Lukas 5:5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dalam kisah di atas diceritakan bahwa suatu kali Yesus tengah berada di pantai danau Genesaret. Orang banyak mengerumuni Yesus hendak mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus naik ke perahu milik Simon, kemudian menyuruh dia menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Dari atas perahu Yesus duduk lalu mengajar orang banyak. Setelah selesai mengajar, Yesus menyuruh Simon menolakkan perahunya ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan (ay. 4). Namun Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa.” (ay. 5). Tetapi untunglah perkataan Simon tidak berhenti sampai di sini, Ia melanjutkan, “Tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Sebagai seorang berlatar belakang keluarga nelayan, wajar saja bila Simon merasa jauh lebih berpengalaman dalam hal menangkap ikan daripada Yesus yang dianggap orang-orang sebagai anak tukang kayu. Kita bisa membayangkan, kalau seorang yang ahli dalam suatu bidang lalu menyuruh seorang lain yang ahli di bidang yang berbeda, maka biasanya petunjuk orang tersebut tidak terlalu dituruti karena dianggap ia tidak tahu apa-apa mengenai bidang yang bukan menjadi keahliannya itu. Tetapi yang luar biasa, karena sadar bahwa Yesus yang menyuruhnya, maka Simon menuruti saja apa yang diperintahkan kepadanya.

Setelah Simon melakukan perintah Yesus, ternyata ia bersama dengan kawan-kawannya menangkap sejumlah besar ikan sehingga jalanya hampir koyak. Simon memanggil kawan-kawannya yang lain untuk membantunya. Mereka mengisi kedua perahu mereka dengan ikan hingga hampir tenggelam (ay. 7). Simon tentu sama sekali tidak membayangkan peristiwa ini sebelum ia menolakkan perahunya dan menebarkan jalanya ke tempat yang lebih dalam seperti yang diperintahkan Yesus kepadanya.

Ketika seseorang berada dalam keadaan baik, tenang dan tiada masalah kemungkinan lebih mudah baginya untuk taat kepada Tuhan. Berbeda dengan orang-orang yang berada dalam kesulitan, kecewa, putus asa dan kesal hati, mungkin lebih sulit rasanya untuk menjadi taat. Apalagi ditambah ketika mengetahui bahwa perintah yang diberikan kepadanya adalah sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman yang dimilikinya selama ini. Dalam keadaan yang demikian tentunya orang akan lebih mudah tersinggung, dan merasa enggan untuk melakukannya. Namun tidak dengan Petrus. Ia tahu apa yang harus ia lakukan ketika mengetahui bahwa perintah yang didengarnya datang dari Yesus.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Bahwa masih banyak orang percaya yang mendengar firman Tuhan baik lewat kotbah, pengajaran, atau pun melalui pesan-pesan Tuhan yang disampaikan secara pribadi, namun tanpa disadari, firman yang didengarnya seringkali hanya dijadikan sebagai informasi belaka. Padahal sesungguhnya, apabila umat Tuhan berani meresponinya seperti respons Petrus yang bersegera melakukannya dengan tiada bertangguh, maka sebenarnya perkara-perkara luar biasa sudah menanti.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan ini adalah:

(1). Mau merendahkan hati untuk taat kepada perintah Tuhan

Lukas 5:5B … tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Ketaatan Simon kepada perintah Yesus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam membutuhkan kerendahan hati yang luar biasa. Bayangkan, seorang nelayan diperintah oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang yang mumpuni tentang hal menangkap ikan. Belum lagi ditambah dengan isi perintah yang sangat berhubungan dengan dunia penangkapan ikan yang sangat dikuasai oleh Simon. Sebagai seorang nelayan, Petrus merasa jauh lebih tahu tentang seluk beluk menangkap ikan dibandingkan dengan Yesus. Namun segala ketersinggungan dan ketidakmengertian itu segera ditepis oleh Simon yang dengan segera menanggapi perintah yang diberikan oleh Yesus.

Seringkali logikalah yang kita biarkan bermain di dalam meresponi setiap kebenaran firman Tuhan yang kita terima. Ketika Tuhan menyuruh kita untuk jujur, logika kita akan mulai menimbang-nimbang bahwa apabila orang terus-menerus berlaku jujur maka bisa-bisa ia akan mengalami kerugian dalam banyak hal. Akankah kita tetap berlaku jujur? Ketika Tuhan menyuruh kita mengasihi musuh, bahkan membalas kejahatan dengan kebaikan, terkadang logika berpendapat bahwa kalau hal itu diakukan, maka ‘para musuh’ itu pasti akan makin menjadi-jadi hingga akhirnya urung untuk melakukannya. Apakah hal-hal itu akan dijadikan alasan untuk tidak mentaati Firman Tuhan? Seandainya Simon tidak menuruti perintah Yesus, ia tidak akan pernah mendapatkan pengalaman baru yang akan mengubah seluruh hidupnya.

(2). Mau menanggalkan pengalaman masa lalunya

Lukas 5:5A Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, …

Acapkali manusia sering berpegang pada pengalaman masa lalu sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu atau menyelesaikan permasalahan yang ada. Sering pula orang berpikir menurut pengalamannya. Misal, jika seseorang menderita sakit parah dan didiagnosa dokter tak dapat sembuh, maka si penderita dalam waktu dekat pasti akan mati; seseorang yang ekonominya bangkrut tentu tak mungkin dapat bangkit kembali. Ketahuilah, Tuhan tidak membutuhkan pengalaman manusia untuk melakukan suatu perkara, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  (Lukas 1:37).

Sarai yang sudah tua pun sanggup dibuka rahimnya oleh Tuhan sehingga ia dapat memberikan keturunan; wanita yang mengalami pendarahan 12 tahun, yang menurut pengalaman yang sudah-sudah tidak dapat disembuhkan, menjadi sembuh ketika bertemu Yesus saat ia menjamah jumbai jubah-Nya. Jadi, janganlah sekali-kali mengukur segala sesuatu berdasarkan pengalaman kita. Dalam segala hal arahkan mata dan pengharapan sepenuhnya kepada Allah yang hidup dalam nama Tuhan Yesus Kristus yang sanggup melakukan segala sesuatu.

Mari umat Tuhan, bukankah kita rindu untuk mengalami sesuatu dari Tuhan yang dapat mengubah hidup kita? Mungkin ada dari antara kita yang sudah lama rindu untuk mengalami berbagai pemulihan. Mungkin ada juga yang rindu hidupnya diubahkan Tuhan hingga menjadi lebih berarti. Melalui pesan-Nya ini, Tuhan mau kita mengetahui bahwa Ia juga rindu agar kita mau meresponi setiap kebenaran firman yang kita dengar dengan tidak bertangguh.

Tuhan Yesus memberkati!

12 Juni 2016 – Ketaatan yang tidak Bertangguh

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>