Titus 2: 2-8 (2) Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. (7) Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal … .
Inilah beberapa nasihat yang disampaikan rasul Paulus dalam surat penggembalaannya kepada Titus. Ia mengajarkan Titus tentang “hidup berpemerintahan” yang baik di dalam kehidupan orang-orang percaya. Hidup berpemerintahan adalah kehidupan orang percaya yang berdasarkan kebenaran firman serta prinsip-prinsip Kerajaan Sorga yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan memengaruhi orang lain lewat keberadaannya. Dan kehidupan berpemerintahan yang diajarkan tersebut pertama-tama ditujukan kepada para penilik dan penatua di dalam gereja secara umum, setelah itu rasul Paulus menginstruksikan agar hal itu diajarkan juga kepada para orang percaya secara spesifik.
Yang dimaksud dengan mengajarkan kepada orang percaya secara spesifik adalah orang-orang percaya yang berada di berbagai tempat dan dari berbagai status sosial serta usia. Hal ini penting, mengingat pada waktu itu berbagai ajaran sesat sedang melanda para pemercaya Kristus, dan hal itu tidak bisa ditangkal hanya dengan membekali beberapa orang dengan cara ala kadarnya saja. Pembekalan harus bersifat holistik, artinya, menyeluruh dan masuk ke dalam kehidupan orang percaya di berbagai tingkat usia. Karena penyesatan pada dasarnya tidak memandang bulu, Siapapun dan orang di usia berapapun berusaha dimasukinya.
Pembekalan yang berhasil adalah pembekalan yang bukan saja membuat seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, atau dari tidak mengerti menjadi mengerti, namun membuat seseorang mengalami kebangunan rohani dalam dirinya. Karena ketika seseorang mengalami kebangunan rohani, maka ia tidak akan dapat tinggal diam begitu saja, melainkan akan “mengobarkannya” kembali kepada orang lain lagi. Ingatkah apa yang dilakukan perempuan Samaria ketika ia mengalami kebangunan rohani setelah berjumpa dengan Yesus? Ia tidak dapat tinggal diam. Ia segera pulang ke kotanya untuk memberitakan kabar sukacita bahwa ia baru saja bertemu dengan Sang Mesias.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan ingin kebangunan rohani terjadi di dalam kehidupan setiap orang percaya. Dan kebangunan rohani yang dimaksud tidak hanya terjadi pada beberapa orang di tingkat usia tertentu saja, tetapi juga dialami orang percaya dari berbagai tingkat usia. Adalah tugas para orang tua yang sudah lanjut usia untuk menjadi contoh dan mengajarkan nilai-nilai Kerajaan Allah kepada generasi anak-anaknya, dan selanjutnya, generasi angkatan di bawahnya tersebut mengobarkan nilai itu kembali kepada generasi yang lebih muda lagi. Maka akan terjadilah kebangunan rohani di berbagai generasi dan tingkat usia yang siap mengobarkannya kepada siapapun yang dijumpainya.
Beberapa hal yang dapat kita tangkap mengenai pesan Tuhan di atas adalah sebagai berikut:
(1). Setiap generasi harus mengenal Allahnya
Kejadian 28:13 Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
Sebelum peristiwa perjumpaan Yakub dengan Allah dalam sebuah mimpi di Bethel, Allah hanya dikenal oleh dua orang dari dua generasi saja, yaitu Abraham dan Ishak. Sehingga di zaman itu Allah hanya dikenal dengan sebutan Allah Abraham dan Allah Ishak. Pengalaman Abraham bersama Allah diceritakan kepada generasi penerusnya, yaitu Ishak. Dan pada suatu hari, Ishak yang sudah sering mendengar kisah tentang Allah yang hidup dari ayahnya mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah ayahnya. Dan sejak peristiwa itulah Ishak memiliki suatu persekutuan dengan Allah. Dan sejak itu pula Ishak mengakui Allah ayahnya sebagai Allahnya juga.
Hal yang sama dilakukan Ishak dengan menceritakan pengalaman pribadinya bersama Allah kepada Yakub, anaknya. Yakub tidak sungguh-sungguh mengenal Allah Ishak, Allah ayahnya, sampai suatu kali ia mengalami suatu perjumpaan pribadi lewat mimpi dengan Allah. Sejak saat itu, Allah ayahnya dan Allah Abraham, kakeknya, menjadi Allah bagi dirinya secara pribadi juga. Sehingga kemudian dikenallah suatu sebutan “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memiliki suatu pengalaman pribadi bersama Kristus? Bila sudah, mari kita impartasikan pengalaman tersebut kepada generasi setelah kita agar mereka juga turut mengalami kobaran api kebangunan rohani melalui pengalaman pribadi mereka sendiri bersama Tuhannya.
(2). Generasi yang tidak diajarkan akan sulit menerima hal-hal yang dari Allah
Kejadian 37:8 Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?” Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu.
Yusuf yang sehari-harinya dekat dengan Yakub, ayahnya, mungkin sudah sering sekali mendengar pengalaman-pengalaman pribadi ayahnya dengan Allah. Ini yang membuat Yusuf sudah sangat terbiasa dengan kisah-kisah supranatural tentang perjumpaan manusia dengan Allah, dan tentang apa saja yang dapat dilakukan Allah ketika hendak menyampaikan rencana-Nya kepada manusia. Itulah sebabnya Yusuf begitu antusias saat mendapat sebuah mimpi yang tidak biasa dari Allahnya yang kemudian secara spontan ia ceritakan kepada kakak-kakaknya.
Sebaliknya, kakak-kakaknya yang lebih sering menghabiskan waktu mereka di padang rumput untuk menggembalakan kambing dan domba orangtuanya, telah kehilangan banyak waktu yang penting untuk mendengarkan kisah-kisah pengalaman orangtuanya bersama Tuhan. Hal inilah yang membuat mereka tidak dapat menerima ketika Yusuf, adiknya, menceritakan pengalaman mimpinya tersebut. Bahkan ia menganggap mimpi tersebut sebagai sebuah penghinaan.
Adakah kita juga terlalu sibuk, sehingga kehilangan waktu-waktu penting kita bersama Tuhan? Hilangnya waktu-waktu penting tersebut membuat generasi orangtua tidak berkesempatan menceritakan pengalaman mereka bersama Tuhan kepada generasi anak-anaknya, sehingga anak-anak sulit untuk memahami dan percaya akan perkara-perkara yang indah dari Tuhan. Mari kita bangkitkan kembali kebangunan rohani di setiap generasi. Karena kebangunan rohani yang dialaminya tidak akan dapat membuatnya tetap tinggal diam melainkan akan menceritakannya kembali kepada orang banyak.
Tuhan Yesus memberkati!

18 Januari 2015 – Kebangunan Rohani Di Setiap Generasi

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>