Yohanes 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Setiap orang percaya, suatu waktu, mungkin pernah mengalami masa-masa kekeringan dalam kehidupan rohaninya, yang ciri-cirinya antara lain:  doa-doa yang tidak dijawab, penyembahan yang tidak naik menembus langit-langit, lama tidak mendengar suara Tuhan, pengurapan yang hanya sebatas alas kaki, munculnya rasa kuatir, ketersinggungan, mulut yang mulai mengeluarkan perkataan negatif , dan bahkan mengalami kekalahan. Namun, ada juga orang-orang percaya yang mengalami sukacita menikmati lawatan Tuhan, merasa aman dalam tangan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, pengurapan dan pewahyuan yang senantiasa mengalir, dan lain-lain. Semua itu dapat dijelaskan dengan satu kata, yaitu “terhubung”.

Ayat di atas menggambarkan diri kita sebagai sebuah ranting, sedangkan pokok anggurnya adalah Yesus sendiri. Yesus adalah sumber dari segala yang kita perlukan. Supaya sebuah ranting dapat menerima sesuatu dari pokoknya, sehingga ranting dapat tumbuh dengan subur, maka ranting harus senantiasa terhubung dengan pokok anggurnya. Namun apabila ranting tidak terhubung, maka lambat laun ia akan menjadi kering dan akhirnya mati, karena tidak menerima aliran suplai lagi dari sumbernya.

Inilah pesan Tuhan bagi kita minggu ini, yaitu Tuhan mau setiap kita senantiasa terhubung dengan-Nya. Seperti sebuah selang yang dapat menyalurkan air dengan baik apabila selang tersebut terhubung dengan keran. Sebaliknya, tidak ada setetes airpun yang dapat dikeluarkan oleh selang apabila selang itu tidak terhubung dengan kerannya. Padahal, kita mengetahui bahwa betapa bergunanya keberadaan selang yang dapat memancarkan air dengan baik, yaitu dipakai untuk berbagai keperluan yang membutuhkan air. Lagi-lagi Tuhan berbicara tentang “Air sebagai sumber kehidupan”, dan air yang dimaksud adalah Roh Kudus. Untuk menerima dan menyalurkan ‘Air Hidup’ tersebut, kita harus mau senantiasa terhubung dengan Tuhan.

Adalah seseorang yang percaya kepada Tuhan Yesus, namun dalam hidupnya, si pemercaya ini seringkali mengalami kekalahan dalam menghadapi berbagai pencobaan dari si musuh. Kemudian datanglah seorang saudara seiman yang “lebih kuat” dan melihat apa yang terjadi dengan saudaranya yang kerap jatuh tersebut, kemudian untuk sementara waktu ia memutuskan untuk tinggal dan mendampingi saudaranya dari dekat. Di manapun “si lemah” berada, maka saudaranya yang lebih kuat itupun berada. Ia selalu siap sedia menopang ketika si lemah mulai terjatuh, ia juga mengawasi setiap asupan makanan untuk memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang baik, ia juga bahkan kerapkali mengingatkan hal ini dan itu yang harus dilakukan saudaranya supaya tetap kuat. Maka sejak saat itu si lemah tidak pernah terjatuh lagi dari pencobaan, karena ada seorang saudara yang kuat yang selalu melindungi, memberikan kekuatan baginya. Jadi, selama saudara yang kuat ada bersamanya dan mendampinginya, maka si lemah mengalami hidup yang berkemenangan.

Namun pada suatu hari, saudara yang lebih kuat harus segera pergi meninggalkannya. Maka yang terjadi kemudian adalah si lemah yang ditinggalkan saudaranya itu kembali mengalami kekalahan dan kejatuhan. Inilah gambaran yang seringkali dialami oleh banyak orang percaya. Ia menjadi kuat ketika ada saudara seiman yang lebih kuat yang mendampinginya, dari dekat, setiap hari, namun ia menjadi lemah kembali ketika saudara yang kuat itu menjauh dari padanya.

