2 Samuel 23:8  Inilah nama para pahlawan yang mengiringi Daud: Isybaal, orang Hakhmoni, kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan delapan ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran.

Untuk menghindar dari kejaran Saul yang berusaha membunuhnya, maka berpindah-pindahlah Daud dari tempat yang satu ke tempat yang lain, hingga suatu ketika ia tiba di suatu tempat yang bernama gua Adulam. Ia tinggal untuk beberapa saat lamanya di sana beserta sanak saudaranya. Tak lama kemudian berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, dan lain-lain. Maka Daud kemudian menjadi pemimpin dari orang-orang tersebut, yang jumlahnya mencapai kira-kira empat ratus orang.
Kedewasaan Daud dalam pengenalan akan Allah yang telah ia jalin sejak ia masih sebagai seorang penggembala dua-tiga ekor kambing domba di padang rumput beberapa waktu sebelumnya, telah menjadikan Daud sebagai seorang pemimpin yang mampu memberikan teladan bagi setiap jiwa-jiwa yang ada di dalam gua tersebut. Mereka melihat dan belajar langsung bagaimana Daud senantiasa memuji dan menyembah Allahnya bahkan dalam keadaan yang kurang baik sekali pun, mereka juga memerhatikan sikap dan tindak-tanduk Daud dalam setiap kondisi yang dihadapi, dan banyak hal lain lagi yang mereka pelajari dari Daud. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama, tampillah empat ratus orang pahlawan, yaitu orang-orang yang telah diubahkan Tuhan melalui Daud. Hingga suatu hari kemudian Daud diangkat Tuhan menjadi raja atas Israel, pengikut-pengikutnya inilah yang turut menyertai Daud dan menjadi pemimpin-pemimpin inti di jajaran angkatan bersenjatanya Israel.

Sebatang tongkat kayu di tangan Isybaal sebelum bertemu dengan Daud di gua Adulam, hanyalah sekedar benda biasa yang mungkin hanya bisa digunakan sebagai tongkat pemukul anjing dan alat untuk menakut-nakuti anak kecil. Namun, seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani, pengetahuan, dan keterampilannya dalam bimbingan Daud, maka dengan tongkat kayu yang sama, Isybaal mampu menggunakannya sebagai senjata yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan di dalam suatu waktu, Isybaal sanggup menikam mati delapan ratus orang lawan dalam satu pertempuran. Betapa luar biasanya! Dan ternyata kemampuan itu bukan hanya dimiliki oleh Isybaal seorang, melainkan juga oleh seluruh pasukan inti Daud yang telah menjalani masa-masa pembentukan sebelumnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, bahwa suatu benda yang sederhana sekalipun bisa menjadi sebuah alat yang sangat luar biasa, tergantung benda tersebut berada di tangan siapa. Benda yang berada di tangan pribadi yang tidak tepat akan tetap menjadi benda biasa, namun di tangan seorang yang dewasa dan terlatih, benda biasa bisa menjadi alat yang sangat berguna. Apapun yang Tuhan percayakan kepada kita hari-hari ini, seharusnya hasilnya pasti akan berbeda seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani kita dan bertambahnya tingkat pengetahuan kita akan hal yang Tuhan percayakan tersebut.

Banyak hal yang rindu Tuhan percayakan kepada kita karena pada dasarnya Tuhan memang memiliki rencana besar bagi kita di bumi ini. Beberapa hal yang Tuhan percayakan di antaranya ialah:

(1). Jiwa-jiwa dan keluarga

Maz.127: 4  Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

Sebagai seorang yang dikejar-kejar, terluka dan sakit hati, Isybaal sangat berpotensi untuk menjadi seorang yang sangat berbahaya bagi orang lain dan lingkungannya, apabila ia bertemu dengan orang-orang yang sama “sakitnya” dengan dirinya. Namun luar biasanya, Tuhan telah mempertemukan Isybaal dengan Daud di dalam sebuah gua yang bernama Adulam. Meskipun sama-sama sedang dikejar-kejar, namun Daud memilih untuk menyerahkan segala perkaranya ke dalam tangan Tuhan, dan melihat jiwa-jiwa yang ada di sekelilingnya sebagai orang-orang potensial yang harus ia bentuk dan ia beri teladan yang baik supaya menjadi pribadi-pribadi yang bukan saja mahir untuk memuji dan menyembah Tuhan, namun juga dalam menggunakan senjata untuk berperang, sebagaimana Daud pun adalah seorang laskar yang luar biasa.

