Mazmur 119:34 Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.

Hari-hari ini ada satu istilah yang sering digunakan di media, khususnya oleh para yang sedang berseteru, dimana pihak yang satu mengatakan bahwa lawannya mengalami “gagal paham” tentang situasi yang sedang terjadi, demikian pula sebaliknya. Istilah “gagal paham” berarti suatu kegagalan seseorang atau sebuah kelompok dalam menangkap maksud seseorang atau kelompok lainnya. Efek kegagalan memahami maksud orang lain ternyata bisa mengakibatkan dampak yang tidak kecil. Orang bahkan bisa menganggap saudaranya sebagai seteru apabila terjadi saling ketidakmengertian.

Ternyata istilah “gagal paham” ini pun bisa terjadi dalam hubungan orang percaya dengan Tuhannya. Banyak kesalahpahaman terjadi ketika umat Tuhan tidak memahami apa yang sedang Tuhan lakukan di dalam hidupnya. Gagalnya seseorang dalam memahami Tuhan dan rencana-Nya mengakibatkan orang tersebut melakukan sesuatu yang ia anggap penting, namun sebenarnya sama sekali tidak penting di mata Tuhan. Akibat dari semua itu, maka terjadilah “perseteruan” di antara manusia dengan Tuhan, dimana manusia menganggap Tuhan sebagai pribadi yang tidak pernah memahami dirinya.

Daud pernah mengalami hal ini. Ia lupa untuk apa Tuhan mengangkat dirinya sebagai raja bagi bangsa Israel. Padahal dulu, pada waktu ia masih remaja, nabi Samuel pernah mengurapi dirinya dan mengatakan bahwa suatu hari kelak ia akan menjadi raja bagi bangsa Israel, menggantikan Saul. Memang bukan perjalanan yang mudah bagi Daud sampai akhirnya ia sungguh ditahbiskan menjadi raja bagi bangsa Israel. Tuhan punya rencana besar melalui Daud.

Dalam perjalanannya sebagai raja, suatu ketika terjadilah peristiwa “perzinahan terbesar” dimana Daud jatuh dalam dosa perzinahan bersama Batsyeba. Lama Tuhan tidak berbicara kepada Daud setelah hari-hari kejatuhan tersebut. Dan semua ini dipahami secara salah oleh Daud. Daud merasa Tuhan sudah tidak mau berhubungan lagi dengan dirinya. Itulah hari-hari tersulit yang dialami oleh Daud. Ia “gagal paham” terhadap Tuhan yang sebnarnya sangat mengasihi dirinya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Ketika Tuhan mengajak umat-Nya untuk berjalan bersama-Nya dalam keintiman, hal ini seringkali ditanggapi secara salah oleh sebagian orang percaya. Tuhan mengajak umat kesayangan-Nya memahami pentingnya hidup dalam ketertiban, hidup dalam firman Tuhan, dan hidup dalam roh yang berkobar-kobar. Namun sayangnya, banyak umat yang masih “gagal paham” tentang hal ini. Seolah-olah Tuhan dianggap sedang memberikan persyaratan yang terlalu berat. Seandainya saja umat Tuhan mengerti maksud Tuhan yang sesungguhnya.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar memiliki hati yang mengerti, di antaranya adalah:
(1). Menanggapi perintah Tuhan karena ketaatan, bukan keuntungan

Maz.119:36 Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.

Kita hidup di tengah dunia yang memiliki orientasi yang berbeda dengan orientasi Kerajaan Sorga. Dunia memiliki prinsip memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, bagaimanapun caranya, dengan jerih lelah atau pengorbanan sekecil-kecilnya. Ketika prinsip ini dibawa ke dalam kehidupan rohani, maka tanggapan kebanyakan orang percaya ketika diperhadapkan dengan perintah atau pesan Tuhan seringkali tanpa disadari cenderung menerapkan prinsip yang sama, yaitu keuntungan apa yang akan aku terima apabila aku melakukan perintah Tuhan ini. Dan umumnya, ketika merasa tidak ada “laba” yang akan diperoleh secara langsung, maka orang cenderung bersikap biasa-biasa terhadap setiap perintah Tuhan tersebut.

Pemazmur menyadari hal ini ketika ia mencondongkan hatinya terhadap “laba” atau keuntungan jasmaniah semata-mata dalam menanggapi setiap peringatan ataupun perintah Tuhan, maka yang seringkali terjadi adalah kesalahpahaman dengan Tuhan. Tuhan seringkali dianggap sebagai sosok yang kejam dan tidak mengerti akan dirinya. Ketika lama Tuhan tidak berbicara dengan Daud, hal itu dianggap Daud sebagai hukuman Tuhan terhadap dirinya. Daud tidak mengerti, alias gagal paham.

(2). Memfokuskan pandangan terhadap perkara-perkara ilahi, bukan perkara yang hampa

Maz. 119:37 Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!

Cheetah atau macan tutul adalah binatang pemangsa atau predator yang memiliki kecepatan berlari paling tinggi di antara seluruh binatang pemangsa lainnya. Salah satu keunggulan cheetah dalam mengejar mangsanya yang juga dapat berlari dengan kecepatan tinggi adalah fokus pandangan yang hanya kepada satu buruan saja. Ketika cheetah sedang mengincar sekelompok rusa yang sedang berkumpul, maka ia segera “mengunci” pandangannya hanya pada satu ekor rusa saja. Setelah ia mengunci pandangannya, segeralah ia berlari mengejarnya, apapun penghalang yang timbul di dihadapannya, tidaklah ia hiraukan. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, ditangkapnyalah buruannya tersebut. Kuncinya adalah fokus pada tujuan utama.

Daud pernah memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan, yaitu ketika suatu hari pandangan matanya beralih fokus dan tertuju kepada “sesuatu” yang dianggap lebih menyukakan tubuh jasmaninya daripada perkara Ilahi, sehingga ia jatuh dalam dosa. Ketika fokus utamanya bergeser kepada hal-hal yang hampa, maka lepaslah “buruan” utamanya, yaitu Tuhan dan rencana-Nya. Daud gagal paham.

Mari umat Tuhan, sebenarnya banyak hal luar biasa yang Tuhan sudah persiapkan bagi setiap kita. Itulah sebabnya Tuhan menawarkan diri untuk mau berjalan bersama dengan-Nya. Pesan demi pesan diberikan dengan tujuan agar jalinan keintiman dapat senantiasa terbangun sehingga tujuan Tuhan dapat tercapai. Mintalah hati yang mengerti tentang semua rencana Tuhan bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati!

13 November 2016 – Minta Hati Yang Mengerti

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>