Yohanes 1:47  Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia:”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

Itulah perkataan yang keluar dari mulut Yesus ketika pertama kali Ia berjumpa dengan Natanael yang diperkenalkan oleh Filipus, salah seorang murid Yesus. Suatu ucapan yang terkesan spontan dari Yesus, namun kita mengetahui bahwa tidak ada ucapan yang asal-asalan datang dari Yesus. Yesus melihat Natanael sebagai sosok pribadi yang berbeda dari kebanyakan orang Israel pada waktu itu.

Berbagai hal telah memengaruhi kehidupan orang-orang Israel pada masa itu, baik pengaruh kebudayaan Romawi yang sedang berkuasa di wilayah Israel, pengaruh kehidupan agamawi yang lebih mengutamakan ibadah dan hal-hal yang bersifat lahiriah yang masih dijalankan oleh kebanyakan orang Israel, maupun pengaruh adat istiadat dari berbagai bangsa yang datang dan diam di antara orang-orang Israel, sehingga tidak mudah untuk menemukan sosok pribadi seorang Israel asli yang tidak tercemar oleh hal-hal di atas. Namun demikian, ketika Yesus melihat Natanael, Ia langsung berkata bahwa inilah seorang Israel yang sejati, yang tidak memiliki kepalsuan di dalamnya..

Pesan Tuhan minggu ini masih terus berbicara tentang menjadi pribadi anak-anak Tuhan seperti apa adanya, yang tidak memiliki kepalsuan di dalamnya. Di dalam Warta Jemaat minggu lalu kita sudah diingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu menjadi seperti orang lain dengan tujuan supaya lebih diterima, lebih dihormati, atau dikagumi oleh orang-orang di sekitarnya. Tuhan mau kita bangga dengan menjadi diri kita sendiri apa adanya, yaitu sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dilahirkan baru di dalam Kristus dan memiliki tujuan hidup ilahi yang luar biasa. Sungguh, begitu besarnya potensi, karunia, kuasa dan otoritas yang telah Tuhan siapkan di dalam setiap pribadi kita, anak-anak-Nya, hingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mau atau tidak bisa menjadi seperti yang sudah Tuhan rancangkan.

Apa yang dimaksud oleh Yesus ketika Ia berkata kepada Natanael bahwa tidak ada kepalsuan di dalam dirinya?

(1). Memiliki ketulusan hati yang luar biasa

Yohanes 1:50  Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”

Yesuspun terkagum-kagum dengan perkataan Natanael yang langsung mengakui keberadaan Yesus sebagai Anak Allah dan Raja orang Israel (ay. 49), hanya karena (di ayat sebelumnya) Yesus berkata kepada Natanael bahwa Ia telah melihat dirinya di bawah pohon ara sebelum Filipus membawanya kepada Yesus. Yesus sudah “mengamati” Natanael terlebih dulu sebelum Natanael diperkenalkan Filipus kepada-Nya. Hanya berdasarkan perkataan Yesus itulah maka Natanael langsung mengenali dan mempercayai jati diri Yesus yang sesungguhnya.

Di mata Yesus, perkataan Natanael ini sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang tidak lazim, berbeda dengan sikap bangsa Israel pada umumnya. Alkitab mencatat bahwa dari sejak jaman Musa, bangsa Israel sudah dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Jangankan mendengarkan perkataan Yesus kepada Natanael yang sesederhana itu, mendengar perkataan Allah langsung yang menggelegar dari Gunung Horeb sekalipun sudah pernah mereka dengar, namun tidak mereka hiraukan. Jangankan hanya mendengar kabar bahwa Allah melakukan mujizat, bangsa Israel bahkan sudah melihat dan mengalami secara langsung, menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, betapa banyaknya mujizat yang dilakukan Allah, bahkan mujizat yang paling dahsyat sekalipun sudah pernah dilakukan Allah di hadapan mereka, namun hal-hal tersebut tetap saja tidak membuat mereka menjadi percaya kepada Tuhan. Itulah sebabnya, Yesus berkata bahwa Natanael adalah seorang Israel sejati, yang dengan tulus hati langsung mempercayai setiap perkataan Yesus.

