Markus 5:21-24 (23) dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”

Sekembali dari perjalanan menyembuhkan seorang yang dirasuk setan di Gerasa, Yesus beserta murid-murid-Nya disambut oleh orang banyak. Saat Yesus berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Saat melihat Yesus, maka tersungkurlah ia di depan kaki-Nya. Kedatangan Yairus yang langsung menjatuhkan dirinya di kaki Yesus membuat peristiwa ini menjadi tontonan yang menarik. Maklum, Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat, imam dari sebuah sinagoge. Posisinya tinggi, setara dengan seorang imam besar sebuah agama di masa kini.

Sebagai seorang ayah yang mencari kesembuhan buat puterinya, Yairus telah mendengar bahwa Yesus bisa melakukan keajaiban dan menyembuhkan orang sakit. Karena itu, tidak mengherankan apabila Yairus sangat menantikan kepulangan Yesus dari seberang danau bersama orang-orang lain. Dia tidak peduli dengan kesepakatan yang telah ia buat dengan para koleganya, yaitu para imam dan ahli Taurat, untuk bersama-sama menolak ajaran Yesus. Mungkin karena telah mendengar atau melihat langsung berbagai mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus, maka Yairus sangat rindu membawa Yesus menemui anaknya yang sedang sakit keras.

Begitu melihat Yesus, ia segera memohon dengan sangat agar Yesus datang dan “meletakkan tangan-Nya” pada anaknya, supaya anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati itu bisa sembuh. Yesus mendengar permohonan Yairus dan menyadari gentingnya situasi tersebut, lalu Ia memutuskan untuk segera pergi bersama-sama dengan Yairus untuk menemui anak perempuannya tersebut. Sementara itu, orang banyak tetap mengerumuni mereka sepanjang perjalanan. Bisa dibayangkan betapa kesalnya hati Yairus karena perjalanannya bersama Yesus sangat terganggu oleh banyaknya orang yang terus mengerumuni Yesus sepanjang perjalanan.

Setelah melewati berbagai halangan dan rintangan, akhirnya tibalah Yesus bersama orang-orang yang menyertai-Nya di rumah Yairus. Keadaan sudah demikian berbeda, karena sejak dari tengah perjalanan mereka sudah diberi kabar dari sanak keluarga Yairus bahwa anak perempuannya sudah meninggal. Entah apa yang tengah berkecamuk di dalam pikiran Yairus yang merasa bahwa semua usahanya ini sia-sia, namun kekuatan dari Yesuslah yang membuat ia masih punya pengharapan bagi anak perempuannya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan mau setiap kita bertindak seperti “Yairus” yang ketika mengetahui bahwa ada “sesuatu” yang sakit dan mungkin sudah mati di dalam kehidupan kita, tidak berdiam diri, tetapi langsung melakukan sebuah tindakan untuk bersegera melibatkan Yesus agar menjadi hidup kembali. Mungkin “kematian” itu berupa sebuah hubungan di antara sesama anggota keluarga, rekan, maupun dengan pasangan hidup, atau “kematian” hati yang sudah menjadi tawar dan pahit. Apapun segala bentuk “sakit” dan “kematian” yang terjadi, bersegeralah mengajak Yesus datang ke dalam “rumah” kita. Sedikit gangguan pada salah satu anggota tubuh, akan membuat seluruh tubuh menjadi terganggu juga.

Sikap seperti apa yang harus kita ambil sekaitan dengan pesan Tuhan di atas?
(1). Bangkit dan bertindaklah dengan segala kerendahan hati

Markus 5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya

Yairus yang adalah seorang pemimpin terkenal tentu mengenal siapa Yesus, yaitu orang yang telah dimusuhi oleh kelompoknya sendiri. Yesus dianggap telah menimbulkan gangguan dan guncangan dalam komunitasnya., namun Yairus mau mengesampingkan semuanya itu untuk memohon bantuan Yesus. Dalam cerita yang sama di Injil Matius, Yairus datang bahkan ketika keadaan anak perempuannya sudah meninggal dunia (Mat. 9:18), sehingga keberaniannya mendatangi Yesus adalah tindakan yang luar biasa. Ia sudah tidak peduli akan tindakan hukuman macam apa yang akan ia terima dari para imam dan ahli Taurat saat mengetahui Yairus, sebagai seorang kepala rumah ibadat, datang tersungkur di kaki Yesus.

Berapa banyak orang percaya yang mau datang dan bertindak seperti Yairus yang tidak peduli menceriterakan permasalahannya di hadapan orang banyak yang mengenali dia sebagai seorang terpandang di kalangan bangsa Yahudi. Masih banyak orang percaya yang memilih untuk menyembunyikan “aib” permasalahannya demi agar tidak diketahui oleh siapapun. Datang berdoa kepada Tuhan tentunya tidaklah salah, tetapi seringkali Tuhan mengajarkan agar kita mau datang berterus terang dan mengonsultasikannya kepada orang-orang yang telah Tuhan percayakan untuk melayani kita.

(2). Bangkit dan berimanlah

Markus 5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”

Pemulihan yang terjadi karena Kristus datang melalui iman percaya kita. Mujizat dan iman bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika kita merindukan mujizat Tuhan terjadi dalam kehidupan kita, maka iman perlu dilibatkan di dalamnya. Iman adalah “modal dasar” untuk terjadinya mujizat, dan iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Yun. : rhema). Banyak orang percaya yang merindukan terjadinya mujizat namun seringkali tidak mau melibatkan iman di dalamnya. Hambatan dan rintangan yang terjadi di sepanjang perjalanan Yairus sejak bertemu dengan Yesus hingga akhirnya ia mendengar kabar dari sanak saudaranya yang datang menyusul untuk memberitahukan bahwa anaknya sudah meninggal, adalah cara Tuhan mengajarkan Yairus untuk beriman.

Kita bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Yairus ketika mendengar bahwa anak yang dikasihinya dikabarkan sudah meninggal. Ibarat nasi sudah menjadi bubur dan langit menjadi runtuh, justru di titik itulah sebetulnya Yesus sedang mengajarkan sebuah pelajaran penting dalam hidup Yairus. Segala bentuk halangan dan rintangan yang terjadi sepanjang perjalanan yang dalam pandangan mata Yairus dianggap sebagai penyebab kegagalan, namun justru dijadikan Yesus sebagai sebuah “mata pelajaran” khusus untuk mengajarkan makna iman bagi Yairus.

Mari jemaat yang dikasihi Tuhan, lewat pesan-Nya ini, Tuhan sedang membawa kita untuk mengalami terobosan besar dalam kehidupan kita. Namun terobosan itu tidak akan dialami apabila kita membiarkan “kematian” didiamkan begitu saja karena kematian di salah satu area kecil kehidupan akan “mematikan” area-area lainnya. Selamat bertindak!

Tuhan Yesus memberkati!

19 Juni 2016 – Menghidupkan setiap Kematian

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>