Yunus 4:6  Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.

Di tengah kekesalannya kepada Tuhan yang telah menyelamatkan bangsa Niniwe melalui panggilan untuk bertobat yang disampaikan melalui dirinya, Yunus merasa terhibur sekali dengan adanya sebatang pohon jarak yang menudunginya dari terik sinar matahari. Sinar matahari di wilayah Asyur pada waktu itu membuat siapa pun akan merasakan betapa tajamnya sengatan panas matahari yang menyentuh kulitnya. Bersyukur karena kasih Tuhan kepada Yunus yang menumbuhkan sebatang pohon jarak untuk menaungi Yunus, sehingga kekesalan hatinya tidaklah bertambah-tambah. Dan siang itu Yunus bersukacita karena ada sebuah pohon jarak yang melindungi dirinya.

Namun betapa marahnya Yunus kepada Tuhan ketika keesokan harinya ia mendapati bahwa pohon yang diandalkannya dan yang telah melindunginya itu mati karena ada seekor ulat yang menggerek pohon itu, dan dengan kesal hati Yunus akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya saja dari pada mati terpanggang panas matahari. Melalui kejadian ini sebenarnya Tuhan sedang mengajarkan suatu nilai penting yang perlu Yunus pahami. Tuhan bertanya pada Yunus bahwa pantaskah ia bereaksi sedemikan hebat sehingga mau mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah pohon jarak yang tidak ia tumbuhkan namun memberikan keteduhan meski hanya sesaat.

Tuhan mau Yunus mengerti siapakah sesungguhnya yang telah menaungi dirinya selama itu. Bukankah Tuhan sendiri yang telah menyelamatkan Yunus ketika ia dilempar ke laut dari atas sebuah kapal yang ia tumpangi pada waktu ia melarikan diri dari hadapan Tuhan yang memerintahkannya pergi ke Tarsis? Bukankah Tuhan juga yang telah memerintahkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus demi supaya Yunus tidak tenggelam ke dasar laut? Bukankah Tuhan sendiri yang telah memberikan sebuah otoritas dan wibawa ilahi bagi Yunus sehingga seluruh bangsa Niniwe yang ganas itu mau bertobat sebagai respons atas pemberitaannya? Tuhan mau Yunus memahami bahwa ada tangan Tuhan yang kuat yang selama ini telah menaungi dirinya dan memelihara kelangsungan hidupnya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, yaitu agar tidak meletakkan pengharapan kita kepada sesuatu yang salah, yang seringkali tanpa disadari telah memberikan “rasa aman” bagi kita. Tuhan mau kita menyadari bahwa di atas semuanya itu ada tangan Tuhan yang mengatur dan memelihara hidup kita, dan sungguh Ia, Yesus Kristus, layak dijadikan sebagai naungan kita yang sejati. Dan ketika kita menjadikan Dia sebagai naungan yang sesungguhnya, maka ada rasa aman yang luar biasa yang akan kita alami, melebihi rasa aman manapun juga.

Hal-hal apa saja yang seringkali tanpa disadari telah dijadikan sebagai naungan yang salah di dalam kehidupan orang percaya?

(1). Materi

Yun. 4:10  Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

Tuhan menegur Yunus dengan keras karena telah menjadikan pohon jarak sebagai sumber sukacita dan perteduhannya melebihi diri-Nya. Itulah sebabnya, ketika Tuhan bermaksud menempatkan hati Yunus pada posisi yang benar, ia tidak mau menerimanya. Yunus malahan murka sekali kepada Tuhan dengan mengancam akan mati saja karena pohon “naungan” kesayangannya telah digerek ulat atas perintah Tuhan.

Tujuan Tuhan memberikan kecukupan materi kepada kita sebenarnya adalah karena semata-mata bukti janji pemeliharaan dan penyediaan-Nya dalam hidup kita, dan sudah selayaknya pula kita menaikkan syukur atas seberapa yang kita terima disertai suatu kesadaran bahwa kalau bukan karena Tuhan, tidaklah mungkin kita bisa memperoleh dan menikmati semuanya ini. Namun yang menjadi salah di mata Tuhan adalah bukannya menaikkan syukur dan mengecap kebaikan Tuhan, tetapi malah mulai menjadikan hal-hal tersebut sebagai alat andalan dalam hidup kita, dimana seringkali tanpa disadari hal itu mulai menimbulkan rasa aman yang palsu namun dijadikan fokus penting dalam hidup kita melebihi porsi pengejaran kita kepada Tuhan. Lewat pesan ini Tuhan bertanya: “Siapakah yang menjadi naunganmu?”.

(2). Manusia

1 Sam. 27:1  Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: “Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya.”

Setelah berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain menghindari kejaran Saul, akhirnya Daud menemukan tempat yang menurutnya paling aman di mana Saul tidak mungkin dapat mengejarnya lagi, yaitu di negeri orang Filistin. Maka mengabdilah Daud beserta keenam ratus orang yang bersama-sama dengan dia kepada Akhis, raja kota Gat di Filistin. Sejak hari itu, timbullah rasa aman pada diri Daud bahwa Saul sudah tidak dapat mengejarnya lagi. Tapi Daud lupa bahwa sesungguhnya ia sedang mengandalkan manusia sebagai naungannya.

Seringkali rasa aman yang kita alami ternyata bukan karena percaya bahwa ada tangan Tuhan yang memelihara dan melindungi diri kita, melainkan karena ada orang-orang yang tanpa kita sadari telah kita jadikan sebagai “tempat perlindungan” kita. Dan orang-orang tersebut bisa pasangan hidup, orang tua, anak, majikan, karyawan, pelanggan, pemimpin rohani, teman, donatur, pejabat pemerintah, dan lain sebagainya. Sebenarnya, salah satu tujuan keberadaan orang-orang tersebut di dalam kehidupan kita adalah supaya kita dapat berinteraksi satu sama lain dengan harapan dapat mengimpartasikan kasih dan kebaikan Kristus yang telah kita terima, supaya mereka pun dapat turut merasakannya. Namun yang terjadi, seringkali tanpa disadari kita justru telah menjadikan mereka sebagai “naungan” yang lebih penting dibandingkan naungan yang Tuhan lakukan.

Mari umat Tuhan, masih ada banyak hal lain yang seringkali tanpa disadari telah dijadikan  sebagai “naungan” rasa aman yang salah dalam hidup kita. Lewat pesan ini Tuhan mau menempatkan kembali hati kita pada posisi yang seharusnya seperti yang Tuhan kehendaki. Dan ketika kita menempatkan Yesus Kristus sebagai naungan dan sumber segala-galanya bagi kita, maka sesungguhnya di situlah rasa aman yang sejati itu muncul, mengalahkan segala rasa takut dan kuatir kita.

Tuhan Yesus memberkati!

13 April 2014 – Siapakah Yang Menjadi Naunganmu ?

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>