Kejadian 6:14-16  Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

Tanggal 17 September 1908, perusahaan galangan kapal berpengalaman Harland and Wolff Shipyard dari kota Belfast, Irlandia Utara, Inggris, mendapat pesanan untuk membuat sebuah kapal laut berukuran raksasa yang nantinya akan digunakan untuk perjalanan jarak jauh, yaitu dari benua Eropa menuju benua Amerika. Dibantu oleh seorang arsitek kelautan ternama pada waktu itu, yaitu Thomas Andrews, maka dibangunlah kapal laut tersebut mengikuti gambar perencanaan (blueprint)  yang dirancang sendiri olehnya. Kapal yang dibuat dengan teknologi canggih dan kemewahan yang luar biasa pada masa itu dan sanggup memuat 2.224 penumpang dan awak kapal itu akhirnya selesai dikerjakan dalam waktu hampir empat tahun dan peluncuran perjalanan perdananya dilakukan pada tanggal 10 April 1912, berangkat dari pelabuhan Southhampton, Inggris, menuju New York, Amerika Serikat.

Sungguh menyedihkan, kapal yang baru saja akan mencetak rekor baru dalam dunia pelayaran tersebut akhirnya harus tenggelam setelah menabrak sebuah gunung es di sebelah selatan Newfoundland, setelah menempuh empat hari perjalanan atau baru menjelajah sekitar enam ratus kilometer dari tempat pelabuhan asalnya. Lebih dari 1.500 orang meninggal akibat kecelakaan tersebut termasuk Thomas Andrews, sang perancangnya sendiri. Itulah perjalanan singkat dan tragis dari kapal terbesar di dunia yang pernah dirancang oleh tangan manusia, bernama Titanic.

Ribuan tahun sebelum peristiwa tenggelamnya Titanic, ada seorang pria yang juga mendapat pesanan untuk membuat sebuah kapal laut berukuran raksasa yang dapat memuat bukan hanya manusia, tetapi juga semua jenis binatang yang ada di dunia secara berpasangan. Pria ini bernama Nuh. Nuh tidak memiliki perusahaan galangan kapal yang luar biasa seperti Harland and Wolff, ia hanya seorang kepala rumah tangga biasa yang hidup benar dan tidak bercela di antara orang-orang sejamannya. Nuh menerima pesanan kapal atau bahtera ini dari Allah yang juga sekaligus bertindak sebagai arsitek atau perancang dari proyek besar ini.

Nuh menerima sebuah “gambar perencanaan” bahtera atau “blueprint” beserta spesifikasi jenis bahan, pembagian ruangan beserta ukuran-ukurannya. Nuh sadar sepenuhnya bahwa sangat tidak mungkin baginya untuk membangun bahtera ini, mengingat pada masa itu tidak ada peralatan canggih seperti yang dimiliki Harland and Wolff, sang pembuat Titanic, namun entah mengapa Allah mau memercayakan proyek raksasa ini kepadanya. Satu hal yang Nuh ketahui adalah bahwa pemesan dan perancang kapal besar ini adalah Allah Bapa yang tidak pernah gagal dan tidak pernah salah di dalam memilih pribadi yang hendak Ia libatkan di dalam proyek besar ini. Maka dikerjakanlah pesanan Allah ini oleh Nuh.

Apa yang dapat kita tangkap dan pelajari melalui pesan yang Tuhan berikan bagi kita ini?

(1). Tuhan sedang merancangkan sebuah pekerjaan besar bagi kita

Kej. 6:17-18  Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, . . .  .

Kalau kita jeli memerhatikan pesan demi pesan yang Tuhan berikan selama beberapa minggu terakhir ini, seharusnya kita segera menyadari apa yang sedang Tuhan hendak lakukan kepada kita. Ia punya sejumlah “proyek” besar yang hendak dipercayakan-Nya kepada kita. Sama ketika Tuhan mau membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Ia melibatkan Musa yang jauh sebelumnya telah Tuhan persiapkan meskipun Musa sendiri tidak menyadari potensi yang ada pada dirinya. Ketika Tuhan mau memercayakan tanah Hebron bagi keturunan Yehuda, maka ditunjuk-Nyalah Kaleb sebagai kepala pelaksana dari proyek besar ini. Sesungguhnya Tuhan sudah mempersiapkan Kaleb jauh hari sebelumnya, yaitu sejak ia ditunjuk sebagai seorang pengintai bersama kesebelas orang lainnya. Dan ketika Tuhan hendak mendesain ulang bumi yang sudah carut marut dengan berbagai kejahatan, Tuhan terlebih dulu memesan sebuah bahtera untuk menyelamatkan mereka yang harus tetap tinggal di bumi dan pembuatan bahtera itu dipercayakan kepada Nuh.

Ada sejumlah “pekerjaan besar” yang Tuhan mau percayakan dalam kehidupan nyata kita hari-hari, entahkah membebaskan anggota keluarga kita dari belenggu perbudakan dosa, belenggu sakit penyakit, belenggu kekecewaan, belenggu kemiskinan, bahkan ada tanah “Hebron” yang sudah jauh sebelumnya Tuhan sediakan ataupun pekerjaan yang lebih besar lagi dari semuanya itu. Namun Tuhan sedang menantikan orang-orang yang mau merespons dan mengeksekusi pekerjaan ini seperti Musa, Kaleb, Nuh dan lain-lain. Nuh bisa saja menghindar dan tidak menanggapi pesanan Allah, namun ia memilih untuk menerima tanggung jawab itu dan berjalan serta bergaul dengan Allah.

(2). Tuhan memiliki rancangan yang berbeda dengan rancangan manusia

Kej. 6:13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

Ketika manusia pada umumnya menikmati situasi dunia yang penuh dengan kejahatan, Tuhan justru memandangnya sebagai sesuatu yang menjijikkan dan berniat untuk mentransformasikannya. Karena sesungguhnya rancangan awal Allah bukanlah seperti itu. Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya dan lewat keturunan-keturunan manusia ciptaan-Nya itu seharusnya bumi dipenuhi oleh kemuliaan Allah. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Oleh sebab itu Tuhan memilih orang yang masih mau berjalan dalam rencana-Nya, yaitu Nuh, untuk dipakai sebagai alat transformasi-Nya. Terbukti, ketika diberikan “gambar perencanaan” bahtera beserta dengan ukuran-ukurannya, Nuh melakukannya tepat seperti yang Tuhan mau. Maka masuklah Nuh beserta keluarga dan semua pasangan binatang-binatang itu ke dalam bahtera dan manakala air bah datang kemudian, maka selamatlah mereka semua.

Umat Tuhan, sejauh manakah kita mau menanggapi dan mempersiapkan diri kita terhadap rancangan Tuhan yang besar atas bumi ini? Semua tergantung kepada keputusan kita hari ini. Mereka yang memilih untuk biasa-biasa saja dan menikmati sistem dunia yang sedang berjalan saat ini akan sulit mengerti ketika Tuhan menyodorkan sebuah “gambar perencanaan” dari proyek besar dimana Tuhan mau melibatkan kita. Namun, saat Tuhan memberikan “gambar perencanaan” kepada orang-orang seperti Nuh, maka orang-orang seperti itulah yang akan dengan mudah terlibat dalam pekerjaan besar Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

11 Mei 2014 – Tuhan Punya Rencana Besar Bagi Kita

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>