20 Agustus 2017 – Apa Yang Ada Di Dalam Pikiranmu?

Markus 2:1-12 (8) Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
 
Karena kuasa Sorgawi menyertai, maka tidak heran ke mana saja Yesus pergi, orang banyak akan mengikuti-Nya. Dalam ayat di atas dikisahkan orang banyak berkumpul untuk mendengar ajaran Yesus, ketika Dia mengajar dalam satu rumah. Ada seorang yang lumpuh diusung oleh teman-temannya supaya bisa bertemu dengan Yesus, tetapi rumah tersebut telah penuh sesak oleh orang banyak, dan mereka tidak dapat masuk baik melalui pintu maupun jendela.
 
Lalu terpikirlah oleh mereka untuk naik ke atap rumah tersebut! Sebenarnya tindakan ini sangat beresiko karena mereka harus mengangkat teman mereka yang sedang sakit. Kegigihan mereka, jelas sekali mengindikasikan bahwa mereka percaya kepada Yesus dan kuasa-Nya. Menurunkan orang lumpuh melalui satu lubang di atap rumah merupakan suatu hal yang luar biasa, dan orang banyak yang melihatnya pasti merasa takjub.
 
Ketika Yesus melihat orang lumpuh dan keempat temannya itu, Ia dapat melihat iman dalam diri mereka. Maka Yesus mengampuni dosanya, yang memang lebih penting dari sekedar kesembuhannya secara fisik. Akan tetapi Yesus juga tidak berhenti sampai di situ saja, Ia juga lalu menyembuhkan orang itu secara fisik dari kelumpuhannya. Orang lumpuh itu segera berdiri, dia mengambil tempat tidurnya, dan berjalan keluar. Orang banyak pun terpukau heran!
 
Namun di tengah-tengah peristiwa yang luar biasa itu, ada sekelompok orang yang justru tidak menikmati mujizat yang dilakukan Yesus. Mereka adalah ahli-ahli Taurat yang sibuk memikirkan dan mempertanyakan keberadaan Yesus dan cara Yesus melakukannya. Mereka pikir bagaimana mungkin Yesus sanggup melakukan semuanya itu. Namun Yesus mengetahui apa yang mereka pikirkan, dan kemudian Ia bertanya kepada orang-orang tersebut apa yang ada di dalam pikiran mereka dan mengapa mereka berpikir demikian.
 
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Apa yang dilakukan oleh Tuhan sangatlah jauh dari apa yang dapat dipikirkan manusia. Seringkali akal pikiran kita sendirilah yang membatasi kuasa Tuhan bekerja. Sangat mungkin Tuhan mau melakukan sesuatu yang dahsyat atas problema yang kita hadapi, namun acapkali akal pikiran kita berkata bahwa cukuplah apabila Tuhan hanya melakukan bagian ini dan itu saja. Melalui pesan ini kita tahu bahwa Tuhan rindu melakukan hal-hal yang luar biasa atas kita, asalkan kita tidak membatasinya.
 
Beberapa pikiran yang harus kita miliki sekaitan dengan pesan Tuhan di atas adalah:
(1). Selalu ada jalan untuk mendekat kepada Tuhan
 
Mar. 2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
 
Ketika Yesus ada di kota Kapernaum di dalam sebuah rumah, maka berdatanganlah orang berduyun-duyun ke rumah tempat di mana Yesus berada tersebut. Dalam sekejap, keadaan rumah sudah begitu penuh sesak, sehingga tidak ada lagi tempat untuk orang-orang masuk ke dalamnya, baik dari pintu depan, belakang ataupun dari samping. Melihat kondisi yang demikian padat, mungkin sudah sekian banyak orang yang datang juga namun akhirnya memutuskan pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka berpikir untuk apa lagi merepotkan diri untuk sesuatu yang belum tentu terjadi atas mereka.
 
Namun, pemikiran itu tidak berlaku atas orang lumpuh dan keempat kawan-kawannya. Ketika mereka melihat bahwa semua jalan masuk sudah tertutup oleh banyaknya orang, mereka mulai berpikir sekiranya ada cara lain untuk mendekat masuk kepada Yesus. Kemudian tanpa berlama-lama mereka bertekad dan memutuskan untuk masuk dari atas, yaitu dengan cara membuka atap rumah tersebut. Cara inilah yang ternyata menarik perhatian Yesus ketika melihat ada orang lumpuh yang tiba-tiba turun ke tengah ruangan tepat di mana Yesus berada. 
 
Apabila kita perhatikan, pada waktu itu orang yang memerlukan pertolongan Tuhan tentu bukan hanya si orang lumpuh saja, namun mengapa hanya si orang lumpuh yang mengalami jamahan Tuhan? Ternyata orang lumpuh tidak menganggap banyaknya kerumunan orang-orang dan penuh sesaknya pintu-pintu sebagai penghalang bagi dirinya di dalam mencari Yesus.
 
(2). Selalu ada lawatan di dalam sebuah kesatuan hati
 
Mar. 2:3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.
 
Tentunya bisa kita bayangkan apa yg mungkin terjadi seandainya sejak awal si orang lumpuh dan ke-empat kawannya tidak memiliki kesatuan hati. Ketika melihat keadaan rumah yang sudah penuh sesak, sebagian dari mereka tetap ingin berjumpa dengan Yesus dan sebagian lainnya memutuskan untuk pulang, maka sudah pasti si lumpuh tidak akan mengalami apa-apa. Bayangkan pula seandainya ke-empat orang ini tidak memiliki kesepakatan yang sama bahwa mereka harus membawa si lumpuh ke hadapan Yesus, maka sejak menaikkan si lumpuh ke atap rumah dengan memegang tilam dari ke empat sisinya, pastilah si teman yg lumpuh itu sudah terjatuh. Keempatnya harus bersama-sama bekerja sama baik pada waktu menaikkan, maupun pada waktu menurunkan tilam itu. 
 
Mungkin hari ini kita tidak harus membawa seorang lumpuh kepada Tuhan dengan cara digotong bersama-sama empat orang di atas sebuah tilam, namun semangat dalam membangun sebuah kesatuan hati (unity) di dalam keluarga, atau pun dalam gereja tetap harus kita miliki. Karena, ketika kita berpikir bahwa aku bisa melakukan apa pun tanpa perlu bersehati dengan sesama anggota keluarga atau pun dengan sesama saudara seiman, maka sesungguhnya kita sedang tidak menghidupi firman Tuhan tentang sebuah kesepakatan yang menghasilkan sebuah harmoni. “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat.18:19).
 
Mari umat Tuhan, kita semua tentu rindu mengalami lawatan Tuhan seperti yang dialami orang lumpuh dalam kisah di atas, sehingga setiap orang dapat berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat.” (ay.12). Namun semua itu akan menjadi sia-sia ketika pola berpikir kita masih seperti kelompok ahli Taurat yang selalu mempertanyakan keberadaan dan cara Tuhan dalam melakukan mujizat. Selamat berpikir benar!
 
Tuhan Yesus memberkati!
 

20 Agustus 2017 – Apa Yang Ada Di Dalam Pikiranmu?

| Warta Jemaat |
About The Author
-