Di dalam hidup kita, Tuhan telah memercayakan jiwa-jiwa, termasuk teman dan anggota keluarga. Akan menjadi seperti apakah jiwa-jiwa tersebut, tergantung berada di tangan siapa mereka berada. Visi yang Tuhan berikan memasuki tahun 2014 ini adalah bahwa Tuhan memandang kita sebagai pribadi-pribadi yang telah cukup dewasa, sehingga Tuhan mulai memercayakan banyak hal besar kepada kita, termasuk jiwa-jiwa tersebut. Apabila kita memandang diri kita sebagai seorang pahlawan sebagaimana Tuhan memandang kita, maka jiwa-jiwa tersebut adalah “anak-anak panah” yang harus kita raut dan bentuk sehingga menjadi alat-alat Tuhan yang luar biasa. Sebaliknya, apabila kita memandang diri kita sebagai orang yang lemah dan biasa, maka bayangkan akan menjadi seperti apakah jiwa-jiwa yang seharusnya berpotensi menjadi anak-anak panah yang siap dilesatkan suatu hari nanti.

(2). Tugas dan tanggung jawab

2 Tim. 4:10  karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika.

Di akhir tugas pelayanannya, di tengah cucuran darah yang mengalir dari dalam tubuhnya, rasul Paulus begitu antusias mengingat sebentar lagi ia akan berjumpa dengan Tuhan Yesus di kekekalan dan siap untuk menerima mahkota kebenaran, sebagai penghargaan atas tugas dan tanggung jawab Kerajaan Sorga yang telah ia selesaikan dengan baik hingga mencapai garis akhirnya. Dari surat-suratnya, kita telah mengetahui bahwa tidaklah mudah bagi rasul Paulus untuk mengemban tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya, mengingat tantangan-tantangan sulit dari berbagai pihak harus ia hadapi di dalam tugas pemberitaannya. Namun Tuhan sangat puas atas hasil kerja dari seluruh rangkaian tugas yang Sorga percayakan kepadanya.

Namun sebaliknya, rasul Paulus berduka atas Demas, salah seorang rekan sekerjanya, yang telah meninggalkan pelayanannya karena kecintaannya kepada dunia. Demas tadinya adalah seorang pengikut Kristus yang berjumpa dengan Paulus pada waktu pemenjaraan yang pertama. Sama-sama mengirim salam lewat surat-surat yang ditulis rasul Paulus, berjuang bagi Kerajaan Sorga, namun akhirnya meninggalkan rasul Paulus dan pelayanannya karena kepentingan dirinya sendiri semata. Sangat disayangkan kalau tugas yang telah Tuhan percayakan selama ini tidak berakhir dengan baik. Tugas yang sama luar biasanya dengan yang Tuhan percayakan kepada hamba-hamba-Nya yang lain, ternyata memiliki hasil yang berbeda, tergantung ada di tangan siapa tugas-tugas itu.

Mari umat Tuhan, masih akan ada lebih banyak hal lain lagi yang akan Tuhan percayakan kepada kita, namun pastikan terlebih dulu siapakah diri kita di hadapan Tuhan. Apabila kita memandang diri kita sama seperti cara Tuhan memandang kita, yaitu sebagai orang-orang yang telah cukup dewasa, dan bersikap sebagaimana layaknya seorang yang telah dewasa, maka sudah pasti, apapun yang akan Tuhan percayakan, entahkah itu jiwa-jiwa, tugas dan pekerjaan, berkat maupun karunia-karunia, hal itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa dan nama Tuhan Yesus ditinggikan.

Tuhan Yesus memberkati!

20 Oktober 2013 – “Alat Di Tangan Pribadi Yang Tepat” (Growing To Maturity – Visi 2014)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>