Mazmur 84:8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
 
Ada perbedaan mencolok antara pelari jarak jauh (maraton) dan pelari jarak dekat (sprint). Pelari jarak jauh tidak akan menghabiskan energinya untuk berlari cepat, karena ia tahu bahwa jarak yang harus ditempuh cukup jauh dan percuma jika ia menghabiskan energinya hanya untuk memimpin di awal perlombaan tetapi akhirnya kehabisan stamina di akhir (atau bahkan tidak mampu mencapai garis akhir). Sementara itu, pelari jarak dekat akan menggunakan seluruh energinya untuk dapat mencapai garis akhir secepat-cepatnya.
 
Tambahan pula, dalam lari jarak dekat “peperangan” masing-masing pelari tampak lebih terasa, dimana mereka berusaha mengungguli satu dengan yang lain supaya menjadi yang tercepat. Sedangkan dalam lari jarak jauh, “peperangannya” bukan semata-mata ditujukan kepada sesama pelari, melainkan lebih kepada diri sendiri, yaitu bagaimana memotivasi diri agar bisa bertahan mengingat masih jauhnya jarak yang harus ditempuh, dan bagaimana seharusnya mengatur ritme setiap gerakan langkah kaki agar tetap teratur dan selaras dengan sisa jarak tempuh. Gagalnya pelari jarak jauh mengatur ritme gerakan kaki mereka memengaruhi kinerja organ tubuh lainnya, seperti jantung, dan sebagainya.
 
Perlombaan lari tipe yang mana yang paling tepat dalam menggambarkan perjalanan hidup orang percaya? Ternyata bukan perlombaan lari jarak dekat, melainkan jarak jauh. Oleh karena itu, penting untuk menjaga dan meningkatkan “stamina rohani” alias iman kita. Seorang pelari jarak jauh mungkin tidak berlari secepat pelari sprinter, tetapi umumnya mereka berlari dengan kecepatan yang konstan dan “mengatur strategi” agar tidak kehabisan stamina sebelum mencapai garis akhir. Itulah juga yang Tuhan ingin kita lakukan. Orang yang selamat bukanlah orang yang semata-mata bertobat kemudian merasa boleh bertindak apa saja sekehendak hati, lalu mudah menjadi kecewa oleh sesuatu hal, dan kemudian menjauh dari Tuhan. Orang yang selamat adalah orang yang mampu memelihara imannya hingga garis akhir (2 Tim 4:7).
 
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan melihat banyak orang percaya yang tidak dapat mengatur “stamina rohaninya” dengan baik. Mereka terlihat begitu bersemangat untuk Tuhan, namun bisa tiba-tiba redup oleh karena sesuatu hal. Atau terlihat begitu bergairah pada Tuhan untuk sesuatu yang disukai, namun dingin ketika tidak ada sesuatu yang menarik hati mereka lagi. Bersemangat ketika “permukaan jalan” begitu mulus, namun kendor ketika banyak rintangan menghadang perjalanannya. “Pelari-pelari” jarak jauh yang demikian sudah pasti tidak akan dapat mencapai garis akhir dengan baik, apalagi memenangkan pertandingannya. Tuhan mau setiap kita, orang percaya, menjadi “atlet-atlet” yang bukan hanya sekedar bisa berlari, namun juga tahu ke mana harus berlari, dan mengatur staminanya dengan baik hingga mencapai garis akhir dan keluar sebagai pemenang.
 
Apa saja yang harus kita perhatikan untuk menjadi “pelari-pelari” yang baik?
 
(1). Mendasarkan perjalanan atas sebuah tujuan yang benar
 
Mazmur 84: 8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
 
Seorang pelari jarak jauh sebelum berlomba biasanya duduk bersama-sama dengan timnya untuk terlebih dahulu mempelajari lokasi tujuan yang akan dicapainya, berapa jumlah sekolah atau tempat-tempat tertentu yang akan dilewati. Semua itu bertujuan untuk menetapkan target-target sementara yang harus dicapai. Tanpa menetapkan target dengan benar, seorang pelari jarak jauh akan kehilangan tujuan dan itu akan melemahkan staminanya.
 
