Yohanes 4:14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Banyak orang percaya yang masih seringkali jatuh bangun ke dalam berbagai pelanggaran yang sebenarnya sudah mereka ketahui benar bahwa hal itu tidak berkenan untuk dilakukan, namun secepat mereka menyesali perbuatannya, maka secepat itu pula mereka melakukan perbuatan salah itu lagi. Ada pula orang yang rindu untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan, namun kemudian hanya berhenti sampai pada tahap kerinduan saja, tetapi tidak punya daya upaya lebih besar untuk melakukan kehendak Tuhan. Tuhan mau setiap orang percaya mengalami kemerdekaan dari hal-hal tersebut dengan tujuan agar umat Tuhan mudah menjadi pelaksana-pelaksana rencana Kerajaan Sorga di bumi ini.

Alkitab mencatat, ada seorang wanita yang terus menerus melakukan hal salah yang sama berulang kali tanpa berkuasa untuk merubahnya, padahal ia menyadari bahwa apa yang diperbuatnya tersebut tidak benar, namun sepertinya ia tidak berdaya. Wanita ini dikenal dengan sebutan “perempuan dari Samaria’. Telah sekian lama perempuan ini menjalani kehidupan rumah tangga yang kurang baik, Ia telah menikah dan bergonti-ganti pasangan sebanyak lima kali, bahkan pria keenam yang tinggal bersamanya saat itupun sebenarnya bukan suaminya yang sah. Suatu perjalanan hidup yang tidak mudah dialami perempuan Samaria ini. Ada kepuasan yang ia dambakan, namun kepuasan itu tidak kunjung ia dapatkan. Ia berpikir kepuasan hidup akan ia alami apabila ia menikahi seorang pria, namun setelah bergonta-ganti pasangan sampai enam kali sekalipun ternyata tidak bisa memuaskan keinduannya hingga akhirnya pada suatu tengah hari ia berjumpa dengan Yesus di sebuah tempat dekat sumur Yakub.

Yesus yang mengetahui duduk persoalan yang dialami perempuan ini segera memberikan solusi kepadanya. Yesus menjelaskan bahwa ada dua jenis air, pertama, air yang berasal dari sumur Yakub yang hanya bisa memberikan kepuasan sesaat, dan itupun terbatas hanya pada kepuasan jasmani saja, dan tentu saja tidak bisa memuaskan rasa haus sesungguhnya seperti yang ia rindukan. Jenis air kedua, yang ditawarkan Yesus, adalah “air” yang berasal dari diri pribadi-Nya sendiri, yang diterima melalui jalinan hubungan, keterbukaan, dan hati yang percaya, yaitu jenis “air” yang mampu memberikan kepuasan rohani jasmani sampai kepada hidup yang kekal, seperti yang dirindukan oleh perempuan Samaria itu.

Yesus menjelaskan kepada perempuan itu bahwa rasa hausnya tidak bisa terpuaskan, terbukti dengan tindakannya yang terus berganti suami dengan harapan bisa mendapatkan kepuasan kasih yang sejati, disebabkan karena ia meminum air dari sumber yang salah. Perempuan itu sesungguhnya membutuhkan “air murni” dari sumber yang benar seperti yang Yesus tawarkan. Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Pada Tuhan Yesus sesungguhnya tersedia suatu sumber air murni sejati yang dibutuhkan oleh setiap manusia di bumi ini, termasuk kita orang percaya. Namun sayangnya, masih banyak orang mencoba meminum air dari sumber lain yang mereka pikir akan dapat memuaskan hidup mereka.

Apa yang membuat rasa haus perempuan ini akhirnya terpuaskan?

(1). Memilih dan mendapatkan sumber air yang benar

Yoh. 4:10  Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Percakapan dalam kisah ini dimulai ketika Yesus meminta air dari sumur Yakub yang ditimba oleh perempuan Samaria tersebut. Awalnya perempuan ini menolak memberi Yesus air karena ia mengetahui bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, dan pada waktu itu, menurut kebiasaan yang ada, orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria. Namun Yesus berkata, sekiranya saja wanita ini memahami tentang karunia Allah, mestinya ia mengetahui dengan siapa ia sedang berbicara. Dan seandainya ia tahu dengan siapa ia sedang berbicara, maka pastilah ia akan meminta ‘air hidup’ itu kepada-Nya. Dan terjadilah, bahwa tidak lama kemudian perempuan Samaria ini mengenali siapa Yesus dan meminta ‘air hidup’ kepada-Nya.

