Daniel 3:19  Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.

Suatu hari raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel. Lalu raja menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu. Seluruh pejabat yang hadir tersebut diberi perintah yang berbunyi bahwa saat terdengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah mereka sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. Dan barangsiapa tidak sujud menyembah, maka akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yaitu orang-orang buangan Yahudi yang telah diberi kekuasaan oleh raja untuk memerintah atas beberapa wilayah di Babel, termasuk di antara pejabat yang hadir dalam upacara tersebut. Dan mereka inilah yang tidak mau mengindahkan titah sang raja untuk sujud menyembah kepada patung emas itu. Hal ini membuat raja murka dan memaksa mereka sujud dan memuja patung emas tersebut. Di tengah tekanan yang sedemikian besar, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego
berketetapan hati untuk tidak sujud menyembah kepada patung itu, hingga akhirnya, dalam amarahnya, raja memerintahkan agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas lalu memasukkan mereka ke dalamnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, umat-Nya, bahwa hari-hari ini, di tengah kegeramannya yang besar, iblis beserta bala tentaranya sedang menaikkan tekanan “suhu” kepada gereja dan segenap umat Tuhan. Tuhan mau agar kita, umat-Nya, menjadi orang-orang yang tetap teguh berdiri dan tidak tergoyahkan bahkan ketika suhu “perapian” semakin dipanaskan. Si musuh memang mencoba menekan dan memojokkan umat Tuhan supaya pada akhirnya mau berkompromi dengannya.

Oleh sebab itu, mari kita belajar dari keteladanan sikap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang tetap kuat dan menang saat menghadapi tekanan. Meskipun mereka tidak dapat luput dari perapian yang menyala-nyala, namun api tidak berkuasa menyentuh mereka. Kuncinya adalah:
(1). Mereka tidak mau membungkukkan diri mereka (They didn’t bow)

Dan. 3:17  Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;

Di hadapan raja Nebukadnezar, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak segan-segan menyatakan siapa diri mereka dan kepada siapa mereka menyembah. Mereka tidak mau menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya, yaitu sebagai anak-anak Tuhan. Pemikiran raja Nebukadnezar keliru, ia mengira semua orang Yahudi yang dibuang ke Babel pada masa itu, termasuk Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, adalah orang-orang yang dihukum oleh Tuhan akibat pelanggaran mereka, yaitu meninggalkan Tuhan. Kenyataannya memang demikian, namun dari sekian banyak orang Yahudi yang dibuang ke Babel, masih ada segelintir orang yang tetap setia kepada Tuhannya. Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego bukan hanya masih setia kepada Tuhan, tetapi mereka bahkan dikenal sebagai orang-orang yang tidak mau menajiskan dirinya terhadap segala hal yang tidak berkenan di kerajaan Babel.

Hari-hari ini banyak orang percaya merasa sungkan untuk mengakui identitas diri mereka sebagai anak-anak Tuhan di hadapan orang banyak karena kuatir akan kehilangan jabatan, bahkan tidak segan-segan berkompromi untuk melakukan apa saja demi mendapatkan posisi yang mereka perlukan. Pula tidak jarang mereka rela menyembah kepada allah lain demi menyenangkan orang-orang yang dianggap berkuasa atas mereka. Sebaliknya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tetap berdiri teguh untuk tidak mau mengkhianati Tuhannya sekalipun terancam kehilangan jabatan bahkan nyawanya.  Lebih luar biasa lagi, mereka mengatakan kepada raja Nebukadnezar, bahwa sekalipun Tuhan mereka tidak menolong mereka, namun mereka tetap tidak akan menyembah patung emas yang didirikan sang raja. Hari-hari ini dibutuhkan bukan hanya pribadi-pribadi yang tidak mau berkompromi saja, tetapi juga yang berani menyatakan suara Tuhan kepada dunia.

(2). Mereka tidak mau membelokkan hukum Tuhan (They didn’t bend)

Dan. 3:18  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah tiga sekawan bersama-sama dengan Daniel yang selalu bahu membahu di dalam berbagai tantangan yang mereka hadapi. Sebagai anak-anak muda yang dipilih raja untuk duduk di posisi-posisi penting di kerajaan Babel sangatlah tidak mudah untuk melaksanakan peraturan kerajaan Babel bersama-sama dengan ketaatan mereka dalam menjalankan hukum Tuhan. Sangat mungkin terjadi benturan-benturan yang harus mereka hadapi dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Sebagai pejabat-pejabat muda di kerajaan Babel tentunya mereka tidak dapat lepas dari adat istiadat dan kebudayaan Babel dimana mereka sebenarnya memiliki kesempaan untuk menikmati segala bentuk upeti, hiburan, serta santapan dan minuman yang disuguhkan kepada mereka, tanpa ada larangan dari siapapun. Namun, luar biasanya, ketika kebebasan bertemu dengan ketaatan akan hukum Tuhan, mereka justru memilih untuk tunduk kepada Tuhan mereka. Beberapa ayat dalam kitab Daniel menyatakan bahwa mereka tidak mau menajiskan diri mereka dengan santapan dan minuman raja.

(3). Mereka tidak terbakar (They weren’t burn)

Dan. 3:27  Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.

Banyak doa yang dipanjatkan orang percaya berisi permohonan kepada Tuhan untuk meluputkan dan menghindarkan mereka dari segala masalah dan pencobaan. Namun tidak sedikit yang menjadi kecewa kepada Tuhan, ketika mereka akhirnya harus tetap masuk ke dalam masalah dan pencobaan yang mereka takuti. Kalau saja kita mengerti maksud dan kehendak Tuhan, seharusnya kekecewaan itu tidak mesti terjadi. Ada kalanya Tuhan ijinkan masalah dan pencobaan datang menerpa umat-Nya dengan satu tujuan, yaitu agar setiap lutut bertelut dan lidah mengaku bahwa betapa dahsyat dan luar biasanya Tuhan Yesus yang kita sembah dalam menolong umat-Nya.

Karena ketaatannya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego akhirnya harus rela dimasukkan ke dalam perapian yang panasnya telah dinaikkan berkali lipat oleh raja. Sepertinya Tuhan tidak menolong mereka. Namun bagi orang yang terkoneksi dengan Tuhan, hal itu bukanlah sesuatu yang menakutkan. Terbukti, ketika raja melihat bahwa bukan tiga orang yang ada di dalam perapian, melainkan empat, maka mengertilah raja, bahwa ada Tuhan yang menolong, menyelamatkan, dan menyertai umat-umat kesayangan-Nya.

Mari umat Tuhan, meskipun kita telah diberikan pesan oleh Tuhan, bahwa iblis sedang menaikkan “temperatur” tekanan terhadap gereja dan umat-Nya, hal itu janganlah membuat kita menjadi takut. Apabila kita tidak mau membungkukkan badan terhadap keinginan musuh, tidak mau membelokkan hukum Tuhan, maka percayalah bahwa kita tidak akan pernah terbakar. Tetaplah terkoneksi dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

15 September 2013 – Terkoneksi Di Tengah Nyala Api

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>