Mazmur 18:33-34 Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

Mazmur ini adalah nyanyian syukur yang dituliskan Daud oleh karena kemenangan yang diperolehnya. Pemazmur menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan yang telah menyertainya pada masa kesesakannya.  Ia menggambarkan bagaimana Tuhan turun tangan yang dilukiskan sebagai penampakan Allah yang sangat dahsyat beserta pertolongan-Nya yang luar biasa. Ini merupakan sebuah renungan tentang alasan Tuhan menolong dan menyelamatkan Daud, semua tidak lain karena kesetiaan Tuhan terhadap pribadi yang senantiasa memiliki kerinduan kepada-Nya.

Daud merasakan kasih setia Tuhan yang telah memilih dia sebagai raja Israel. Daud menyatakan kasihnya kepada Tuhan karena Dia sudah menjadi kekuatannya dalam mengarungi perjalanan panjang hidup dan pelayanannya. Ini terlihat mulai dari saat pemanggilannya, masa persiapannya, dan masa pemerintahannya. Daud menyadari sekali bahwa perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Tidak henti-hentinya musuh berusaha menghadang setiap langkahnya, namun ia menyadari bahwa kalau bukan karena Tuhan yang telah mengikat pinggangnya dengan keperkasaan dan yang telah meratakan jalan di sepanjang langkah hidupnya, tentu ia tidak akan mencapai posisi seperti saat itu.

Daud pernah mengalami masa-masa dimana langkah kakinya kadang sudah begitu lemah dan berat, seolah-olah tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ke mana ia harus melangkah. Namun selalu ia merasa mendapatkan kekuatan baru ketika menyertakan Tuhan dalam setiap jalannya. Ia mengibaratkan dirinya bagaikan rusa yang menjadi begitu lincah melompat serta melangkahkan kakinya melewati rintangan demi rintangan, melompati penghalang demi penghalang yang menghadangnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Hari-hari yang akan kita hadapi ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, karena bukankah hal itu sudah dinyatakan dalam Alkitab bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Namun hal itu bukan berarti bahwa hidup kita para pemercaya akan turut menjadi sukar pula, asalkan kita terus berjalan melekat bersama Tuhan. Daud adalah seorang yang pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit dalam perjalanan hidupnya, namun langkah-langkah yang ia lalui bersama Tuhan telah membuat ia berjalan menapaki anak tangga demi anak tangga, dari yang terrendah hingga suatu hari menjadi seorang raja yang sangat berkenan di hati Tuhan.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan sehingga Tuhan meratakan setiap rintangan yang menghalangi jalan kita:
(1). Menjadikan Tuhan sebagai Gunung Batu perlindungan

Mazmur 18:32-34 Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

Sebagai mahluk yang lemah, seberapa jauh kita bisa berjalan mengandalkan kekekuatan kita sendiri? Cepat atau lambat kita akan menyerah kalah pada berbagai kesulitan. Kita tidak akan mampu keluar dari beban persoalan jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Kita harus menyadari keterbatasan kita. Saat kita sendiri mengetahui batas kemampuan kita, di sanalah kita akan sadar bahwa Tuhan siap menjadi jawaban atas segala yang kita alami. Kita harus naik ke tempat yang lebih tinggi agar bisa selamat, dan Tuhan siap memberikan kaki-kaki yang kuat untuk menapak naik ke sana. Tuhan siap membuat kita naik lebih tinggi di atas semua masalah dan keluar menjadi pemenang. Berada di tempat tinggi di atas bukit menggambarkan sebuah tempat di mana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita.

Rusa adalah mahluk lemah yang rentan dalam menghadapi bahaya. Setiap saat berbagai hal bisa mengancamnya, begitu banyak predator siap menerkamnya. Tuhan mau kita belajar dari kebijaksanaan rusa yang mau menyadari kelemahannya dan memilih untuk membangun rumah di atas bukit batu. Teruslah melatih kehidupan rohani kita agar semakin meningkat dan terus bertumbuh. Teruslah menapak naik dan kenali Tuhan lebih jauh dan berjalan lebih intim lagi dan bangunlah seluruh sendi-sendi kehidupan di dalam Tuhan. Semakin tinggi kita berada, semakin sulit pula bagi masalah untuk menggoyahkan kita.

(2). Menjadikan Tuhan sebagai Penerang dalam setiap langkah kita

Mazmur 18:29-30 (29) Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku. (30) Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok.

Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Amsal 20:27). Memang pelita (roh) setiap orang itu berbeda-beda. Pelita orang-orang jahat itu akan dipadamkan oleh dosanya sehingga menjadi gelap gulita, sehingga tidak dapat melihat apa-apa. Namun pelita orang benar itu akan menjadi terang dan semakin terang ketika orang benar sungguh menjadikan Tuhan sebagai raja dalam hidupnya. Sebab orang benar itu dipimpin Roh Allah (Rom. 8:14), sehingga Roh Allah membuat pelita atau roh kita yang adalah orang-orang benar semakin terang. Terangnya pelita  semakin kita bisa melihat dan mengerti akan banyak perkara termasuk melihat segala bentuk jerat dan perangkap yang dibuat musuh.

Musuh acapkali membuat tembok untuk menghalangi dan menahan kita. Tembok itu menjegal agar kita tidak bisa melewati atau keluar daripadanya, namun apabila disertai Roh Allah yang menerangi, siapatah yang dapat melawan kita? Tembok tinggipun bisa kita lompati, luar biasa bukan? Artinya, apabila musuh semakin ganas, semakin banyak, semakin menghadang, justru kita akan diberi kemampuan untuk bisa melihat dan menghadapi bahkan mengalahkannya dengan luar biasa. Kita akan semakin kuat dan semakin cakap dengan hikmat dan pengurapan yang Tuhan beri. Seperti inilah cara Tuhan memroses kita menjadi pribadi yang dewasa, yaitu dengan ketaatan akan pimpinan Roh Allah dalam menghadapi tantangan.

Mari umat Tuhan, perjalanan pengiringan kita kepada Tuhan tidaklah selalu rata dan mulus. Kadang  jalan itu berliku-liku, berbatu-batu, bahkan acapkali diwarnai dengan jerat dan penghalang dari si musuh. Dengan visi 2017 yang diberikan kepada kita ini, Tuhan mau kita melaluinya dengan berjalan senantiasa dalam keintiman bersama-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

16 Oktober 2016 – Tuhan Meratakan Setiap Jalan Kita

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>