Tidak terlalu banyak ayat dimana Yesus berbicara secara spesifik tentang karunia Allah seperti surat-surat yang ditulis rasul Paulus. Seringkali umat Tuhan terlalu menyombongkan diri bahwa ia memiliki karunia ini dan itu seakan-akan ia paling hebat di antara semua orang. Dalam perikop ini, meski sederhana namun dengan tegas Yesus menjelaskan tentang apakah karunia Allah itu. Sekiranya orang mengaku memiliki karunia Allah, maka pertama-tama orang itu harus bisa mengenali manakah Yesus dan manakah yang bukan Yesus, manakah perkataan yang berasal dari Firman Tuhan dan manakah yang berasal dari si jahat, manakah yang disebut gereja Tuhan dan manakah yang bukan, apakah yang disebut bersekutu dalam ibadah dan apakah yang bukan, dan manakah sumber air hidup dan manakah “sumur Yakub”. Meskipun perempuan Samaria ini masih seorang pemula, namun ia telah mampu mengenali sumber air yang benar.

(2). Menemukan dan menikmati air kehidupan

Yoh. 4:15  Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Telah sekian lama perempuan Samaria ini berjuang untuk mendapatkan air hidup yang dapat menyegarkan jiwanya yang telah begitu lelah mencoba dengan berbagai cara yang salah tanpa membuahkan hasil. Namun, ketika ia mengetahui bahwa air hidup itu ada pada Yesus, maka ia tidak menyia-nyiakannya. Ia segera membuka hati untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Mesias yang hidup, dan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya pokok penyembahan dalam kehidupannya.

Adalah kebiasaan bangsa Samaria untuk menyembah allahnya di atas gunung, karena mereka menyangka bahwa allah mereka hanya diam di atas gunung-gunung atau di tempat-tempat tertentu. Namun, sejak ia mengenal Yesus sebagai Allah yag hidup, ia memutuskan untuk menjadi penyembah yang benar dari Allah yang benar. Karena Yesus berkata bahwa penyembah yang benar akan menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran maka berdasarkan hal itu perempuan Samaria tersebut menikmati aliran-aliran air hidup, karena ‘air’ yang Yesus berikan sudah menjadi mata air di dalam dirinya yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

(3). Menikmati dan membagikan air yang telah ia dapatkan

Yoh. 4:39  Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

Ketika perempuan ini mendapatkan Yesus sebagai ‘sumber air kehidupan’ yang sejati dan ditambah pula bahwa ia telah menikmati ‘air’ yang selama ini ia dambakan di dalam hidupnya, maka sulit baginya apabila ia hanya memendam semua itu bagi dirinya sendiri saja. Ada gairah yang menggelora muncul dari dalam hatinya yang tidak dapat tertahankan untuk segera mengalirkan kembali ‘air kehidupan’ itu kepada banyak orang. Dari seorang wanita tertutup yang dikucilkan oleh komunitasnya, yang kemudian menerima sang Mesias yang adalah sumber air kehidupan di dalam hidupnya, maka kemudian, tanpa memperdulikan latar belakangnya yang kelam, ia tampil sebagai ciptaan yang baru, siap untuk menjadi alat dan saluran bagi Kerajaan Sorga. Kepuasan yang ia peroleh kini bukan lagi sebatas kepuasan seperti pertama kali ia menemukan ‘air hidup’ tersebut, karena kemudian ia sendiri tampil menjadi penyalur dari ‘air murni’ yang sudah menjadi mata air di dalam dirinya.

Tuhan Yesus memberkati!

11 Agustus 2013 – Minumlah Air Yang Murni (Membuat Pilihan Yang Benar Bag. 7)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>