Yohanes 4:13-14 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Air merupakan kebutuhan dasar manusia. Sudah menjadi anggapan umum di mana kita menemukan air, maka di sana ada harapan akan kehidupan. Air tawar adalah hal yang paling penting untuk kesejahteraan kita. Seperti mesin raksasa atau darah di tubuh kita, air bekerja siang dan malam. Siklus air dan ekosistem yang melekat adalah faktor utama bagi kehidupan planet ini. Dalam kehidupan manusia air tawar digunakan untuk minum, mengolah makanan, mandi, energi, transportasi, pertanian, industri, dan rekreasi.

Jumlah air yang terbatas dan semakin banyaknya manusia menyebabkan terjadinya krisis air bersih. Selain jumlahnya, kualitas air tawar yang ada pun semakin rusak. Perebutan penggunaan air bersih untuk berbagai penggunaan menyebabkan hilangnya akses yang layak terhadap air bersih bagi sebagian orang. Perilaku boros air bersih menyebabkan semakin banyak lagi orang yang kehilangan akses terhadap air bersih.

Curah hujan di wilayah Palestina sangat sedikit sekali, terutama pada bulan-bulan kemarau. Jadi penggunaan sumur adalah sesuatu yang penting bagi masyarakat disana. Kebanyakan rumah-rumah disana mempunyai sumur tersendiri, namun ada juga sumur-sumur umum yang dipakai secara kolektif oleh sebuah komunitas atau kelompok masyarakat setempat. Seperti contohnya sumur Yakub, tempat dimana penduduk Sikhar di daerah Samaria biasa mengambil air. Sumur Yakub tersebut adalah sekaligus menjadi tempat dimana Yesus dan perempuan Samaria bertemu.

Percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria dibuka dengan permintaan Yesus akan air untuk minum kepada perempuan yang sedang menimba air di sumur tersebut. Lalu percakapan berlanjut kepada hal seputar kebutuhan perempuan  akan air yang sesungguhnya, dimana Yesus menawarkan “air hidup” yang sangat berbeda dengan air sumur yang kebanyakan orang-orang setempat datang untuk mengambilnya. Disana Yesus memaparkan perbedaan yang sangat mencolok. Bahwa barangsiapa minum air yang dari sumur, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang berasal dari dalam diri-Nya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Bahkan akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Betapa luar biasanya air yang bersumber daripada Yesus ini!

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Bahwa banyak umat Tuhan yang beribadah, namun belum mendapatkan mata air sejati yang berasal dari diri pribadi Yesus Kristus sendiri. Sehingga seringkali mengalami “kekeringan” disaat ia sebetulnya sangat membutuhkannya, karena belum memeroleh air secara langsung yang berasal  dari Tuhan. Kita akan memasuki masa-masa yang tidak mudah, Tuhan mau kita sungguh-sungguh mendapatkan Kristus Sang sumber mata air tersebut, sehingga tetap mengalami kesegaran dan kebugaran rohani jasmani.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menikmati “air hidup” yang sejati:
(1). Datang mendekat dan meminta langsung kepada Tuhan

Yoh. 4: 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Saat perempuan Samaria itu merespon, Yesus menawarkan air hidup yang menjadi kebutuhan perempuan Samaria itu. Selama ini perempuan itu sudah punya 5 orang suami dan saat itu tinggal bersama dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Hidup yang dijalani adalah hidup yang penuh dengan kegersangan dan kekeringan. Ada sesuatu yang sedang dikejarnya, namun tidak pernah ia mengalaminya sampai ia berjumpa dengan Yesus yang menawarkan air hidup kepadanya; air hidup yang akan menjadi mata air dan terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal (ay. 14). Perempuan Samaria itu begitu tertarik dan ingin memperoleh air hidup yang ditawarkan Yesus itu, sehingga dia mendesak Yesus untuk memberikannya.

Banyak orang percaya yang rindu untuk mengalami kesegaran dari “air hidup” yang berasal dari Tuhan di tengah hidupnya yang kering, namun tidak berusaha untuk memintanya kepada Tuhan. Mereka sekedar merindukannya, namun tidak pernah sungguh-sungguh memintanya. Mereka bukan hanya “malu-malu” untuk memintanya, namun juga menghalang-halangi kehidupan lamanya untuk dibongkar oleh Tuhan. Padahal kunci untuk mengalami pemulihan dari Tuhan adalah kesediaan untuk dibaharui terlebih dahulu kehidupan lamanya.

(2). Datang dan menjadikan Kristus sebagai pusat penyembahan

Yoh. 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Setelah bertemu Yesus dan seluruh rahasia kehidupannya dibongkar, membuat perempuan ini mengenali Yesus bukan lagi sebagai manusia biasa, namun sebagai nabi yang mampu membuka sesuatu yang disembunyikan dalam kehidupannya dengan tujuan agar ia bertobat. Perempuan Samaria ini tidak puas hanya sampai disitu saja, kemudian ia memutuskan untuk masuk ke dalam area spiritualitas dengan mempertanyakan mengenai penyembahan yang benar, karena nenek moyangnya selama ini menyembah allah mereka di atas Gunung Ebal dan Gerizim dekat dengan tempat tinggal mereka;  namun orang Yahudi menyatakan bahwa Yerusalem lah tempat orang menyembah. Dalam dirinya mulai muncul kerinduan untuk mengenal dan menyembah Allah secara benar.

Yesus pun lalu menunjukkan kebenaran, bahwa orang-orang Samaria belum mengenal Allah yang benar, sekalipun mereka melakukan pemujaan di gunung-gunung sekitar tempat mereka tinggal. Demikian pula orang-orang Yahudi yang menjadikan Yerusalem sebagai pusat penyembahan mereka. Lalu Yesus kemudian menjelaskan kepadanya bahwa penyembahan yang sejati adalah mereka yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, bukan didasarkan pada tempat, karena Bapa yang kita sembah adalah Roh adanya. Saat Yesus menjelaskan tentang hal ini, mata rohani perempuan Samaria itu makin terbuka dan dia mengenali Yesus sebagai Mesias. Kunci untuk mengalami kelimpahan “air hidup” yang dari Tuhan adalah mengalami “revolusi” (perubahan) di dalam kehidupan penyembahan kita.

Mari umat Tuhan, sangatlah disayangkan apabila kita memiliki Kristus yang adalah Sang Sumber Air Hidup, namun kita sebagai orang-orang percaya tidak pernah mengalami kepenuhan dari Air Hidup tersebut. Lewat pesan-Nya ini Tuhan mengundang setiap kita untuk mengalaminya, karena Ia tahu bahwa kita membutuhkannya.

Tuhan Yesus memberkati!

18 Desember 2016 – Menikmati Air Kehidupan Sejati

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>