:13  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”

Punya keinginan untuk menjadi seorang pelayan atau hamba saja tidaklah cukup, harus memiliki suatu determinasi untuk menjadi seorang hamba. Determinasi seorang hamba adalah seorang yang siap untuk membantu. Fungsi keberadaan seorang hamba atau pembantu adalah siap untuk membantu atau melakukan sesuatu bagi majikannya atau bagi orang lain. Seorang pembantu atau karyawan tidak akan berpikir dua kali ketika ia menerima perintah dari majikannya, karena ia sudah menanamkan sikap hati seorang pembantu di dalam dirinya yang harus siap untuk membantu.

Barnabas tidak memiliki kewajiban untuk menolong Paulus yang dianggap memiliki catatan kelam di awal pertobatannya, namun sikap kehambaannya tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu ketika melihat perlakuan orang-orang Yahudi di Yerusalem terhadap Paulus yang ia ketahui memang sudah berubah.

Mari umat Tuhan, ketika dunia mengejar pangkat, posisi, jabatan, dan harta demi menjadi yang terbesar, Yesus justru sebaliknya, Ia mengajarkan kita untuk memiliki hati seorang hamba. Karena dengan memiliki hati seorang hamba, kita bukan hanya menjadi seorang yang menyenangkan hati Tuhan, tetapi menjadi yang terbesar dalam ukuran Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus memberkati!

21 Desember 2014 – Miliki Sikap Hati Seorang Hamba

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>