“Mengikuti instruksi Tuhan (Following God’s Instructions)” / Kemenangan  Bag. 2

Yosua 3:4  hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya–maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.”

Inilah perkataan Tuhan yang disampaikan Yosua kepada bangsa Israel ketika mereka hendak menyeberang sungai Yordan. Ada arahan dan instruksi-instruksi yang diberikan kepada seluruh rombongan, mulai dari tabut Allah yang harus dibawa oleh para imam suku Lewi, dimana harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta antara imam pembawa tabut dengan orang-orang yang mengikutinya dari belakang. Mereka semua juga diperintahkan untuk menguduskan diri mereka terlebih dahulu sebelum bergerak menyeberangi sungai. Pada saat mereka mulai berjalan untuk menyeberangi sungai keesokan harinya, para imamlah yang diperintahkan lebih dahulu untuk menjejakkan kakinya ke dalam air, sehingga terbelahlah sungai Yordan.

Instruksi-instruksi yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel tersebut bukanlah bertujuan untuk mempersulit mereka ataupun supaya Tuhan terlihat hebat dengan perintah-perintah-Nya yang sengaja dibuat sulit, sama sekali tidak. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita umat-Nya. Semua arahan dan instruksi yang Ia berikan kepada kita sesungguhnya bertujuan untuk mempermudah kita mencapai tujuan Tuhan. Tuhan tahu jalan terbaik yang harus kita tempuh, dengan maksud agar kita tiba di tempat yang Tuhan kehendaki. Namun, seringkali, yang membuat keadaan menjadi buruk bukanlah perintah Tuhannya yang sulit (1 Yoh. 5:3), melainkan diri kitalah yang acapkali tidak mau  berjalan mengikuti arahan-Nya karena merasa lebih tahu.

Pesan Tuhan bagi kita minggu ini masih berbicara mengenai kemenangan. Tuhan rindu agar setiap kita mengalami kemenangan dan penggenapan dari apa yang Ia janjikan. Sebagaimana Tuhan memberi kemenangan bagi Yosua (lihat Warta Jemaat tgl. 8 Juli 2012), demikian juga Tuhan rindu memberi kemenangan kepada kita. Dan kunci kemenangan yang Tuhan berikan adalah berjalan mengikuti arahan-Nya. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan adalah:

(1). Kerendahan hati
2 Raj. 5:11-12  Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel?

Naaman, seorang panglima raja Aram, merasa sangat direndahkan ketika Nabi Elisa hanya menyuruh bujangnya menyampaikan pesan kepada Naaman untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan. Sebenarnya ini adalah cara Tuhan yang sangat sederhana untuk menyembuhkan Naaman dari kustanya, sehingga dengan demikian kemuliaan Tuhan dinyatakan, Naaman dan seluruh bangsa Aram, termasuk rajanya, akan mengakui bahwa sungguh, bangsa Israel memiliki Allah yang besar dan hidup.

Namun, ternyata, cara Tuhan yang begitu mudah dan sederhana tersebut, terlihat begitu sulit karena fokus Naaman tidak tertuju pada perintah Tuhan melalui nabi Elisa yang menyuruhnya hanya mandi di sungai Yordan, tetapi lebih tertuju kepada harga dirinya yang merasa direndahkan oleh Elisa, yang dianggap tidak menghormatinya. Ay. 11 “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, . . . .  Naaman berharap Elisa keluar dari rumahnya dan menyambutnya sebagaimana layaknya seorang panglima kerajaan Aram biasa disambut. Lalu ia berharap Elisa akan menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakitnya sambil memanggil nama Tuhan. Semua yang dibayangkan dan diharapkan Naaman tidak terjadi. Parahnya lagi, Elisa hanya menyuruh bujangnya mengatakan kepada Naaman untuk mandi di sungai Yordan yang keruh airnya. Padahal, seandainya Naaman langsung taat saja mengikuti instruksi yang disampaikan Tuhan melalui nabi Elisa, maka sesungguhnya kesembuhan yang ia inginkan pasti segera ia dapatkan.

Yosua memberikan respon yang berbeda dengan Naaman saat menerima instruksi Tuhan. Kegalauan dan kegentaran yang dialami Yosua saat melihat derasnya aliran sungai Yordan di musim menuai yang airnya sebak meluap sepanjang tepinya, ternyata tidak membuat ia tawar-menawar mengenai perintah Tuhan. Yosua tidak menolak untuk menyeberangi ataupun menunggu musim menuai berlalu hingga aliran sungai Yordan tidak begitu deras dan mudah untuk diseberangi. Yosua lebih memilih untuk taat dan mengikuti instruksi-instruksi dengan saksama, karena ia tahu benar bahwa apabila Tuhan yang memberi perintah, pastilah Tuhan pula yang akan menyertainya.

(2). Menyadari siapa yang memberi perintah
Luk. 5:5  Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Sepanjang malam sudah Petrus bekerja keras berusaha menangkap ikan, namun tidak berhasil menangkap apa-apa.  Dengan lesu ia kembali ke pantai untuk membasuh dan merapikan kembali jalanya. Pada waktu itu Yesus sedang berada di sana, dan Ia tahu benar apa yang dialami Petrus. Lalu Ia meminta Petrus naik dan menolakkan perahunya lagi ke tempat yang dalam dan menyuruhnya menebarkan jalanya ke tempat yang dimaksud Yesus. Sebenarnya Petrus ragu dan hatinya ingin menolak perintah Yesus, karena ia merasa baru saja melakukannya semalam-malaman dan terbukti tidak mendapatkan hasil apa-apa. Namun, Petrus sadar bahwa perintah untuk menebarkan jala ke tempat yang dalam tersebut datang dari Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, maka tanpa berbantah-bantah lagi, akhirnya ia melakukannya juga. Hasilnya, ia menangkap sejumlah besar ikan, bahkan hingga membuat jalanya mulai koyak, dan dibutuhkan perahu lain untuk membawa hasil tangkapan yang berlimpah tersebut.

Sebagai seorang nelayan berpengalaman yang sejak kecil hidup di tepi pantai, menjala ikan adalah bagian kehidupan yang dijalani Petrus sehari-hari,  bahkan itulah keahliannya. Petrus tahu benar bahwa apabila ia pergi menangkap ikan dan tidak mendapatkan hasil apa-apa, artinya hari itu memang sedang terjadi paceklik ikan. Jadi, ketika Yesus yang dikenal sebagai seorang tukang kayu, memberikan perintah agar Petrus kembali ke air di saat hari telah menjelang siang, maka Petrus yang ahli menangkap ikan itu, bisa saja menolak mentah-mentah instruksi tersebut bahkan mungkin sambil mengolok-olok ketidakmengertian Yesus karena Ia bukan seorang nelayan, melainkan seorang tukang kayu. Namun, karena Petrus menyadari bahwa perintah itu datang bukan dari seorang tukang kayu biasa, melainkan dari Sang Mesias, maka Petrus langsung melakukannya tanpa meragukannya lagi.

Oleh sebab itu, mari umat Tuhan, ketika kita mendengar suatu kebenaran firman Tuhan dan menyadari ada instruksi, perintah atau arahan dari Tuhan untuk kita lakukan, sadarilah bahwa Tuhan sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa atas hidup kita. Bagian kita adalah melakukannya dengan segenap kerendahan hati dan menyadari bahwa Tuhan Yesuslah yang sedang berbicara kepada diri kita pribadi, meskipun pesan tersebut bisa saja disampaikan secara langsung kepada kita ataupun melalui hamba-hamba-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

15 Juli 2012 – “Mengikuti Instruksi Tuhan” / Kemenangan Bag. 2

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>