Sosok saudara seiman yang lebih kuat menggambarkan keberadaan seorang manusia yang terbatas keberadaannya yang tidak bisa selalu ada untuk mendampingi, namun ada satu pribadi yang selalu siap menolong, yaitu Yesus Kristus. Ia adalah pribadi Mahahadir yang selalu tersedia setiap saat melalui Roh Kudus-Nya, di manapun dan kapanpun kita membutuhkan-Nya. Intervensi konstan dari Tuhan akan kita alami sejauh kita mau senantiasa terhubung dengan Dia. Kata kuncinya adalah mau terhubung dengan-Nya.

Salah satu sarana yang dapat membuat kita senantiasa terhubung dengan Tuhan, adalah:

(1). Melalui komunikasi doa

Markus 1:35  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Inilah salah satu teladan yang ditinggalkan Yesus, ketika Ia masih berada di bumi, untuk kita ikuti jejaknya. Rahasia keberhasilan Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi bukanlah semata-mata karena Ia adalah Anak Allah, namun karena Ia adalah seorang yang senantiasa membangun hubungan dengan Bapa-Nya di Sorga. Tidak mengherankan apabila pelayanan-Nya penuh dengan berbagai mujizat, karena ketika Yesus terhubung dengan Sorga, Ia mendengar Bapa berkata-kata kepada-Nya, memberi Dia arahan dalam melakukan segala sesuatu, sehingga ketika Yesus melakukan tugas-tugas-Nya sesuai arahan Sang Bapa, maka hasilnya adalah perkara-perkara yang dahsyat. Demikian pula ketika dalam doa Ia melihat Bapa melakukan sesuatu tindakan dan Ia melakukan seperti yang Bapa-Nya lakukan, maka hasilnya adalah lagi-lagi perkara yang dahsyat.

Pohon yang baik dan menghasilkan buah yang baik adalah pohon yang memiliki akar yang menerima asupan air yang cukup dari suatu kedalaman sumber air di dalam tanah. “Kedalaman” berbicara hubungan yang intim yang dijalin seseorang dengan Tuhan lewat komunikasi doa. Semua orang dapat menaikkan doa, tetapi Tuhan mau kita menjadi orang-orang yang mencapai suatu kedalaman doa hingga “akar” dapat mencapai air dan mereguk aliran-aliran air hidup itu.

(2). Dengan tinggal dalam firman-Nya

Yohanes 15:7  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Minggu lalu kita telah mendengar pesan Tuhan bahwa hari-hari ini Tuhan sedang membangkitkan sebuah generasi yang disebut Generasi Profetik. Generasi Profetik adalah generasi yang mampu menyuarakan suara kenabian (pesan Tuhan) di saat orang-orang lebih menyukai suara dunia. Samuel adalah sosok yang dipakai Tuhan sejak kecil untuk berani menyatakan kebenaran di tengah komunitas yang enggan mendengar suara Tuhan. Samuel kecil ternyata sudah terbiasa memberikan “telinganya” untuk mendengar perkataan-perkataan Tuhan. Bagaimana dengan kita?

Mari umat Tuhan, sesungguhnya patutlah kita bersyukur karena hingga saat ini kita hidup di tengah komunitas yang tidak pernah kekurangan akan firman Tuhan, bahkan pesan demi pesan dari Tuhan dapat kita nikmati setiap hari. Yang dibutuhkan adalah seberapa kita rindu untuk senantiasa mau dipenuhi oleh firman Tuhan. Seberapa rindu kita mau terus dipenuhi oleh aliran-aliran Air Roh Kudus yang begitu mudah diperoleh tanpa bayaran dari hadirat-Nya, dan seberapa kita rindu untuk mau senantiasa terhubung dengan Sang Sumber.

Tuhan Yesus memberkati!

 

13 Januari 2013 – Terhubung

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>