1 Petrus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
 
Rasul Petrus bersyukur bahwa karena kasih dan rahmat dari Tuhan Yesuslah ia bersama-sama orang percaya bisa mengalami kelahiran kembali, sehingga ia yang seharusnya binasa namun boleh hidup kembali. Dan hidup yang dimilikinya sekarang berbeda dengan hidup yang sebelumnya, karena sekarang ia memiliki hidup yang berpengharapan menuju sebuah tujuan Illahi. 
 
Kata “kelahiran kembali” (Yun.: anagennao) memiliki makna yang hampir sama dengan seorang ibu yang melahirkan anaknya, namun dalam hal ini sang anak tidak dikeluarkan dari rahim ibunya, melainkan “lahir dari atas atau dari Tuhan”, yaitu perubahan kehidupan karena iman kepada Yesus dari hidup yang tanpa tujuan, menjadi hidup yang bermakna. Dari hidup yang seharusnya binasa karena pelanggaran dan dosa menjadi hidup yang terkoneksi dengan Tuhan. Kelahiran baru adalah sebuah transformasi rohani.
 
Pada ayat 3 dan 4 terdapat alasan Petrus memuji Tuhan, yaitu karena Tuhan sudah menyelamatkan mereka. Keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita memang harus menyebabkan kita memuji Tuhan. Kita mungkin sering memuji Tuhan ketika mendapatkan berkat jasmani, lulus uijan, atau mendapatkan promosi jabatan, dan sebagainya. Tetapi sukakah kita memuji Tuhan atas kelahiran kembali yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita?
 
Pesan yang Tuhan berikan kepada kita di minggu ini bukan hanya sekedar tentang perlunya mengucap syukur dan memuji Tuhan atas kelahiran baru kita sebagai orang-orang percaya di dalam Kristus, namun sebuah kelahiran yang mengalami pertumbuhan sehingga kita juga menjadi orang-orang yang melahirkan kembali. Apa yang kita lahirkan? Banyak hal! Ingatkah pesan Tuhan minggu lalu tentang bejana-bejana yang harus diisi? Ketika bejana-bejana itu diisi oleh hal-hal yang bernilai, maka dari bejana-bejana yang sama akan “melahirkan” hal-hal yang bernilai pula. Ketika bejana-bejana itu dibiarkan kosong, apatah yang akan dikeluarkan dari padanya?
 
Banyak hal yang seharusnya bisa kita lahirkan kembali, di antaranya adalah:
(1). Benih Ilahi melahirkan kebenaran
 
1 Yoh. 2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.
 
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dari mana kita berasal menentukan kita menjadi orang yang seperti apa. Barangsiapa lahir dari kebenaran atau lahir dari Allah, dia berbuat kebenaran. Benih ilahi ada di dalam dia sehingga dia tidak berbuat dosa lagi (1 Yoh.3:6, 9). Perkataan “tidak berbuat dosa lagi” tidak berarti bahwa orang yang lahir dari Allah tidak bisa berbuat dosa lagi, melainkan tidak bisa terus-menerus berbuat dosa. Dengan kata lain, berbuat dosa bukanlah kebiasaan atau kecenderungan orang yang lahir dari Allah. Sebaliknya, nyata bahwa orang yang tetap berbuat dosa bukan berasal dari Allah, melainkan dari si jahat.  
 
Kain yang membunuh Habel adalah contohnya. Kain membunuh karena ia berasal dari si jahat (1 Yoh.3: 12). Kita bersyukur karena Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya untuk menyucikan kita dari dosa melalui kelahiran kembali. Oleh sebab itu jangan lagi kita disesatkan untuk masuk kembali ke kubangan dosa. Ingat dari mana kita berasal, kita dilahirkan kembali dari benih ilahi. Keseharian hidup kita di mana kita berjumpa dengan banyak orang dapat membuktikan apakah kita lahir (atau bersumber) dari Allah atau dari Iblis, yaitu dengan melihat apakah kita mengasihi mereka atau tidak.
 
(2). Belas kasihan melahirkan tindakan
 
Lukas 7:13  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”
 
Budaya “nonton” hari-hari ini telah membuat hati banyak orang tidak mudah tergerak saat melihat penderitaan orang lain di sekitarnya. Hal ini berlaku pula bagi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Saat di rumah ibadat terdapat seseorang yang mati tangan kanannya, mereka tidak merasa kasihan melihat orang yang sakit itu, bahkan menggunakan hal itu sebagai kesempatan untuk mencari kesalahan Tuhan Yesus. Mereka mengamat-amati apakah Tuhan Yesus akan menyembuhkan orang itu karena hari itu adalah hari Sabat dan mereka beranggapan bahwa “pekerjaan apa pun” (termasuk menyembuhkan orang sakit) tidak boleh dilakukan pada hari Sabat (Luk.6:6-8).
 
Tuhan Yesus bukan hanya merasa kasihan melihat orang yang menderita karena sakit atau diganggu oleh roh-roh jahat. Ia bertindak secara nyata, baik dengan memberi kesembuhan maupun dengan mengusir roh-roh jahat. Jelas sekali bahwa tindakan Tuhan Yesus tidak digerakkan oleh politik pencitraan (sekedar mencari simpati dari orang-orang di sekeliling-Nya), melainkan digerakkan oleh belas kasihan. Hati-Nya juga tergerak oleh belas kasihan saat menyaksikan kesedihan janda yang kehilangan anak tunggalnya, sehingga Ia bertindak membangkitkan anak janda itu dari kematian.
 
Mari umat Tuhan, jelas sekali bahwa apa yang yang ada di dalam “bejana” seseorang akan terlihat melalui tindakan yang dihasilkan, melalui pemikiran-pemikiran yang keluar dari dalam dirinya. Tidaklah mungkin seorang percaya mengeluarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, mari kita mengecek, nilai apakah yang hati-hari ini dilahirkan dari perbendaharaan “bejana” kita?
 
Tuhan Yesus memberkati!

12 Maret 2017 – Melahirkan Kembali

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>