Pemazmur menggambarkan, untuk mencapai Yerusalem, biasanya para peziarah harus melewati sebuah lembah yang biasa disebut dengan Lembah Baka (Valley of weeping/Lembah air mata). Lembah ini terletak di antara Yordan dan Yerusalem. Disebut lembah air mata karena lembah tersebut adalah lembah yang sangat panas, kering, terjal, dan sangat kasar, sehingga siapapun yang melewatinya pasti akan meteteskan air mata karena merasa tidak sanggup untuk keluar dari situ. Di sinilah biasanya kesabaran para peziarah diuji, apakah mereka sungguh-sungguh memiliki hati yang rindu akan hadirat Tuhan di bait-Nya, ataukah hanya sekedar perjalanan ikut-ikutan.
 
Hanya mereka yang berjalan dalam kerinduan yang sungguh-sungguh untuk berjumpa dengan Tuhanlah yang akan mengalami kekuatan pada saat kondisi perjalanan menjadi sukar dan tidak menyenangkan. Namun sebaliknya, mereka yang tujuan perjalanannya ke Yerusalem hanya sekedar untuk berdagang atau melihat-lihat keadaan kota, akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke Yerusalem. Dan biasanya orang-orang yang seperti ini akan memengaruhi orang lain lagi turut membatalkan niatnya ke Yerusalem. 
 
(2). Mendasarkan kekuatan kepada kekuatan dan tuntunan yang tepat
 
Maz. 84:6 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
 
Seorang pelari jarak jauh tidak akan tiba-tiba datang dan ikut berlomba begitu saja. Pelari yang benar akan berlatih mempersiapkan diri di bawah bimbingan seorang instruktur yang teruji. Latihan bersama instruktur bukan hanya bertujuan merancang program dengan melihat kemampuan tapi juga melihat sisi psikologis, kesehatan fisik, bahkan makanan. Agar hasilnya maksimal, instruktur haruslah seorang yang memahami anatomi tubuh. Lagi-lagi, ini diperlukan untuk mencegah terjadinya cedera.
 
Pemazmur menyadari bahwa hanya mereka yang punya visi, tekad dan kesungguhan hati untuk berjumpa dengan Tuhan di Yerusalem saja yang dapat tiba di tempat tujuan, setelah sebelumnya mengarungi sebuah perjalanan panjang bahkan melewati Lembah Baka yang ditakuti banyak orang. Pada masa itu tidak ada alternatif jalan lain yang bisa ditempuh menuju Yerusalem selain melewati Lembah Baka. Sekali seseorang berani melangkah memasuki Lembah Baka, maka ia baru akan menemukan suatu keadaan nyaman setelah tiba di ujung perhentian, yaitu saat memasuki gerbang kota Yesrusalem. 
 
Banyak orang gagal dan terseok-seok dalam pengiringannya kepada Tuhan, karena tidak bersandar pada kekuatan Tuhan. Memang Tuhan tidak menjanjikan keadaan akan selalu sejuk dan nyaman di dalam pengiringan kita kepada-Nya, namun Tuhan menjanjikan kekuatan bagi kita yang mau berjalan dalam tuntunan-Nya. Gagal menyandarkan kekuatan kita kepada Tuhan, mengakibatkan penyesalan yang dalam ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan hati, bahkan cenderung turut melemahkan mereka yang berjalan dalam kesungguhan hati kepada Tuhan.
 
Mari umat Tuhan, kita bukanlah seorang “pelari” jarak pendek yang hanya berlari sekedar mengeluarkan energi besar dan mengandalkan kecepatan semata-mata, melainkan seorang “pelari” jarak jauh. Meskipun kedatangan Kristus tidak lama lagi, namun perjalanan hidup kita tidaklah sesingkat yang kita kira, ada perjalanan panjang yang harus kita selesaikan dengan baik. Oleh sebab itu, pastikan kita berjalan dengan visi yang benar dan terhubung dengan sumber yang benar. Sehingga kita dapat berjalan makin lama makin kuat ke tujuan Tuhan, bukan kuat di awal namun loyo di tengah jalan. Tetap semangat!
 
Tuhan Yesus memberkati!

14 Mei 2017 – Kuat Hingga Mencapai Garis Akhir

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>