Kejadian 37:5-11 (5) Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.

Ada orang-orang yang menjalani kehidupan hanya sekedar untuk bisa memenuhi kebutuhan makan dan minum saja, namun mereka merasa cukup puas dengan hal itu. Ada pula yang bekerja dan berusaha lebih keras untuk bisa mendapatkan bukan hanya sekedar makan dan minum, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan sandang dan papan yang lebih baik. Selain itu, setelah semua hal tersebut terpenuhi, ada pula orang-orang yang mengejar terpenuhinya kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi oleh sesama, termasuk pula kebutuhan untuk bisa diterima keberadaannya oleh banyak orang. Itulah beberapa aspek yang dianggap sebagai pemuas kebutuhan dalam kehidupan yang dikejar manusia pada umumnya.

Namun apakah sebenarnya manusia merasa puas ketika aspek-aspek pemuas kebutuhan tersebut telah terpenuhi dalam hidupnya? Ternyata tidak. Masih ada banyak kebutuhan lain yang ingin dikejar manusia demi untuk memuaskan keberadaannya. Bahkan ada orang-orang yang mengejar aktualisasi diri untuk membuktikan siapakah diri dan kemampuannya. Dalam diri manusia, ada suatu kerinduan yang senantiasa bergelora di dalam dirinya untuk mengejar sesuatu yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Di atas semuanya itu, ada satu hal yang seringkali tidak disadari oleh manusia dalam pengejarannya untuk memuaskan hidupnya, yaitu menghidupi rencana Tuhan. Kematian Yesus di atas kayu salib bukan sekedar bertujuan agar dosa-dosa manusia  diampuni oleh Bapa di surga. Sesungguhnya, setelah Tuhan mengampuni dan menguduskan manusia berdosa oleh kuasa darah-Nya, selanjutnya Tuhan rindu membawa manusia tersebut untuk masuk dan menjalani rancangan-Nya yang luar biasa itu. Tuhan memiliki rencana besar bagi bumi dan segenap isinya, dan untuk itu Ia mau melibatkan manusia dalam penggenapan visi-Nya.

Untuk menyelamatkan Yakub (Israel) dan keturunannya, yang kelak suatu hari menjadi sebuah bangsa yang besar, Tuhan menggunakan seorang anak muda bernama Yusuf. Tuhan menyatakan rencana besar-Nya melalui sebuah mimpi yang dialami Yusuf pada suatu ketika. Bagi Yusuf, yang pada waktu itu baru berusia tujuh belas tahun, bisa saja ia menganggap mimpi yang Tuhan berikan tersebut hanya sebagai bunga tidur yang tidak memiliki arti apa-apa. Namun bagi Yusuf yang dididik oleh seorang ayah bernama Yakub, tentu saja ia mengerti bahwa pesan itu memiliki arti khusus. Sejak itulah Yusuf berusaha untuk menghidupinya, meski tidak mudah untuk menjalaninya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu kedua bulan Januari 2015 ini. Tuhan memiliki rencana besar bagi kota dan bangsa kita. Sebagai gereja-Nya, Tuhan menunjuk kita sebagai alat untuk menggenapi rancangan-Nya melalui sebuah visi di tahun 2015 yang sudah Ia nyatakan sebelumnya. Kita bisa saja membiarkan visi itu berlalu begitu saja tanpa terjadi apa-apa. Dan Tuhan bisa saja menggunakan orang lain lagi untuk menggenapi visi-Nya tersebut. Namun lewat pesan-Nya ini, Ia ingin kita menghidupinya dan mengambil pelajaran dari seorang anak muda bernama Yusuf.

Apa yang Yusuf lakukan ketika ia menerima “mimpi” dari Tuhan?
(1). Menceritakan apa yang diperolehnya

Kej. 37:5 Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.

Dengan penuh antusias Yusuf menceritakan mimpi yang diperolehnya tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya, yaitu kakak-kakaknya dan orangtuanya. Meskipun respons yang diterima kakak-kakaknya tidak seperti yang ia harapkan, namun Yusuf merasa perlu untuk membagikan apa yang ia peroleh dari Tuhan. Meski sebenarnya tidak ada maksud untuk menyombongkan diri tentang mimpi yang diceritakannya, namun bagi kakak-kakaknya hal itu merupakan suatu penghinaan. Dan respons yang serupa Yusuf terima ketika ia menceritakan kembali mengenai  mimpinya yang kedua, bahkan lebih parah karena kali ini ayahnyapun ikut menegurnya.

Ada dua reaksi keras yang Yusuf terima pada waktu ia menceritakan mimpinya, namun apakah ini berarti bahwa mimpinya itu salah? Tidak. Sesuatu yang dari Tuhan, belum tentu harus selalu langsung bisa diterima dengan mudah oleh banyak orang. Ada orang-orang yang memang harus belajar untuk bisa menerima sesuatu yang datang dari Tuhan, meskipun pada awalnya mungkin kurang mengenakkan bagi telinga si pendengar. Yakub, ayahnya, kemudian menyadari bahwa yang disampaikan Yusuf itu benar-benar dari Tuhan, maka kemudian diam-diam ia memberikan respons yang baik dengan menyimpan hal itu dalam hatinya. Tuhan sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu, baik kepada yang menyampaikan, maupun kepada yang menerimanya.

(2). Memercayai lewat sikap dan perbuatan

Kej. 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

Betapa kagetnya Yusuf saat ia mendapati bahwa tanggapan kakak-kakaknya setelah mendengar mimpinya itu ternyata bukanlah rasa syukur karena adiknya suatu hari akan menjadi seorang penguasa, melainkan rasa iri hati yang berujung kepada sebuah dendam dan ingin menghabisi nyawanya. Yusuf akhirnya dibuang ke dalam sumur, kemudian dijual kepada pedagang Ismael yang menjualnya kembali kepada seorang kepala pengawal raja Mesir, bernama Potifar. Meskipun menjalani kehidupan yang demikian bertolak belakang dengan apa yang Tuhan janjikan, Yusuf tetap percaya dengan mimpi yang telah ia terima dari Tuhan. Hal itu ditunjukkannya dengan bersikap baik dan jujur dalam pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Bahkan ketika cobaan datang melalui isteri Potifar, rasa takut akan Tuhanlah yang membuatnya dapat melewatinya.

Sesuatu yang luar biasa yang Tuhan janjikan seringkali bertolak belakang dengan kenyataan yang dihadapi. Namun ada kalanya ini justru merupakan cara Tuhan untuk mengajar dan mempersiapkan kita untuk menerima penggenapan janji-Nya. Tidak digenapinya suatu janji dalam diri seseorang bukan karena Tuhan mengingkari janji-Nya, namun seringkali disebabkan karena orang itu tidak siap untuk menerimanya. Yusuf percaya akan apa yang Tuhan janjikan, namun ia tidak mau mengabaikan janji itu hingga batal begitu saja hanya karena ia meresponinya dengan cara bersikap yang salah.

Mari umat Tuhan, masih banyak hal lain lagi yang dapat kita pelajari dari pribadi bernama Yusuf ini. Sebuah mimpi dari Tuhan, yang awalnya diresponi sebagian orang sebagai suatu penghinaan, namun ketika ditanggapi dengan tepat oleh Yusuf melalui perkataan dan perbuatan yang benar, membuat ia suatu hari kemudian duduk sebagai orang nomor dua di Mesir, bahkan di dunia pada waktu itu, sebagai wujud penggenapan mimpi yang Tuhan nyatakan tiga belas tahun sebelumnya.

Tuhan Yesus memberkati!

11 Januari 2015 – Menghidupi Mimpi (Visi Tuhan)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>