Bagaimana dengan kita saat ini? Adakah kita sungguh seorang pemercaya sejati (“Israel” sejati), yang percaya akan setiap firman yang Tuhan sampaikan kepada kita hari lepas hari, tanpa keragu-raguan? Seperti yang Yesus katakan kepada Natanael, bahwa karena ia percaya atas setiap perkataan Yesus, maka ia akan melihat hal-hal yang lebih besar lagi daripada itu. Demikian pula kita, apabila kita percaya akan setiap perkataan Yesus, maka ada hal-hal lebih besar lagi yang Tuhan akan nyatakan dalam hidup kita.

(2). Tidak mendua hati atau bermuka dua

Yoh. 1:47b “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (AMP= Here is an Israelite indeed, in whom there is no guile nor deceit nor falsehood nor duplicity!)

Selama pelayanan-Nya di bumi, ke manapun Yesus pergi, Ia seringkali diikuti oleh berbagai macam kelompok orang. Kelompok pertama adalah kelompok murid-murid Yesus yang dengan setia mengikuti Dia sambil belajar langsung dari keteladanan hidup Sang Rabbi yang luar biasa ini. Kelompok kedua adalah kelompok orang yang berbondong-bondong. Kelompok ini mengikuti Yesus seolah-olah ingin mendengar pengajaran-pengajaran dari Yesus, namun sebenarnya memiliki kepentingan pribadi yang lain yaitu mengejar mujizat dari Yesus, seperti berkat, kesembuhan, nubuatan, dan lain-lain. Kelompok yang ketiga adalah kelompok orang Farisi dan ahli Taurat. Kelompok inipun acapkali berada di antara Yesus dan kerumunan orang banyak tersebut, namun memiliki tujuan yang lain lagi. Kelompok ketiga ini terlihat sama seperti murid-murid Yesus yang tekun mendengarkan pengajaran Yesus, namun di balik perilakunya itu, sebenarnya mereka sedang sibuk mencari kesalahan-kesalahan dalam pengajaran Yesus. Bahkan menggunakan bahan pelajaran yang mereka terima untuk balik menyerang Yesus saat ada kesempatan. Inilah yang dimaksud Yesus dengan orang-orang Israel yang mendua hati atau bermuka dua (duplicity).

Hari-hari ini, di Tahun Kegerakan Murid-murid Yesus yang Ke-empat (Visi Generasi Terang), Tuhan terus membangkitkan para jemaat-Nya agar mengaktivasi diri sehingga dapat tampil sebagai murid-murid Kristus yang sejati, sesuai dengan perintah-Nya dalam Amanat Agung yang telah Ia sampaikan beberapa waktu lalu. Menjadi orang-orang yang bersedia untuk dimuridkan hari lepas hari, dan sekaligus juga siap untuk memuridkan kembali. Melalui pemuridan ini, kita sesungguhnya sedang dipersiapkan dan mempersiapkan generasi-generasi yang siap tampil dan menjadi berkat di masyarakat, di kota di mana kita ditempatkan Tuhan. Tanpa pemuridan, maka kita hanya akan menjadi Kristen jenis kelompok dua atau kelompok tiga saja.

Umat Tuhan, ketika kita diingatkan kembali untuk menjadi diri kita apa adanya, kita sudah semakin mengerti sekarang bahwa sesungguhnya Tuhan mau kita menjadi murid-murid-Nya yang sejati, yaitu orang-orang tulus yang percaya akan setiap perkataan firman Tuhan tanpa berbantah-bantah dan menjadi orang-orang yang mau diajar dan dibentuk bukan saja lewat pengajaran semata-mata, namun juga lewat pelajaran kehidupan saat berjalan bersama Yesus, dan melalui bimbingan hamba-hamba-Nya, tentu saja.

Tuhan Yesus memberkati!

18 November 2012 – Jadilah Dirimu Seperti Apa Adanya (Bag 2)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>